BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 23. Flower Bouquets 2


__ADS_3

Aku tak berani berharap jika kau tidak memaafkanku. Orang yang harusnya kulindungi berakhir hampir jadi subjek penelitian, itu tak termaafkan."


"Kenapa kau harus melindungiku? kau bermain teka-teki denganku." Dia benar-benar membuatku penasaran dimana kami pernah bertemu.


"Karena kau pernah melindungiku." Dia bermain teka-teki lagi, aku melindunginya, bagaimana mungkin, bertemu saja kami tak pernah. "Seperti kataku, bunga-bunga itu hanya untuk minta maaf padamu. Jika kau belum bisa memaafkan aku tak memaksa." Dia melanjutkan kata-katanya dengan sungguh-sungguh dan membuatku sesaat tahu antara dia mau menipuku atau dia benar-benar mengatakan kebenaran.


Russian ini bicara aku orang yang sangat penting baginya. Ini nampaknya hanya akal-akalannya.


"Kau bisa mendapatkan wanita lain tapi tidak aku. Berhentilah berusaha terlalu keras."


"Terserah apa katamu Svetluny." Svetluny, kadang dia menuliskan kata aneh itu di kartunya, aku sama sekali tak mengerti apa artinya.


"Apa itu Svetluny?"


"Itu bahasa Rusia, Moonlight. Anggap saja saat pertama kali kita bertemu, kau adalah sinar penerang pertamaku. Dan itu bukan karena kau cantik, aku sudah terlalu terbiasa dengan wanita cantik." Aku tertawa. Bangsat ini terlalu licik dan kata-katanya beracun. Berapa banyak wanita yang sudah dipuji hingga melayang olehnya.


"Moonlight, Svetluny? menggelikan mungkin blonde di sampingmu itu adalah Sunlight. Harusnya kau menamainya Moonlight, dia punya rambut yang bersinar." Aku meringis sendiri dengan kata-kataku, membayangkan blonde cantik di sampingnya bersinar bagai matahari.


"Namanya Anna Winslow, dia PhD Ekonomi Princeton, cum laude, aku menganggap otaknya lebih berguna dari tubuhnya, dia bukan assisten seperti yang kau pikirkan. Tapi semua golddigger bisa ditangani olehnya. Gajinya besar tentu saja. Jika kau bertemu dengannya sihlakan kau tanya apa aku pernah menyentuhnya." Dia langsung menjawab semua tuduhanku. Nampaknya dia bersungguh-sungguh kali ini, ada nada marah terselip di nada suaranya.


"Kau marah aku menyinggung assistenmu."


"Aku hanya meluruskan pikiranmu Svetluny. Anna membantuku di banyak hal, tapi kita tidak punya hubungan romantis seperti yang kau pikirkan. Jika kau tak percaya kau bisa bicara dengannya."

__ADS_1


"Aku tak punya waktu bicara dengannya."


"Terserah padamu, itu hanya caraku membuktikan bahwa apa yang kukatakan benar."


"Aku tak tertarik membuktikannya." Dia diam sebentar.


"Aku harus pergi ada yang harus kutangani. Jika kau ingin bicara atau meminta bantuan telepon saja. Kau tahu dimana mencariku." Sekarang dia malah yang ingin memutuskan pembicaraan.


Kenapa aku harus minta bantuannya.


"Hentikan bunga itu." Itu satu-satunya pemintaanku.


"Makan sianglah denganku." Dia tertawa kecil dan menutup teleponnya. Dia mengabaikan permintaanku sekarang.


\=\=\=\=\=\=\=\=


Dua minggu kemudian. Bunga itu masih berlanjut, sampai kakakku sendiri heran kenapa dia begitu konsisten.


"Dia masih mengirim bunga untukmu. Sungguh penggemar yang istimewa. " Eliza sampai mengaguminya.


Aku mengabaikannya. Sampai titik tertentu juga dia akan berhenti kupikir. Biarkan saja, tapi aku bertahan tak ingin menemuinya.


Tapi ternyata tak bisa begitu.

__ADS_1


"Senang bertemu denganmu." Suara ini membuatku menoleh. Sosok Alexsey di makan malam kolega partai itu membuatku menyesal mengantikan Eliza yang sedang pergi ke Washington DC.


Sosoknya dengan jas gelap dan suara yang setenang es itu muncul di belakangku. Entah kenapa belakangan aku sedikit takut dengan konsistensinya. Dia masih mengirim bunga tiap akhir pekan, sampai kapan...aku kadang bertanya.


"Kau ..."


"Ini aku. Maaf kalau menganggumu. Aku tak bisa bertahan untuk tak menyapamu jika melihatmu. Bagaimana kabarmu..." Alexsey dengan senyumnya.


"Baik." Aku menjawab pendek. Dia senang sekali memakai baju gelap, mafia rusia yang menakutkan dengan baju gelapnya. Entah kenapa embel-embel Rusianya itu terasa sedikit menakutkan. Tapi kakak bilang keluarganya bukan mafia, tapi oligarki yang ada hubungannya dengan militer. Sama saja rasanya seperti dia punya akses ke KGB yang lebih mengerikan.


"Blondemu tidak ikut?" Aku lebih suka ada blonde itu disampingnya sekarang.


"Anna? Ada, dia sedang bicara dengan Tuan Bessette kurasa tadi. Kenapa kau mau bicara dengannya?" Walaupun begitu nada suaranya lembut. Matanya menatapku dengan perhatian sehingga aku bertanya bagaimana orang mengerikan ini bisa bicara begitu lembut. "Kau sendiri? Dimana Eliza?"


"Dia tidak bisa ikut."


"Kenapa gadis secantikmu tidak ada yang menemani? Kau tidak punya pacar?"


"Orang-orang takut tertular infeksi olehku karena aku survivor infected, kau tidak takut?"


"Kau serius dengan kata-katamu?" Dia tidak percaya rupanya orang-orang menjauhiku karena mereka takut terinfeksi kembali.


"Tentu saja aku serius."

__ADS_1


"Ohh begitu. Tidak setahuku itu tidak menular pada survivor, lagipula itu bisa diobati. Sebelumnya kau pasti punya kekasih, dia juga pergi meninggalkanmu." Dia mengingatkanku pada Markus. Aku hanya tersenyum sedih.


__ADS_2