
Aku masuk kerja seperti biasa keesokan harinya. Aku tak apa, tapi kejadian memalukan itu membuatku tak ingin muncul di acara partai sementara waktu. Berita aku menerima serangan panik pasti akan menjadi berita yang banyak dibicarakannya dan semua orang akan menganggapku sebagai pesakitan yang harus dijauhi.
Aku gadis cantik. Tapi aku terkutuk sebagai survivor infected dan punya kelainan mental. Label itu akan muncul setiap orang melihatku.
"Bagaimana kabarmu." Aku sedang makan siang di restoran dekat butik keesokan harinya, ketika Alexsey tiba-tiba muncul di depanku. Bagaimana dia bisa muncul di sini, apa dia mengikutiku.
"Kenapa kau ada di sini?"
"Aku hanya ingin melihatmu. Memastikan kau baik-baik saja. Senang melihatmu sudah bekerja kembali."
"Itu hanya serangan panik. Aku pernah di kondisi hidup dan mati, mungkin pernah mati karena parasit itu. Semua itu meninggalkan sisa. Kenapa kau bisa tahu aku ada di sini? Kau punya orang mengikutiku?" Dia diam sesaat dengan pertanyaanku.
"Aku pernah melihatmu makan di sini. Jadi aku mencoba keberuntunganku lewat sini. Boĺeh aku duduk?" Aku tak percaya jawabannya, mungkin dia punya semacam orang yang disuruhnya menyelidikiku. Kenapa sampai bertindak begitu jauh, apa alasannya.
Baiklah. Sekarang aku ingin mendengar dimana kami pernah bertemu. Anggap saja ini untuk buket bunganya yang dikirim tiga bulan penuh itu.
"Kenapa aku tak percaya jawabanmu, karena kau sudah di sini, duduklah. Kau mau makan?" Dia nampaknya senang aku menyuruhnya duduk, senyum kecil timbul di bibirnya saat dia membuka buku menu.
__ADS_1
Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk antara ingin mengusirnya dan merasa ini lucu, tak masuk akal, kenapa dia harus berusaha sekeras ini hanya karena dia penasaran padaku.
"Kau senang sekali dengan hanya di suruh duduk." Aku tertawa didepannya sekarang.
"Ini adalah kemajuan negosiasi, biasanya bicara lima menitpun kau tak mau." Aku meringis dan dia tetap pada senyum senangnya.
"Kau memang berlebihan."
"Iya kadang aku juga berpikir begitu, bukan kau saja."
"Dasar perayu, sekarang katakan padaku di mana kita bertemu." Langsung saja kukeluarkan pertanyaan utamanya.
"Jelas saja, aku tak suka basa-basi denganmu. Kecuali kau berbohong kita pernah bertemu."
"Baiklah. Kita tak basa-basi. Dimana kita bertemu, sudah lama, mungkin 20 tahun yang lalu." Keningku langsung berkerut, 20 tahun yang lalu?
"Kau bercanda, 20 tahun yang lalu umurku 9 tahun."
__ADS_1
"Iya, dan aku saat itu 14 tahun." Wajahnya serius, nampaknya dia tak berbohong, kurasa aku tak punya teman yang berbeda 5 tahun dariku saat umurku 9 tahun.
"Dimana? Kenapa aku tak bisa ingat siapa kau?"
"Kau tak mengenalku, jika kau ingat aku pernah berkata namaku Oomnitsa saat itu?"
"Oomnitsa...?" Nama yang aneh, mungkin nama Rusia, dimana aku pernah mendengar itu, mungkin pernah, tapi yang mana?
"Kau tak bisa mengingatnya?" Dia melihat wajah binggungku.
"Tidak." Aku menggeleng. "Aku benar tak ingat, lagipula siapa yang bisa mengingat banyak hal dari umur lima tahun? Jadi dimana kita pernah bertemu." Aku menunggu dengan penasaran jawabannya.
"Saat itu, kau memukul empat orang teman sekelasku yang mengeroyokku. Kau adalah gadis kecil yang melawan empat orang remaja dengan berbekal kayu panjang dan berkali-kali didorong mereka hingga jatuh ke tanah. Tapi kau terus maju dengan berani..." Sekelebat bayangan langsung muncul dibenakku. Aku masih ingat, anak kotor dengan jaket robek dan rambut acak-acakan itu. Benar, dia yang punya nama aneh itu... aku sudah melupakan dimana aku pernah mendengar nama aneh itu, sudah sangat lama berlalu tapi aku masih ingat kejadian itu.
"Itu kau...?"
"Itu aku."
__ADS_1
Sekarang aku tahu dimana kami bertemu.