BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 83. Someone From The Past


__ADS_3

Dua bulan belakangan cukup menyenangkan. Punya kekasih itu memang menyenangkan. Dan dia kekasih yang romantis dan perhatian. Walaupun dia juga tidak memperlihatkannya secara terang-terangan karena dia adalah pimpinan.


Dan dengan semangkin luasnya penyisiran pasukan infantri, kami berhasil menjadikan banyak daerah menjadi zona hijau dan lebih banyak populasi manusia di Hot Spring. Kudengar kota ini dan di atas sudah menampung 25.000 penduduk. Itu cukup banyak, seperti populasi kota kecil yang normal.


"Kita kekurangan makanan kurasa, pertanian tidak secepat perkembangan populasi. Laki-laki banyak di minta berburu. Walaupun ada kiriman makanan dari kota-kota yang kita sisir, tapi cukup mengkhawatirkan. Lahan sudah besar tapi panen kadang berhasil kadang tidak... belum maksimal. Untungnya kepala koki kita cukup terampil. Kalau tidak kita akan makan sarden hasil mengemis dan bertukar dari kota pesisir."


Kota di bagian pesisir utara tidak begitu besar banyak terkena impact, tidak seperti bagian tengah yang cukup banyak zona hitam.


"Kurasa makanan cukup enak. Walaupun ya seperti yang kau bilang, kadang aku tak tahu apa yang aku makan. Tapi yang penting dimasak dengan baik." Mungkin itu daging kelinci, rusa atau banteng liar sekalipun asal dimasak dengan baik bisa diterima. Tak ada pilihan makanan kau memang harus menerima apapun. Yang mengembirakan adalah jarang sekali kasus baru kecuali tergigit karena tak ada yang berani makan daging mentah atau setengah matang sekarang.


"Musim panen besar sebentar lagi, kita harus mempersiapkam musim dingin. Di distrik ini sudah ada 25 kota aman, akan saling support nanti." Sekarang kami harus mempertahankan populasi agar tidak mati kelaparan. Setiap hari kami saling berkomunikasi."


Zona aman meluas diameternya. Beberapa penduduk bahkan ada yang menempati rumah lamanya. Hot Spring masih meluas dan berkembang. Walaupun Andrew nampaknya sangat memeras otak. Tapi semuanya tampak bersemangat membantunya. Semoga semuanya baik-baik saja.


"Perawat Jen, apa kabarmu." Aku berjumpa dengan Bella lagi sore itu. Suprise yang tak kuduga sekarang.


"Bella, apa kabarmu?" Aku memeluknya. "Bagaimana keadaanmu di sini." Aku langsung menyapanya.


"Aku jauh lebih baik kurasa. Makanan di sini jauh lebih baik. Walaupun sederhana. Aku bekerja di pertanian, maaf aku baru mengunjungimu sekarang, belakangan kami sangat sibuk menangani panen. Sudah awal musim gugur. Dan ada rumah kaca, dimana kami menanam makanan untuk musim dingin."


"Kalian pasti bekerja keras?"


"Semua orang bekerja keras, asal kami bisa makan, kalian dipuji karena menyediakan dukungan kesehatan yang baik bagi kami. Kalian banyak dipuji, kalian bahkan menyediakan jasa konsultasi gratis. Itu sangat murah hati. Kalian malaikat penyelamat di sini." Aku tersenyum atas pujiannya, baguslah asal mereka merasa di dukung dan punya harapan.


"Kita semua bekerja keras untuk kota ini. Bagaimana kalau aku mengajakmu makan malam di dapur umum di sini, kita bisa cerita lebih banyak di meja makan." Nampaknya bisa bicara lagi dengannya akan menyenangkan.


Kami mengobrol sambil berjalan sampai ke dapur umum yang sudah ramai dan duduk untuk bercerita lebih banyak menghabiskan waktu. Mengobrol dengan Donna menyenangkan. Aku menikmati waktu kami.


"Di sini bebas mandi air panas. Menyenangkan sekali, aku juga sempat ke atas saat pengatur kerja memberi kami libur dua minggu sekali. Perjalanan ke sana menyenangkan aku benar-benar tak punya keluhan tinggal disini. Di luar rasanya jauh lebih buruk." Dia terlihat optimis. Aku senang mendengar dan melihat semangat dalam nada bicaranya.


"Lihat dirimu, sejak terakhir aku melihatmu kau lebih sehat." Gadis cantik itu tertawa sekarang. Wajahnya lebih cerah dan kantong matanya menghilang. Dia memang menikmati bekerja di pertanian nampaknya.


"Kau yang membawaku ke sini nampaknya aku harus banyak berterima kasih padamu. Aku saat bekerja di kantor hukumaku tak pernah merasa hidupku setenang ini. Ada banyak kasus, banyak kekhawatiran yang memghantui, tapi di sini, walaupun aku bekerja keras pikiranku sangat tenang. Aku merasa menemukan sebuah resort terbaik. Mau tak mau aku tersenyum mendengarnya.


"Baguslah, aku senang kau terlihat begitu bersemangat." Aku menepuk bahunya.


"Jen...kau sudah makan?" Andrew menghampiriku. "Teman barumu..." Bella berbalik sekarang.

__ADS_1


"Ahh ini Bella, pengungsi yang ikut bersamaku saat kami mengantar pasien kebal itu. Ini Walikota kita Andrew." Aku mengenalkan mereka berdua. Tapi mereka berpandangan seakan sudah lama saling mengenal? Atau mereka memang saling mengenal?


"Bella, aku tak tahu kau di sini. Kupikir kau sudah..." Bella diam melihatnya seperti melihat seseorang yang sangat akrab untuknya. Begitupun Andrew, apa mereka seperti punya hubungan istimewa sebelumnya. "Aku... sendiri tak percaya aku masih hidup. Kupikir kau sudah...Aku berkali-kali mencoba meneleponmu tapi kau tak pernah menjawabnya?"


Bella tertawa kecil. "Sebenarnya dari hari pertama krisis, teleponku terinjak. Aku baru bèrhasil menghibungi keluargaju seminggu setelahnya. Melihatmu menjadi walikota seperti kau jadi hantu di depanku. Aku benar-benar tak tahu kota ini punya walikota kupikir hanya komandan militer."


"Kalian saling mengenal?"


"Ohh kami pernah bersama sebentar saat high school? Sudah lama sekali kami.tidak bertemu." Bersama sebentar? Maksudnya adalah mereka pernah pacaran di.high school? Aku melihat mereka satu sama lain masih saling berpandangan. Kemungkinan besar begitu, nampaknya mereka masih saling mengingat. Dan Andrew meneleponnya berkali-kali.


"Ohh ya kalian pacaran di high school?" Dia bertanya pada Andrew. Andrew sekarang melihatku. "Iya kami pacaran." Entah kenapa aku merasa Andrew agak ragu menjawab pertanyaan itu.


"Ohhh itu bagus." Dan Bella mungkin agak kecewa dalam nada suaranya. Dia kembali melihatku. "Kau sangat beruntung punya pacar walikota Jen." Aku tersenyum pada Bella, nampak dia berusaha bersikap biasa lagi. Setidaknya dia berusaha tidak memperdulikan Andrew sekarang, pandangannya kembali padaku, dia nampaknya takut jika aku tersinggung.


"Kau sudah lama di kota ini?" Sekarang dia berusaha mencari pembicaraan lain dan mengabaikan pandangan Andrew.


"Oh belum, kami baru tiba di sini awal musim panas kukira. Sebelumnya markas kami di tempat lain." Dia mengangguk dengan cepat. Mencuri pandang ke arah Andrew yang masih melihatnya.


"Senang melihatmu hidup dan baik-baik saja Andrew."


"Kau memang tinggal di sini?" Andrew bertanya pada gadis itu.


"Begitu rupanya." Dia tersenyum kecil. Aku merasa cemburu di sudut hatiku. Wanita ini nampaknya istimewa bagi Andrew dia melihatnya bagai harta karun yang dia temukan, sementara Bella menghindari pandangannya mungkin dia takut aku akan tersinggung. Sekali lagi dia mencoba menghubunginya berkali-kali. Apa ini sama dengan aku menciba menghubungi Fred? Sejak sekolah dia masih memikirkannya?


"Kalian ingin bicara, nampaknya kalian sudah lama tak bertemu. Ayo duduklah..." Kutarik tangannya untuk duduk bersamaku. Andrew menurut untuk duduk bersana sekarang dia melihatku mungkin sadar aku memperhatikannya dia mengalihkan pandangannya.


"Kalinan bisa bicara, aku akan mencari Susan jika begitu." Kukatakan itu saat matanya melihatku. Dan aku beranjak pergi, aku cemburu dia menatap Bella sedemikian rupa. Apa Bella begitu istimewa untuknya sehingga dia harus menatapnya terang-terangan seperti itu di depanku tanpa menahan diri di depanku.


"Jen jangan pergi." Andrew menahan tanganku.


"Perawat Jen, aku yang harus pergi karena menggangu makan malam kalian. Aku pergi dulu oke." Bella yang pergi sekarang karena dia tidak ingin menyinggungku.


"Tak apa aku memang perlu bicara dengan Susan sebentar, kalian sudah lama tak bertemu, mungkin banyak yang perlu kalian ceritakan." Aku melepas tangannya dengan paksa, jelas aku tersinggung dia melihat mantan pacar high school nya yang cantik itu tanpa berkedip. Aku langsung pergi meninggalkan Andrew di meja sambil membawa makananku. Bibirku tersenyum tapi hatiku sakit.


"Bodoh, kau harus mengejarnya... dia itu pacarmu." Bella yang memarahinya. Aku ingin menangis sekarang mataku berkaca-kaca, gadis cantik itu pasti istimewa buatnya.


Beberapa lama dia tidak mengejarku. Mungkin dia bicata sebentar dengan Bella.

__ADS_1


"Jen..." Akhirnya dia menarik tanganku. Tapi aku sudah terlanjur sakit hati karena dia tidak langsung menyusulku.


"Kenapa kau kesini, kalian sudah lama tak bertemu harusnya kau bicara padanya lebih lama." Aku tak mau melihatnya.


"Kau jangan marah, aku hanya tak menyangka akan melihatnya di sini. Kupikir dia sudah ..." Mungkin ini sama seperti aku dengan Fred, bedanya adalah Andrew mendapatkan kembali kekasihnya di depannya, sementara aku harus merelakan Fred. Di saat kupikir aku mendapatkan cinta sejati ternyata ada seseorang yang lebih berharga datang padanya.


Aku melepaskan tanganku darinya, semuanya telah jelas, aku tahu rasanya menantikan kabar dari seseorang. Apa yang perlu di tutupi lagi.


"Tak apa Andrew bicaralah padanya jika kau ingin. Aku bisa sendiri." Dia hanya ingin menbuatku nyaman tapi hatinya sudah ada di wanita itu. Dia tak perlu berbohong, dia hanya merasa bersalah sekarang. Tapi nanti waktu akan membuatnya kembali pada Bella.


"Tidak aku ke sini untuk makan malam bersamamu." Dia masih mencoba menyangkal jika dia sangat terguncang melihat gadis itu. Kubiarkan saja dia, bagaimanapun dia baik padaku. Lagipula alu tak mau membuatnya malu dengan pertengkaran antar kekasih.


Dia ikut makan bersamaku, walaupun di sebagian waktu aku melihatnya sering termenung. Tapi dia berusaha menutupinya. Aku menghargai usahanya berbohong kepada dirinya sendiri.


"Andrew aku ingin istirahat hari ini ada banyak pasien, melelahkan sekali." Aku hanya ingin menangis di kamarku sendiri.


"Ayo, kau bersamaku bukan? Tidurlah di tempatku."


"Kurasa tidak, aku ingin tidur sendiri saja."


"Kau masih marah padaku? Itu benar-benar karema aku kaget melihatnya. Tolong jangan marah padaku." Aku tersenyum getir.


"Tidak, bukan karena kau. Aku hanya ingin tidur sendiri karena lebih nyenyak istirahat sendiri. Aku tak mau diganggu malam ini Bukan karena aku marah." Setelah ini aku akan membiasakan diri tidur sendiri lagi.


"Kau marah padaku..."


"Tidak bodoh, jangan terlalu sensitif kau mengelikan. Aku hanya mau tidur nyenyak. Aku mau mencuci piring makanku dulu." Aku berlalu dari depannya. Tapi dia mengikutiku sampai wastaffel tempat kami mencuci tangan sekaligus mengembalikan piring kami


Dia tetap Andrew yang baik yang merasa bersalah karena sudah membuatku marah. Dia cukup manis. Ini memamg bukan salahnya. Jika dibalik Fred tiba-tiba muncul di depanku, aku juga akan memilih Fred. Kami berdua tahu pilihan itu. Tapi dia hanya ingin membuatku nyaman saja.


Aku menguap untuk mengusirnya.


"Aku tak akan menemanimu mengobrol Andrew, aku benar-benar mau tidur." Aku mengusirnya dengan halus. Tak ingin bertengkar dengannya.


"Kumohon jangan marah padaku."


"Aku tak marah. Apa kau dengar aku berteriak padamu." Dia akhirnya pergi juga.

__ADS_1


Aku tak mau menangis di kamar, jadi aku duduk di taman tersembunyiku, menangis di sana sendiri.


"Kenapa kau?" Sebuah suara membuatku menoleh.


__ADS_2