
Dokumen di tanganku terlihat kabur, pembicaraan teknis masih berlangsung. Aku tidak mengikutinya, ini bukan bagianku.
Ada laporan dari dokter kondisi Dad memburuk saat makan siang tadi. Dia memang sudah bebas dari parasite terkutuk itu, tapi ingatannya tak pernah pulih, dia hanya bisa mengingat Ibu.
Dan dia mengembangkan Alzaimer dan tubuhnya melemah secara signifikan dalam bulan-bulan berikutnya setelah dia bebas dari infeksi. Dokter James sudah mengingatkanku kondisi ini. Dia bilang obat itu punya efek tak bagus jika pasien sudah punya riwayat kesehatan. Sebuah keberuntungan Dad dan Mom di umurnya bisa melewati pengobatan.
Sekarang kondisinya, ... buruk. Dokter memintaku segera pulang. Aku di tengah perundingan, aku tak bisa pulang sekarang.
"Tuan-Tuan, saya minta diri sebentar." Aku keluar dari ruangan rapat, menuju lobby belakang tadi kulihat ada taman di belakang deretan gedung ini. Mungkin aku bisa menelepon di sana.
Kutemukan taman sepi, aku mengeluarkan teleponku. Langsung menelepon ke dokter yang merawat Ayah, dia langsung di larikan ke rumah sakut tadi begitu kondisinya memburuk.
"Dok, bagaimana keadaannya. Aku di tengah meeting yang tak bisa kutinggalkan di Michigan."
"Nona Eliza... kondisinya buruk, dia sudah harus memakai alat bantuan pernapasan. Sementara fungsi organ lainnya juga terus menurun. Jika terus begini, saya takut... kita pernah membicarakan kondisi ini sebelumnya." Aku terdiam, sebuah belati rasanya menghunjam punggungku. Aku terduduk di bangku tak bergerak.
__ADS_1
"Tak adakah yang bisa kita lakukan lagi?"
"Nona,..." Dia tahu aku harus berharap keajaiban untuk pertanyaan itu.
"Apa Kakak dan Adikku di sana?"
"Iya mereka di sini, kau ingin bicara pada mereka?"
"Iya. Tolong Dok." Mungkin ini benar sudah saatnya.
"Iya, baru hari pertama, kami belum masuk deal harga. Aku tak bisa pergi, Paman David memintaku datang sendiri ke sini untuk membereskan ini. Bisakah kalian menungguku pulang..." Entah apa aku bisa mencapai Dad sebelum menyelesaika ini.
"Kami akan menunggumu, sudah begini kondisinya. Kita semua tahu ini akan terjadi cepat atau lambat, ... Tak apa tenangkan dirimu, Kakak di sini bersama Charlotte. Selesaikan pekerjaanmu, lalu pulanglah. Jika kondisinya benar-benar buruk sekalipun, kau tahu itu memang harus terjadi, kau juga tak bisa melakukan apapun. Tidak akan ada yang menyalahkanmu, selesaikan apa yang harus kau selesaikan."
"Iya, tunggu aku. Kumohon tunggu aku, besok akan kuselesaikan ini secepat yang aku bisa...."
__ADS_1
"Iya. Kakak akan menunggumu." Telepon itu putus dan air mataku turun seperti hujan di musim semi. Dad tersayangku akhirnya tak bisa bertahan lagi. Setelah berbagai usaha memulihkan kesehatannya tak berhasil. Sekarang aku harus pulang dan melepasnya alat pendukung kehidupannya.
"Ada apa? Kau baik-baik saja?" Seseorang bicara di sela isakan tangisku. Aku menoleh ternyata Gilbert menemukanku di sudut taman itu.
"Tuan Gillian, maaf aku ... " Aku berdiri dari dudukku menyeka aìr mataku dengan tissue satu-satunya di tanganku yang sudah basah dan tak berbentuk.
Dia memberikan sebuah sapu tangan.
"Ambillah,..."
"Maaf." Maaf karena menjadi tidak profesional di pertemuan ini. Aku harus menghentikan ini, jika tidak pertemuan ini akan gagal karena urusan pribadi. "Aku mau ke restroom dulu, ini terima kasih."
Aku meninggalkannya tanpa penjelasan. Dan melanjutkan tangisku di sana sampai aku bisa tenang.
\=\=\=\=\=\=\=
__ADS_1