
"Kami akan menanganinya dari sini Nona." Bagaimana aku bisa memberitahu Paman David, Andrew terluka karenaku. Aku sangat binggung sekarang. Tapi aku harus memberitahunya. Jika tidak aku akan bersalah.
Tanganku masih ada bekas darah. Kuberanikan diriku menelepon Paman David. Dua deringan terasa sangat lama sekarang.
"Eliza, kau menelepon. Kudengar Andrew di sana bukan." Aku menangis duluan mendengar suaranya.
"Paman maafkan aku."
"Eliza kenapa kau menangis begitu, maaf untuk apa Paman tidak mengerti."
"Andrew tertembak karena melindungiku?"
"Tertembak? Maksudmu tertembak bagaimana? Siapa yang menembaknya, di mana kau sekarang? Lebih penting lagi bagaimana keadaannya?" Rentetan pertanyaan langsung diajukan Paman.
"Aku baru membawanya ke rumah sakit. Dia tertembak di dada atas sebelah kanan. Ini karena..." kuceritakan siapa yang menembaknya dengan terbata-bata. Pamsn mendengarnya dan menghela napas panjang.
"Ini bukan salahmu. Jika dia masih sadar saat diterima oleh dokter, Paman yakin peluangnya bagus. Kita harus menunggu dengan sabar. Paman akan kesana pagi-pagi sekali. Begitu dia keluar dari ruang operasi kabarkan Paman juga oke."
__ADS_1
"Aku minta maaf Paman." Aku tetap merasa bersalah padanya.
"Tidak ada yang perlu dimaafkan kau tidak bersalah. Ini semua memang sudah terjadi. Dia anak yang kuat, dia senang bisa melindungimu. Paman tahu itu yang akan dia lakukan biarpun kondisi yang sama terjadi lagi."
"Ini hanya kota kecil, bagaimana jika tidak ada dokter yang kompeten Paman."
"Besok Paman akan mengajak seorang dokter untuk menilai kondisinya, jika memungkinkan dia akan di rawat di rumah sakit yang lebih baik. Kau tenanglah semua akan baik-baik saja. Kau tidak terluka bukan."
"Iya Paman, tidak aku baik-baik saja."
"Dia akan pulih. Tolong temani dia..." Tanpa diminta pun aku pasti akan menemaninya.
"Kami sudah berhasil mengeluarkan pelurunya. Dia akan baik-baik saja. Tunggu sebentar mereka akan observasi untuk memastikan dia baik-baik saja sebelum dia masuk ke kamar perawatan biasa. Tidak ada yang perĺu dikhawatirkan."
Akhirnya aku bisa bernapas dengan lega."
Dia masih dalam pengaruh bius saat mereka menempatkannya di kamar biasa tapi jelas napasnya dan hidupnya tidak terancam sekarang itu sudah sebuah kelegaan luar biasa.
__ADS_1
Polisi datang untuk meminta keterangan padaku kemudian.
Memberi tahu Paman kabar ini adalah kelegaan luar biasa. Jam 3 pagi dia masuk ke kamar perawatan pasien dengan infus dan segala moniror masih menempel tapi dia akan baik-baik saja.
Aku duduk menungguinya dengan penuh rasa syukur. Tak lama aku tertidur kelelahan tanpa sadar di kursiku tempat aku menunggu.
Terbangun karena perawat mengecek obat yang akan diberikan padanya. Saat itu dia membuka matanya.
"Hai bodoh, selamat datang kembali." Aku menyapanya sambil tertawa haru. Tak kusangka aku kan sesenang ini melihatnya membuka mata kembali.
"Eliz, senang melihatmu lagi. Rupanya aku belum ditakdirkan mati. Aku harus belajar supaya pintar." Dia sudah bisa bercanda denganku. Kulihat mata abu-abunya yang tersenyum padaku.
"Benar sekali, aku akan memanggilmu bodoh jika kau mati. Untungnya kau cukup pintar." Aku tersenyum dan terharu lagi. Melihatnya berani menerima peluru untukku, apalagi yang bisa kuminta. Air mata kelegaan jatuh begitu saja.
"Kenapa kau menangis, tak ada yang perlu kau tangisi."
"Aku berhutang nyawa padamu."
__ADS_1
"Tidak, kau tak berhutang apapun. Karena itu memang tugasku melindungimu." Dia tersenyum kecil. Aku melihatnya dengan perasaan campur aduk. Kugengam tangannya sebagai rasa terima kasih. Jika tak ada dia mungkin aku tinggal nama sekarang.
Peluru itu mungkin akan menembus jantungku. Dia menganti menerimanya untukku.