
"Boss ada apa? Kau tak tahu ini akhir pekan aku ada kencan." Anna tiba dengan mengerutu di akhir pekan ini karena aku menyuruhnya datang, walaupun jarak tempat kami memang tak begitu jauh. Sementara wajahku kusut karena kurang tidur.
"Kenapa kau? Kenapa wajahmu kacau begitu?" Dia menyadari penampilanku yang kacau dan tak cukup tidur semalam.
"Ann, tolong telepon Monica untukku."
"Monica? Kenapa harus ..." Dia melihatku dengan berbagai pertanyaan di wajahnya sampai pada kesimpulannya sendiri. "Monica meninggalkanmu Boss?"
"Bagaimana kau tahu?" Aku tidak tahu bagaimana dia bisa sampai di kesimpulan semacam itu, bahkan akupun tidak tahu dia akan tiba-tiba pergi meninggalkanku.
"Aku beberapa Minggu lalu bicara pada Monica kenapa kau terlihat seperti awan kelabu, dia bilang padaku kalian punya masalah dan kemungkinan besar kalian akan berpisah, dia tidak cerita kenapa, dia bilang untuk bertanya padamu, mungkin aku bisa membantumu. Aku tidak bertanya karena kau juga tidak cerita. Tapi sekarang nampaknya kalian tak tertolong lagi."
"Aku tak pernah ingin berpisah dengannya, dia memintaku untuk melepas posisi CEO di Moskow,...." Kuceritakan beberapa garis besar perselisihan kami kepada Anna yang mendengarkan dengan tenang. Dia menghela napas panjang setelah mendengar ceritaku.
"Kau tahu, aku sangat mengerti apa yang Monica inginkan. Jika aku di posisi Monica aku juga akan meminta seperti itu. Apa gunanya kau terjebak dalam keinginanmu untuk kembali ke Moskow, apa membalas Margarita begitu penting untukmu sehingga kau melepaskan gadis yang kau cintai." Perkataan Anna sama dengan Moon. Aku melihat gelas kopi di depanku, aku bisa mengatur ini hanya perlu waktu, tapi dia tidak percaya padaku.
"Bukan seperti itu. Bukan dendam..." Yah mungkin ada dendam, tapi bukan sepenuhnya seperti itu. Mungkin benar seperti yang dikatakan Moon, sesaat itu seperti tujuan hidupku untuk kembali ke sana.
"Kau melihatnya bukan seperti itu tapi aku dan Monica melihatnya seperti itu. Apa yang kau kejar? Rasa puas balas dendam atau rasa bahagia dengan orang tercinta. Monica tidak meminta hal yang sulit padamu dia hanya meminta kau lebih memikirkan masa depan keluarga kalian nanti."
__ADS_1
"Dia tidak kami pindah ke Moskow, dan dia tidak ingin ada gangguan keamanan. Itu bisa kupenuhi. Aku bisa mengatur bagaimana aku bisa mengawasi Moskow tanpa terlalu sering ke sana."
"CEO tapi tinggal di kota lain? Kau memang mencari masalah Boss." Anna tertawa kecil mendengarku menyebut rencanaku.
Aku tak mengerti mengapa mereka menganggap itu tak bisa dilakukan. Ya baiklah, akan sulit pada awalnya aku perlu menetap cukup lama di Moskow tapi selanjutnya akan ada saat aku bisa jauh lebih bebas. Tapi mungkin itu memang sulit diterima, tapi jauh lebih baik tanpa kompromi.
"Aku berkompromi kenapa dia tidak berkompromi."
"Maksud semacam kau akan menghabiskan 3/4 waktumu di Moskow sepanjang tahun dan 1/4 di Montreal, itu yang kau ingin katakan bukan?"
"Iya, apakah itu masalah. Bukankah itu kompromi, di tahun tahun awal mungkin seperti itu, tapi setelahnya aku bisa lebih banyak di Montreal, atau kami bisa tinggal di negara Eropa lain yang dia inginkan."
"Aku akan menekannya, aku bisa melakukan itu."
Anna melihatku dengan skeptis. Kurasa sama seperti Monica melihatku juga seperti itu. Mungkin sulit baginya untuk menerima kompromi seperti yang ada di pikiranku. Tapi itupun aku belum bisa mengatakannya tapi dia sudah pergi duluan."
"Bisakah kau menelepon Monica." Anna melihatku.
"Kau ingin menemukan di mana dia berada?"
__ADS_1
"Iya."
"Begini saja, jika aku mau bicara dengannya aku harus bicara sendiri padanya. Jika dia menemukanmu mengambil alih pembicaraan dia tak akan mau menerima teleponku lagi. Untuk membujuknya mengatakan dimana dia lebih baik aku yang maju bukan kau."
"Baiklah, kupikir juga begitu."
"Akan kucoba menemukannya oke. Tapi aku tak berjanji dia akan memberitahuku dimana dia berada. Dan sebenarnya yang terpenting adalah kau harus mempertimbangkan memenuhi keinginannya. Bukankah itu yang utama."
"Iya aku tahu." Mempertimbangkan keinginannya, aku mempertimbangkannya tapi dia bahkan tak mau mendengarnya.
"Apa menurutmu pengaturanku terlalu rumit." Aku bertanya kepada Anna.
"Aku akan memberimu perumpamaan. Itu seperti berusaha memegang dua burung dengan dua tangan. Salah-salah kau akan kehilangan keduanya. Menurutku lebih baik memegang erat satu. Itu saja..." Dia menepuk lenganku. "Kalau begitu aku pulang. Akan kucoba mencapainya, mungkin dengan mengirim pesan dulu untuk mendekatinya, aku tidak jamin hasilnya akan cepat, tapi setidaknya aku berusaha mendekatinya.
Anna pergi aku jatuh ke perenungan. Semua orang menganggap aku yang bermasalah. Mengepalai kantor pusat adalah hal yang kuimpikan sejak lama. Aku sudah menyiapkan banyak rencana kompromi.
Tapi benarkah ini terlalu rumit, apa benar aku harus melepaskan Moskow. Kenapa dia tidak bicara dulu denganku. Seenaknya saja dia pergi dengan sebaris email.
Svetluny, jika aku menemukanmu, pertama aku akan marah-marah. Kau membuatku sakit kepala.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=