
"Kau memasak untukku?"
"Kita punya steak, dan salad. Nanti kupesan tambahan makanan lain di restoran italian dekat sini. Atau kau ingin makan diluar?" Dia langsung mengatur makan malam di akhir pekan ini, sudah seminggu aku tak melihatnya sejak terakhir dia membelikanku es krim.
"Kau bisa memasak?" Ini kejutan. Dia bisa memasak.
"Tidak ahli tapi bisa."
Mafia Rusia yang tidak pernah menempatkan wanita sebagai prioritas ini bisa memasak, dan bersedia memasak untukku, akan menyenangkan melihatnya menyiapkan makanan.
"Baiklah, kurasa aku ingin melihat seorang Mafia Rusia memasak saja. Kelihatannya menyenangkan." Dia langsung tersenyum.
"Kalau begitu tunggu di sini, aku berganti baju dulu. Akan kusiapkan dengan segera. Kau mau minum apa? Ada cake dan buah di kulkas, kau mau, ambil sendiri oke... Anggap saja rumah sendiri." Dia sepertinya akan membiarkan aku melakukan apapun di sini. Berapa orang wanita yang dia perlakukan seperti ini untuk memuluskan aksinya.
"Tisak usah, air mineral saja." Dia mengeluarkan daging steak yang masih beku, memberiku botol air mineral dan langsung ke atas. Pakaiannya masih kemeja kerja. Nampaknya dia punya pertemuan dengan seseorang sore ini dan baru aja kembali kesini.
Tak lama dia kembali dengan kaus pas badan hitam dan celana selutut, bentuk tubuhnya bagus, tangannya berbu*lu lebat, dengan postur seperti itu wanita mana yang tak tergila-gila, tak salah dia harus memasang Anna sebagai perisai. Aku melihat ada gym pribadi tadi, dia sering latihan pastinya untuk mendapatkan postur luar biasa seperti itu.
__ADS_1
Aku menahan napas melihat lengan kekarnya. Aku pernah menyelipkan diri di lengan itu dan sekarang masih mengaguminya.
Saat aku memperhatikannya, dia menyadarinya, wajahku memanas sekarang, dia hanya melihatku dengan senyum kecilnya.
"Tak apa aku yang memasak bukan? Atau kau ingin makan ke restoran?"
"Tidak aku ingin melihatku memasak."
"Ini bukan masakan rumit, tapi dijamin enak." Dia kelihatannya percaya diri dengan masakannya.
Dia mengambil celemek hitam dan memakainya seperti telah terbiasa. Mafia Rusia ini terlihat tampan dengan celemek itu. Dia langsung ke dapur yang berada si area yang sama dengan family room membuka lemari es mengambil bahan yang dibutuhkan. Dia mengerti di mana bahan makanannya.
Aku mendekati meja marmer besar tempat dia bekerja. Tampaknya dia juga terbiasa dengan pisau dan peralatan dapur, aku melihatnya dengan perasaan kagum.
"Cukup sering dulu ketika masih sekolah dan kuliah. Sekarang sangat jarang." Dia mengambilkan apel dan memotongnya untukku. Beberapa buah lainnya menyusul mendarat di depanku.
"Kau makan ini dulu." Manis, dia takut aku kelaparan.
"Aku bantu?"
__ADS_1
"Tidak, kau duduk saja di sini, ini hanya memasak steak. Dan menaruh dressing salad." Dia menelepon untuk memesan pasta dan calamari.
"Bagaimana kabarmu belakangan?" Alexsey bertanya duluan, tampaknya dia cukup sibuk, dia bahkan tidak mengirim pesan apapun selama seminggu ini padaku.
"Aku baik, tak ada yang istimewa kurasa. Kau tidak menelepon belakangan? Kau sedang sibuk?"
"Ohh aku baru kembali dari Mexico kemarin, ada yang harus kuurus di sana. Dan hari ini kejutan menyenangkan mendapatkanmu lewat di depan rumah." Ternyata dia punya pekerjaan di Mexico.
"Sir, kau mau memasak? Perlu bantuan?" Seorang wanita Latin usia empat puluh tahunan menghampiri kami.
"Ahh ini Maria, dia housekeeper disini. Ini Nona Monica. Aku sedang ingin pamer Maria, tak apa aku bisa menangani ini." Aku dan Maria langsung berpandangan dan tersenyum.
"Hallo Maria."
"Selamat sore Nona Monica. Mengerti Sir, kutinggalkan Anda untuk pamer. Akhirnya Tuan membawa seorang gadis ke sini setelah sekian lama. Aku ikut senang untuk Tuan." Apa itu artinya, aku gadis pertama yang diajaknya kesini, jadi benar dia tidak pernah membuat cinta menjadi prioritas sebelumnya, mau tak mau aku tersanjung untuk ini.
"Terima kasih Maria, senang bertemu denganmu." Maria pergi kemudian meninggalkan kami.
"Maria sudah lama bekerja di sini. Dia sudah kuanggap keluarga. Jika kau ingin datang ke sini kau sudah punya orang yang kau kenal." Dia bersikap aku sudah bagian dari semua yang beredar di hidupnya. Tapi dia tidak keberatan dengan pembatasan status temanku, tidak boleh merayuku atau menyentuhku.
__ADS_1
Aku hanya tersenyum menangapinya. Dia melihatku kediamanku.
"Itu terserah padamu maksudku,... jika kau ingin datang ke sini. Kau bebas melakukannya. Tidak ada yang memaksamu harus datang. Kau bebas menentukannha sendiri." Dia merubah kalimatnya. Mungkin dia takut disangka terlalu memaksa tadi.