BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 110. My Svetluny is Missing 7


__ADS_3

"Apa maksudmu, kau ingin mengatakan kau menerima syaratku, kenapa kau tidak pergi ke Albert dan mengatakannya." Aku menunggunya setiap hari tapi tidak ada kabar apapun darinya


"Aku tidak menerima syaratmu. Kau bahkan tak membaca satu katapun dari emailku. Sudah kubilang kau bodoh. Terakhir kali aku melepasmu, kau tak berlari terlalu jauh sehingga tak bisa kukejar. Jadi kali ini kau harus membayar kebodohanmu."


"Membayar apa? Salahmu sendiri kau tidak mengatakannya ke Albert. Aku jelas-jelas berkata kau harus bicara ke Albert."


"Ini masalah kita, yang menjalaninya kita, kau ingin aku berbicara dengan orang lain? Di mana logikamu? Lain kali kali jika kita menikah, jika kita punya masalah aku harus bicara pada Kakakmu begitu. Omong kosong macam apa itu?!"


Nada naiknya membuatku tak bisa bicara.


"Empat bulan Moon. Untuk apa semua air matamu itu. Kau membuatku frustrasi, kenapa kau begitu kejam tak membalasku satu katapun. Bahkan kau berniat mengembalikan hadiahku, kau sungguh sangat baik dalam berkomunikasi."


"Kau yang membuatku begitu!" Aku memukul dadanya, mendorongnya dengan putus asa. "Aku menunggu setiap hari berita dari Albert, kau mengecewakan! Aku sudah berhenti berharap sehingga aku mengembalikan semua hadiahmu!"


"Ya baiklah, aku yang membuatmu begitu. Kita tak bicara begitu Moon. Ini harus diselesaikan diantara kita, kau tak bisa menyuruhku bicara pada Kakakmu, aku menjelaskannya panjang lebar di emailku. Tapi rupanya kau tak membaca apa yang kutulis di situ. Kenapa kau begitu kejam?!"


Aku terpaku padanya. Tak tahu harus berkata apa.

__ADS_1


"Apa kau pikir aku tak berpikir bagaimana mengamankan anak-anak dan keluarga kita, aku juga punya pikiran itu. Kau hanya tahu meminta aku harus melakukan saat itu juga, menyuruhku mengibarkan bendera putih ke musuhku, lalu pergi meninggalkan medan perang, kau pikir aku tak punya harga diri?"


Aku menunduk. Tak tahu apa yang harus kukatakan. Tampaķ dia menghela napas panjang kemudian, mungkin mencoba merendahkan emosinya sendiri. Sementara aku tak bisa mengatakan apapun padanya karena merasa bersalah. Dia mengangkat wajahku. Menatapku dengan ekspresi lebih lembut.


"Katakan apa kau merindukanku Moon." Mataku memanas menjawabnya, yang kulakukan hanya menjawabnya dengan air mata yang mengalir.


"Aku tahu kau banyak menangis, tapi kau berjalan dengan pemikiranmu sendiri. Kenapa harus begitu. Katakan semuanya, bertengkarlah denganku, tapi jangan pernah meninggalkanku tanpa aku bisa mengucapkan satu katapun seperti ini. Maaf aku emosi - aku memang emosi, Anna punya waktu sulit denganku belakangan." Dia menghapus air mataku sambil tertawa kecil sendiri. "Tapi aku bersyukur menemukanmu di sini karena Anna berpikir kau harusnya ada di sini karena mau mengembalikan hadiahku.


"Ohh Anna. Dia bisa menyimpulkan secepat itu."


"Dia memang pintar, bahkan aku marah-marah dia masih menemukan cara untuk membantuku, jika tidak aku tak tahu bagaimana menemukanmu dan menghukummu sekarang gadis bodoh."


"Aku merindukanmu, duniaku kacau empat bulan terakhir, itu karena kekejamanmu."


"Kau tak pernah mendengarku." Aku memang kejam, karena aku putus asa dia tak mendengarku.


"Apa kau merindukanku Moon?"

__ADS_1


"Sangat..."


Saat ciuman yang entah ke berapa kalinya itu mencapaiku. Perasaan rindu yang membuncah membuatku mengapainya dengan segera.


Wangi parfum yang lama tak kuciu*m ini membuatku memeluknya lebih erat. Tubuhnya yang mengunciku terlalu kurindukan sehingga rasanya aku ingin memeluknya selamanya.


"Rambutmu bas*ah, kau wangi, ini sangat pas, aku merindukan wangi ini..." Ciuma*nnya mengapai lehe*rku membuatku mencengkram kemejanya. "Kau wangi." Gumamannya, sekaligus cu*mbuannya di leherku. Aku tak sabar lagi, kubuka kanci*ngnya karena ingin merasakan kulitnya, jarinya menggodaku dibawah rok yang kupakai di bawah sana. "Ini juga b*asah sayang..."


"Alex..." Jarinya membuat gerakan yang membuatku mengeluh tertahan. "Aku mau kau..."


"Apa ada yang sudah menyentuhmu Moon?" Aku menggeleng dengan kuat.


"Bagus jika ada, akan kuhajar dia." Dia membuatku mel*engguh dengan dalam. Sentuh*an, cium*an dan pelukan di seluruh tubuhku membuatku sangat membutuhkan yang lebih lagi.


"Apa kau punya wanita lain Tuan Mafia." Aku menjangkau ikat pingg*angnya, siap mendapatkan apa yang kumau darinya, sementara dia sudah melucuti blouseku.


"Jika aku punya tak mungkim aku sefrustrasi ini, lau harus bekerja keras membayar hutangmu Moon. Aku sangat penuh, mengeringkannya harus dengan beberapa kali usaha. Kau mengerti..."

__ADS_1


Saat berikutnya aku sudah berada dibawahnya, dengan cepat penghalang apapun diantara kami menghilang. Saling melilit satu sama lain, membuat dunia menghilang disekitar kami, yang ada hanya menyentuh satu sama lain.


__ADS_2