
"Bibi kurasa jika Margarita tahu aku calon kuat, dia akan berusaha menghilangkanku." Aku bicara keesokan harinya dengan Bibi saat kami masih di hotel.
Melihat aku hidup saja dia tak tahan dan mengirimkanku ke US. Bagaimana dengan jika aku mengancam posisi anak kesayangannya.
"Kurasa kau benar, makanya Bibi bilang, kau jangan mengatakan apapun soal itu dulu."
"Bukankah ancaman tetap ada setelah aku diumumkan."
"Kau akan punya keamanan kuat setelah di Moskow, lagipula keluarga Jovovich, terutama Kakak Margarita punya banyak hutang ke Ayahmu. Jika Ayahmu menarik modalnya perusahaan mereka dipastikan jatuh. Mereka tak akan berani macam-macam. Itu kenapa Ayahmu tidak ingin pengalihan yang terburu-buru tanpa dia bisa mengawasi. Tapi kurasa jika Ayahmu mengumumkan calon penerusnya pun dia akan mengantisipasi soal keamananmu. Dia tahu ancaman yang akan kau hadapi."
"Begitukah, aku tak mengikuti perkembangan di sana. Kupikir Margarita itu punya keluarga luar biasa. Bahkan punya koneksi ke orang militer." Dulu dia menghina Ibuku dari keluarga biasa dan aku tak sebanding dengannya.
"Dulunya, saat krisis infected bisnisnya yang kebanyakan mengandalkan eksport jatuh. Aku tak tahu jelasnya tapi keadaan mereka tak baik sehingga mereka harus meminta bantuan Ayahmu."
"Begitu ternyata ada saatnya juga dia jatuh."
"Tidak ada bisnis yang tidak mengalami penurunan di masa sulit ini, tapi seberapa besar mereka bisa menangani krisisnya akan menentukana apa mereka bertahan atau tidak. Jovovich jelas punya management resiko yang jelek."
__ADS_1
"Itu berita bagus, sangat bagus. Dia harus mengemis juga ke Ayah sekarang. Ayah bisa membungkam mulut sombongnya itu. Memuakkan melihatnya menyombong sebagai keluarga terkuat di dunia." Bibi tertawa dengan sindiranku.
Tak lama Ibu tiriku bergabung dalam sarapan kami.
"Bibi dan keponakan akrab sekali." Dia tersenyum manis pada kami dan duduk di meja kami.
"Selamat pagi Ibu. Jelas aku akrab dengan Bibi, kau sudah tahu itu." Aku menyapanya duluan. Tak ada gunanya menunjukkan permusuhan, semua orang punya topengnya masing-masing.
"Kemarin kau ke Kanada bukan Irina."
"Aku juga punya keponakan jauh tinggal di sana, kebetulan dia sedang liburan ke Paris juga dengan temannya. Dia katanya mau bergabung denganku pagi ini. Dimana dia..." Dia mencari ke sekeliling sampai dia menemukan seseorang dan melambai. Aku melihat ke arah lambaian tangannya.
Seorang gadis cantik datang, tinggi semampai, langsing, berambut gelap, dia tersenyum ke Margarita dan menghampiri kami.
"Duduklah Sasha, senang bisa melihatmu di sini. Ahh...semuanya ini keponakan jauh dari sepupuku dari sisi Ayahku. Kaluarganya bermigrasi ke Kanada sudah lama."
__ADS_1
"Zdravstvuyte, dobroe utro..." (Hallo, selamat pagi). Dia memberi salam kenapa kami dengan sopan. Pertama Margarita mengenalkannya kepada Bibi lalu kepadaku.
"Ahh yang tampan ini anak tiri Bibi, Alexsey..."
"Hallo, senang bertemu denganmu." Dia menyapaku dengan bahasa Inggris yang sempurna tanpa aksen, malah tadi bahasa Rusianya nampaknya agak kaku, kurasa dia dari kecil bersekolah di Kanada.
"Dia model internasional, bolak-balik Paris, New York, London tapi rumahnya tetap di Montreal." Aku tersenyum padanya, jika dibandingkan dengan Anna, dia dapat dibanting dengan mudah oleh Anna, seperti kebanyakan model dia terlalu kurus. Ngomong-ngomong kenapa dia dikenalkan padaku, benarkah dia 'kebetulan' ada di sini atau ular ini punya sesuatu yang dia rencanakan?
"Sasha kau dan Alexsey tinggal di kota yang sama. Benar bukan Alex." Gadis itu tersenyim padaku.
"Iya, aku sekarang kebanyakan tinggal di Montreal."
"Benarkah, rumah keluargaku di sana. Jika aku sedang tidak dalam jadwal pekerjaan aku kebanyakan kembali ke Montreal."
Dia komunikatif, berbicara banyak tapi bercampur dalam bahasa Inggris, Bibinya mengatakan bahwa bahasa Russianya tak begitu bagus karena dia lahir dì Montreal.
"Kalian punya kesamaan, Alexsey juga dari 13 tahun sudah berada di Kanada. Tapi tentu saja, bahasa Rusianya lancar. Alex, sering-seringnya bicara bahasa Rusia padanya biar dia sedikit belajar."
__ADS_1