BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 110. Listen To Me


__ADS_3

"Aku mendengar itu. Komandan juga mengatakannya itu padaku."


"Kau juga melakukan pekerjaan luar biasa di sini." Sebuah senyum kecil timbul dari wajahnya dan itu memicu debaran lain. Ya Tuhan, kenapa aku tidak membencinya saja.


"Aku hanya berusaha membuat tidak ada yang mati kelaparan di sini. Jika ada akan jadi catatan buruk. Aku hanya diberi kota kecil bukan kota besar untuk belajar, semoga mereka juga bilang aku berhasil."


Andrew tetaplah Andrew dia sempurna dalam karier dan pekerjaannya. Dan itu mungkin harus dibayar dengan berkurangnya waktu untuk pribadi. Wanita yang di sampingnya harus mengerti itu. Keberhasilan itu harus dengan kerja keras.


"Kau akan menerima pujian yang memang pantas kau dapatkan. Penduduk kota ini akan berterima kasih padamu."


Dia menatapku lama, dan menghela napas panjang.


"Terima kasih."


Entah apa yang dipikirkannya, mungkin menyesal memilih Bella daripada mempertahankan hubungan kami? Tapi semuanya sudah terjadi.


Kami berdiri menatap salju berjatuhan dengan pikiran masing-masing. Andai Bella tak datang mungkin kami akan duduk bersama di sini, melihat salju berjatuhan dari langit di musim dingin pertama kami.

__ADS_1


Andai dia tidak ada diantara kami.


"Jen." Suara James? Aku menoleh. "Kenapa kau di sini? Masuklah." Dia menatap Andrew masih dengan pandangan tak suka dan menarikku masuk.


"Kenapa dia di sana? Dia mencoba mendekatimu lagi?! Bangsat itu belum pernah di patahkan giginya." James langsung marah-marah sekarang.


"Tidak, kami hanya bicara sedikit."


"Kau mau bicara padanya. Apa kau tak ingat dia begitu mudahnya membalikkan punggungnya padamu. Kenapa dia harus bicara padamu?"


"James sudahlah kami hanya bicara sebentar. Itu tak merubah apapun." James nampaknya lebih membencinya dari padaku. Dia memang pembela terbaik yang kupunya.


Aku tak tahu kenapa perasaan ini muncul kembali aku juga tak mau punya perasaan ini sebenarnya.


Sekarang James menghadapkan aku padanya. "Dengarkan aku Jen, kau perlu tahu, dia tidak sebaik itu. Dia melepasmu setelah mengejarmu, bahkan dia juga tidak berjuang untuk mempertahankan Bellanya itu. Dia tidak perduli pada hubungan pribadi, satu-satunya yang dia butuhkan adalah pengakuan atas pencapaiannya. Kau jangan bodoh! Dia putus dengan kekasihnya bukan berarti dia memutuskannya karena memilihmu. Mungkin dia hanya tak mau berusaha. Jika sekali lagi kulihat dia mengajakmu bicara akan kuhajar dia."


Aku diam.

__ADS_1


James di satu sisi benar, dia bahkan melepas Bella begitu saja belum setengah tahun bahkan mungkin belum tiga bulan kurasa. Kenapa? Apa Bella begitu menganggu dan tidak bisa berkompromi di sampingnya.


Aku tak tahu cerita mereka, tapi bukankah dia begitu mencintai cinta pertamanya itu dan menyingkirkanku.


Aku baru sadar aku terperangkap dari pikiran romantis mengawangku setelah James bicara sekarang.


"Jen, ku pastikan kau akan menyesal jika menerimanya lagi."


"Aku tidak menerimanya lagi. Kami cuma berbicara sebentar."


"Bagus, sekali lagi kulihat dia mendekatimu, dia akan berhadapan denganku. Dia pikir aku akan mengalah darinya karena dia walikota." James nampaknya akan benar-benar melakukan ancamannya itu.


"James, sudahlah, tak ada gunanya. Tadi aku hanya kebetulan bertemu dengannya."


Aku harus mengeraskan hatiku sekarang, tidak terjebak kenangan bersamanya. Andrew sudah menyerah pada kami, tidak ada jalan kembali dari keputusan macam itu.


Dia tidak sebaik itu. Jika dia sebaik itu dia tidak akan meninggalkanku. Itu kenyataan yang harus kuterima.

__ADS_1


Mungkin musim dingin ini memang lebih baik dilewatkan dengan sendiri.


__ADS_2