
"Kurasa kami sudah cukup untuk mengambil keputusan menikah, saya serius dari awal dengan Monica, bukan untuk main-main, Sayang bagaimana denganmu, anggaplah ini lamarannya."
"Kau sudah punya cincinnya, enak saja melamar tanpa menyiapkan sesuatu?" Aku mengerucutkan bibirku, "Tidak diterima, Mama kau menghancurkan lamaranku." Aku melengos menjauhinya. Mama meringus lebar tak tahu bagaimana menanggapiku.
"Kakak kau kejam sekali." Monica langsung protes, sementara yang lain tertawa.
Tanpa di sangka Gilbert berdiri, aku heran kemudian kenapa dia berdiri. Aku melihat ke arahnya, dan kemudian dia berlutut di depanku. "Apa yang.... " Belum selesai aku bicara, dia mengambil sesuatu dari sakunya dan menyodorkannya padaku. Sebuah cincin lamaran di depan mataku, "Bagaimana ... kau... bisa..." Bagaimana bisa dia sudah menyiapkan ini.
"Elizabeth Dugard, aku Gilbert Gillian sudah terjebak di matamu sejak pertengkaran pertama kita, Wonder Woman kumohon menikahlah denganku."
"Oh my God." Ibu langsung berseru dan menutup bibirnya.
__ADS_1
"Wonder woman?! Julukan yang cocok, Hahahaha... Ayo terima kakak, katakan ya." Dia tertawa dengan julukan pribadi kami yang baru pertama di dengarnya itu. Monica lebih heboh dari Mama, istri Albert juga menyemangatiku menerimanya. Albert tersenyum lebar melihat adegan ini.
"Ini... Kapan kau ..." Kapan dia punya ide membelinya. Dia tak pernah mengatakan apapun soal ini.
"Eliza, menikahlah denganku? Katakan ya kumohon..."
"Kakak katakan ya!" Monica kembali berseru dengan ribut. Aku masih terpaku pada cincin di depanku, perlu waktu mencerna kejutan yang tak kusangka ini sementara Gilbert memandangku lurus di mataku.
"Aku..." Dia mengengam tanganku, mataku memanas tanpa bisa kutahan. Memandang Mom dan Monica yang tersenyum lebar dan berangkulan menyaksikan moment kami.
"Ya sweetheart?"
"Ya...ya." Dengan bodoh menghapus air mata bahagiaku dan mencoba tertawa.
__ADS_1
"Mom, dia bilang iya!" Mereka berdua berpelukan dan Gilbert memasangkan cincin itu ke jari manisku dan memelukku. Aku menghapus air mataku sambil mencoba tersenyum.
"Kita akan punya pernikahan segera." Monica yang paling girang sekarang. Aku hanya tertawa kecil melihat reaksinya dan aku masih merasa terbang tinggi melihat cincin yang berkilau di jari manisku.
"Kau suka cincinnya?" Gilbert mungkin tak yakin dengan pilihannya. Tapi bukan itu yang terpenting, bagaimana dia memberikan kejutan langsung melamarku saat semua orang sudah setuju, bahkan Ibu langsung bertanya kapan kami menikah. Itu sangat manis.
"Iya ini sangat bagus."
"Tanggal dan sebagainya nanti kalian tentukan, bagaimana pestanya siapa yang diundang, dan yang terpenting adalah kedua keluarga harus berkenalan satu sama lain Gilbert. Bagaimana kalau di akhir pekan bulan ini kami ke sana mengunjungi Ayah, Ibu dan keluargamu." Mama yang mengatur langkah selanjutnya sekarang.
"Tentu saja boleh Bibi..."
Semua orang antusias sekarang, aku juga senang dengan semua rencana masa depan kami. Semuanya akan terasa berbeda sekarang.
__ADS_1
"Kapan kau membeli cincinnya, kenapa kau tak memberitahuku sebelumnya." Aku bertanya padanya dengan penasaran setelah kami sudah berdua di apartmentku sepulang dari rumah Mama.
"Sudah lama, sejak kau bilang Ibumu sudah setuju, aku sudah memikirkan lamaran seperti ini. Bagaimanapun aku berpikir kau pasti senang keluargamu menyaksikan momen bahagiamu. Katakan padaku apa aku menbuatmu bahagia. Atau kau ingin sebuah lamaran pribadi antara kita berdua saja?" Dia memeluk pinggangku dengan lengan kokohnya, membuatku merasa aman dalam dekapannya, menatap mata gelapnya yang terasa hangat.