
“Emergency standby. Ada satu korban terpapar infected, 40 mil dari sini. Dalam satu jam akan segera sampai.” Sebuah pemberitahuan tiba-tiba datang ke kami.
“Paparan infected?” Aku langsung merespon. “Kita perlu siapkan zona merah segera.”
“Baik Dok, keamanan akan siap dalam 30 menit.”
Protokol zona merah yang lebih aman, sejak kejadian Jen yang hampir kecelakaan diserang infected kami memperbaharui protokol lebih ketat lagi, perawat harus ditemani oleh keamanan dalam menangani paparan sepanjang waktu. Masuk tidak boleh sendiri, diawasi oleh kamera 24jam, kamar terpisah dari gedung utama dan hanya mempunyai satu akses, kamar keamanan untuk staff, protokol penguncian otomatis jika ada yang menekan tanda bahaya.
Aku masuk ke Emergency.
“Jen.” Dia masih dalam shift tugasnya sore ini.
“Iya?”
“Aktifkan zona merah. Mereka akan sampai kurang lebih satu jam.”
“Mengerti.” Dia perawat berpengalaman yang incharge dan akan membawahi zona merah. Sementara pekerjaan di UGD akan ditangani dua wakilnya. “Martha, ada pengaktifan zona merah.”
“Zona merah?! Baik Jen. Aku dan Alice ambil alih UGD.”
Aku bergegas ke gedung khusus yang dikhususkan untuk zona merah. Saat-saat seperti ini aku selalu khawatir keselamatannya. Walaupun sekarang ada obatnya, tapi keberhasilannya belum teruji 100%.
__ADS_1
"Ada zona merah? Berarti ada yang terpapar infeksi." Michelle datang dengan bersemangat.
"Iya, dalam kurang dari sejam harusnya sampai." Ini alasan dia dikirim kemari. Dia bergegas pergi entah kemana.
"Michelle kemana? Ada briefing keamanan sebelum masuk ke tugas.
"Iya aku tak akan lama."
"Briefing keamanan dalam 15 menit semua personel zona merah!" Tom memberi perintah kepada 20 orang personel yang terlibat di group inti, harusnya Michelle mendengar perintah itu.
Jika keadaan memburuk maka kami bisa meminta penambahan lebuh dari 20 orang.
"Kenapa kurang 1, siapa yang belum hadir?"
"Kurasa Michelle?"
"Kita tak punya waktu lagi. Di mana dia?" Semua tak ada yang tahu dimana gadis itu.
Briefing singkat itu kemudian dimulai tanpa kehadiran Michelle. Tom nampak kesal satu orang yang tidak hadir. Padahal jelas-jelas gadis itu mendengar apa yang dia katakan.
Dan lima menit setelah selesai briefing, gadis itu muncul dengan menenteng setumpuk dokumen. Sambil melangkah pelan melihat handphonenya.
__ADS_1
"Michelle, kau tidak mendengar aku minta briefing keamanan tadi?!" Tom sudah berkacak pinggang melihat gadis itu tak memperdulikan kata-katanya.
"Aku ada pekerjaan sebentar. Lagipula aku bukan tim keamanan. Kenapa harus menungguku?"
"Aku tak perduli apa pekerjaanmu, kau berada di zona merah! Jika kau mau selamat patuhi aturan di sini. Jika aku bilang muncul di sini, kau harus muncul! Itu untuk nyawamu sendiri! Paham! Sekarang duduk dan dengarkan briefingmu! sekali lagi aku minta briefing kau tidak hadir kucabut aksesmu!"
Michelle memandangnya dengan kesal sebelum terlihat terpaksa duduk di ruang briefing.
"Kau kesal padaku? Kemarikan kartu aksesmu." Aku membiarkan saja Tom melakukannya karena memang itu tugasnya, tak ada yang mau bertanggung jawab atas nyawa orang yang tidak mau mengikuti prosedur keamanan.
"Dokter James, aku dikirim ke sini untuk proyek penelitian, bukan briefing keamanan." Wanita yang satu ini memang sulit diatur.
"Ohh Tom benar, lebih baik minta saja kartu aksesmu. Tak ada gunanya memasukkan seseorang yang tak mengikuti arahan keamanan. Kau hanya menjadi beban yang lain dan membahayakan orang lain."
"Kartumu." Tom meminta kartu aksesnya.
"Aku salah, aku minta maaf kapten. Aku akan menuruti briefingmu." Akhirnya dia mau mengalah juga.
"Kuperingatkan kau, ini 2x kau meremehkan aturan keamanan, sekali lagi kau melanggar protokol keamanan, langsung kau tak punya akses ke area ini."
Nampaknya ini akan jadi briefing yang panjang, kutinggaĺkan Tom untuk mengurus gadis pemberontak itu.
__ADS_1