
Aku kembali ke Michigan kali ini untuk membicarakan kesepakatan yang dia inginkan. Dia ingin kesepakatan soal pembukaan cabang perusahaan kurasa. Ada beberapa bisnis yang berhenti di US.
Tapi walau begitu aku tak bisa memutuskan sendiri, aku harus konsultasi dengan profesional yang mengurus tiap perusahaan.
"Tuan Gillian." Aku menyapanya duluan kali ini. Kami hanya berdua kali ini, pembicaraan teknis selesai dan kami sekarang mengurus deal jumlah uang dan lembar saham yang kami sepakati.
"Eliza, aku turut berduka cita." Kali ini dia memanggil namaku dan menyampaikan ucapan bela sungkawanya. "Upacara pemakaman sudah selesai?" Mungkin dia tahu dari Paman David.
"Sudah empat hari yang lalu. Kami sekeluarga memang sudah bersiap untuk kemungkinan terburuk, hanya tak ada seorangpun yang bisa siap dengan hal seperti itu. Terima kasih atas waktu yang kau berikan untukku."
"Nampaknya Ayah sangat penting bagimu."
"Aku mengikutinya menjadi tentara karena aku sangat mengaguminya. Walaupun Ibuku menentangku karena aku anak perempuan, tapi tidak ada yang bisa menghentikanku untuk mengikuti jejak Ayah."
"Membabat perwira menengah dalam dua tahun pertama. Itu jelas sangat membanggakan Ayahmu." Ternyata dia tahu hal itu.
"Well, nampaknya kau banyak tahu." Aku meliriknya sambil melipat tangan di depan dada.
"Dulu seseorang melakukan riset dengan baik." Aku tertawa dan dia membalas dengan senyum. Aku suka senyumnya sekarang. Perwira tinggi yang nampaknya punya degree ekonomi ini sangat menawan.
"Soal aku membabat perwira menengah dalqm dua tahun, sebenarnya itu karena aku punya privilege, diantaranya pengajar private yang cakap dan pendidikan yang kutempuh sebelumnya." Bagaimana tidak, Ayahku sudah menyiapkanku sejak awal, latihan fisik bahkan sudah kujalani sejak aku belum masuk akademi.
"Ya aku mengerti."
__ADS_1
"Kenapa kau masuk militer?"
"Karena Ayahku juga."
"Oh ternyata Ayahmu juga orang militer."
"Iya dari Angkatan Laut." Aku senang dia tak ragu berbagi sedikit soal latar belakangnya.
"Ternyata Ayah kita semuanya idola kita bukan."
"Iya... kita punya previllege yang sama nampaknya." Aku ingin mengatakan padanya bahwa aku senang punya sedikit kesamaan, tapi takut itu terlalu terlihat 'mendekati', jadi tidak kulakukan.
"Ibumu sehat?"
"Dia memang agak sakit, tapi kondisinya jauh lebih baik dari Ayah." Pembicaraan sedikit bergeser di awal pertemuan. Mungkin dia ingin terlihat simpatik untuk melancarkan deal. Aku penasaran apa yang dia inginkan sebagai kesepakatan.
"Aku tidak bisa memberimu 35% saham, hanya 30% yang disetujui." 30% adalah jumlah minumum yang disetujui. Berarti aku punya kemungkinan deal, tapi apa yang dimintanya setelahnya.
"....dan kami ingin bantuan investasi di Alaska, membuka kembali industri pengalengan di sana yang bangkrut. Menghidupkan tiga pabrik pengalengan besar ini. Agar nelayan di sana segera bisa bekerja, ini daftar insentif khusus yang akan kau dapatkan selama dua tahun pertama."
Tiga pabrik, itu bukan investasi main-main, kami memang bergerak di bidang bisnis ini, tapi memang sudah ada faselitasnya, jadi kami tak membangun dari nol, walau ditinggalkan 3-4 tahun pasti banyak kerusakan, aku membaca daftar insentifnya, potongan pajak, kemudahan perizinan, ini ditetapkan sebagai bangunan pemerintah, aku harus membayar sewa asset selain pajak, tapi setelah 15 tahun bisa beroperasi aku bisa memiliki 100% share atas asset tanah dengan membayar 75% harga gedung.
Mereka ingin menjalankan roda ekonomi segera dan melakukan hal ini.
__ADS_1
"Aku harus membayar sewa 15 tahun? Ini 50% dan akan aku maju ke investment board." Aku harus menawar tentu saja, tak mungkin aku menerima mentah-mentah tanpa menawar kesepakatan.
"Setuju. Kau setuju dengan 30%?" Dia setuju dengan mudah? Ini kejutan yang meyenangkan.
"Aku setuju, tapi kami adalah pembeli utama yang tidak bisa diputus rantai permintaannya bagian itu tidak bisa berubah."
"Kami memang tidak merubahnya."
Selanjutnya perundingan berjalan lancar. Kami menyepakati beberapa hal lagi. Walau aku belum bisa mengatakan sudah selesai sepenuhnya karena soal investasi Kakakku harus menyetujui juga. Tapi keseluruhan hari berjalan baik.
"Ini. Terima kasih." Aku mengembalikan sapu tangan yang dia berikan padaku.
"Ohh, kau mengembalikannya." Dia tersenyum. Mungkin itu senyum tulus yang kutemukan darinya.
"Kau memberiku kesempatan untuk mendapatkan Ayahku lagi, dan memberiku kesempatan untuk memgucapkan perpisahan dengannya, kurasa aku berhutang semuanya padamu." Aku ingin mengatakan betapa aku menghargai semua yang dilakukannya untukku.
"Aku melakukan hal yang kuanggap benar untuk dilakukan."
"Ya, dan aku melakukan banyak kesalahan padamu." Dia tersenyum mendengar kata-kataku.
"Aku sudah memaafkanmu karena tahu alasanmu."
Betapa leganya aku karena dia mengatakan itu. Rasanya sebuah ganjalan terangkat.
__ADS_1
"Kalau begitu aku akan bertemu denganmu nanti."
"Kita akan bertemu lagi nanti." Kali ini kami berpisah dengan saling tersenyum Mungkin lain kali aku bisa melihat tawanyĆ lagi.