BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 21. Intimidation 3


__ADS_3

"Untung saja kau memberiku libur kemarin. Jika tidak aku akan dalam mode badmood karena pujian pilih kasih itu. Tenang saja akan kusingkirkan Shasa yang naif itu."


Dan begitulah, diruang lobby hotel Anna sudah duduk di dekatku, dengan dandanan menonjolkan assetnya, rambut indah, d*ada penuh, kaki langsing, bod*y gitar spanyolnya, bahkan memakai baju berwarna merah. Laki-laki yang melihatnya akan merasa kalau mereka rela menukar apapun untuk bersamanya.


"Dia 30 meter sampai, beraktinglah." Anna pura-pura menunjukkan sesuatu padaku di ponselnya dan menempel dekat padaku. Sementara aku mer*angkul pingga*ng rampingnya dengan akrab.


"Hallo Alex,..." Shasha sampai ke depanku, dia jelas melihat Anna dengan terganggu.


"Ohh Shasha, duduklah, sebentar mobil kita akan dipanggil Anna. Dia assisten pribadiku." Aku melihat ke Anna. "Sayang panggil mobil kita. Oh ya ini Shasha, dia yang kukatakan padamu akan ikut kita."


"Hallo Nona Shasha, senang bertemu denganmu." Anna melihat Shasha dengan pandangan menang jauh. Dia tersenyum dengan manis.


Aku dan Anna mengobrol dengan lancar, hampir melupakan Shasha ada di depan kami sambil menunggu mobil kami sampai di depan lobby. Jelas Shasha merasa kalah, wajahnya menunjukkan kalau dia tak suka dengan Anna.


"Boss, mobil kita sudah sampai." Anna berdiri, aku mengikutinya.


"Shasha ayo." Kami berjalan ke mobil bersama. Anna membiarkanku masuk duluan ke mobil, aku tahu maksudnya supaya dia bisa duduk di tengah, menghalangi antara aku dan Shasha, tapi gadis itu malah berjalan memutar ke pintu lain menghindari Anna dan duduk di sampingku. Anna memutar matanya begitu tahu dia memutar ke pintu di sisi lainnya.


Dia berhasil duduk di sampingku.

__ADS_1


"Assiten yang sangat terampil." Dia berbicara bahasa Russian. Dia pikir Anna tidak mengerti apa yang diucapkannya tadi Anna bicara bahasa Inggris saat berbicara denganku.


"Dia memang terampil. Jala*ng ini sangat tahu bagaimana membuatmu senang." Aku membalas perkataannya dengan senyum lebar. Anna menyipitkan matanya ke Shasha.


"Apa maksudmu. Aku terampil, apa urusanmu dengan apa yang kukerjakan. Kau belum melihat ketrampilanku, mau belajar denganku cyka (b*itch)." Dengan lancar Anna membalas perkataannya. Shasa kaget Anna bisa membalasnya begitu panjang dan bahkan tahu umpatannya. Aku menahan tawaku. "Boss, cyka ini cemburu denganku, bukankan dia saudaramu, bagian mana dari dia yang bisa dibandingkan denganku." Perkataan Anna selanjutnya membuatku tertawa terbahak-bahak.


"Kau bisa bahasa Russian?"


"Kukira lebih baik darimu. Kau mau mendengarku membuat puisi menyayat hari tentang pohon kering yang ditiup angin musim dingin." Anna mulai menyerangnya, dia menyindir sosok Shasha yang kurus dan tak bisa dibandingkan dengannya.


"Pohon kering tertiup angin apa maksudmu." Aku terpingkal sekarang.


"Maksudnya alalah tidak ada bagian darimu yang bisa dipega*ng, kau hanya akan membentur tula*ng boss, apa bagusnya bera*du dengan tulang."


"Kau sendiri kenapa ingin berada di sampingnya. Kau pikir kau bisa menyaingiku?"


"Aku tak sudi bersaing denganmu!"


"Bilang saja kau sudah kalah."

__ADS_1


Jika Shasha menyerangnya balik dia bisa mengatakan maksudnya adalah puisi tentang musim dingin secara sastra dan dia terlalu perasa. Dan bagaimanapun gadis itu akan kalah bicara dengannya.


Ini hiburan yang menyenangkan. Anna memang luar biasa, punya dia di sampingku jelas bantuan yang sangat besar.


"Kau jangan terlalu lancar bahasa Rusia, mungkin dia tak mengerti, bahasa Russianya tak sebaik kau." Aku berkata kepada Anna.


"Ahhh, aku lebih baik? Benarkah? Kau perlu guru yang bagus nampaknya. Menyedihkan, kau tak tahu bahasa Ibumu sendiri."


"Aku tak perlu kau menyinggung soal bahasaku, urus hidupmu sendiri." Sekarang gadis itu marah. Dan dia tidak mungkin menghabiskan waktunya di pesawat dengan mencoba duduk di samping kami.


"Kau marah rupanya, salahmu sendiri mulai duluan." Misi Anna sudah sukses kali ini. Tak tahu jika nanti dia memutuskan menjadi keras kepala dan masih mencoba meneleponku.


"Kau hanya assisten, jangan besar kepala." Akhirnya dia mengatakan sesuatu untuk menyerang Anna.


"Aku besar kepala? Kau yang tiba-tiba mengataiku ja*lang, aku hanya membalas mengataimu."


"Baiklah, kita sudahi pertengkaran ini. Kita punya delapan jam penerbangan di depan, kurasa kita tak bisa berada di row yang sama.


"Setuju." Anna langsung menyambar.

__ADS_1


Dan Shasha tidak mengatakan apapun. Kembali ke Montreal, bagaimana kabar Svetluny-ku. Mungkin aku harus mengirimkan bunga untuknya lagi...


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2