
Kami berhasil menemukan sebuah gaun putih yang cantik. Dimana? De Angelo mencarinya di sebuah toko pakaian terbengkalai di dekat sini.
Tentu saja. Uang kami tak bisa diambil, gaji tentu saja tidak dibayar, pemerintah menghidupi ratusan juta pengungsi, semua orang berusaha agar tetap hidup. Semua sekarang berjalan seperti negara sosialis, pemerintah menjalankan semua yang bisa dijalankan, pabrik-pabrik, pekerjaan, pelayana, semua manusia sama sekarang. Sama-sama bertahan dari parasit pemakan daging dan otak.
Tak ada tempat untuk kesombongan dan keegoisan lagi. Karena jika kau melakukan itu, dengan senang hati kau akan dilempar ke pemakan daging diluar sana. Ekonomi hancur sampai ke dasar, kami hanya bisa bertahan.
"Ini untukmu. Sedikit hadiah yang bisa kutemukan untuk acara besok. Bukan membelinya, tapi mencarinya."
"Ini, gaun berwarna putih. Astaga ini cantik sekali."
Susan menangis terharu saat dia mendapatkan dan melihat hadiah yang didapatkannya dalam kantong kertas.
Aku juga ikut gembira melihat Susan mendapat gaunnya, disaat sulit begini D'Angelo tetap berusaha memberikan sesuatu.
"Kau akan jadi pengantin yang cantik Susan sayang,..." Aku dan seorang teman lagi ikut berbahagia untuknya.
"Terima kasih." Dan dia memeluk D'Angelo.
Aku iri. Andai Fred kembali sekarang. Andai dia kembali, tapi sampai sekarang tetap masih tak ada kabar.
"Jen, mungkin kau harus mendoakannya. Ibu sudah berusaha mencarinya ke pusat orang hilang, tapi tak sekalipun namanya muncul. Ibu disini hanya bisa berdoa untuk jiwanya tenang." Ibunya kehilangan harapan dan sudah merelakan Fred. Aku benar-benar terpukul saat mendengar itu ditelepon kemudian. Tak ingin percaya, Ibu menyerah ...
"Ibu tak bisakah kita berharap sedikit lagi."
__ADS_1
"Jen, kau tahu, jika diluar sana dia masih hidup dia pasti menemukan Ibunya, tak mungkin dia membiarkan Ibu menunggu khawatir disini, dan dia berjanji kembali untukmu. Sudah lebih dari dua musim Jen. Lebih dari 7 bulan, Dallas dan El Paso cuma 10 jam perjalanan. Dia montir, dia orang yang kuat, pintar, apa dia tidak bisa mencuri mobil dan mengusahakan kembali ke sini setelah berbulan-bulan. Kau tahu jawabannya kenapa itu bisa terjadi..."
"Ibu..."
"Ibu tahu, kau sama sakitnya dengan Ibu. Tapi merelakan jiwanya rasanya membuat Ibu lebih tenang. Tiap malam Ibu mengkhawatirkannya, dengan percaya Tuhan menjaga jiwanya entah kenapa Ibu lebih tenang dan jika ada keajaiban terjadi dia kembali. Ibu akan menerima itu sebagai keajaiban. Jen... kau harus merelakannya. Itu kenyataannya, lanjutkan hidupmu tanpa beban, tanpa penyesalan apapun..."
Pesan itu membuatku menangis lagi semalaman lagi. Susan yang menemukanku terisak sendiri.
"Jen, kau baik-baik saja."
"Tidak aku baik. Tidurlah aku hanya ..."
"Ada apa? Sesuatu terjadi?" Aku tak ingin membebaninya dengan cerita sedihku di hari pernikahannya besok.
"Kemarin kau baik-baik saja, apa ada berita tentangnya."
"Bukan, hanya Ibunya menyerah mencarinya di pusat orang hilang. Dan menganggap dia mungkin sudah, ... " Aku tak sanggup melanjutkannya.
"Bersabarlah... aku tahu ini tak mudah. Tapi memang seperti kata Ibunya merelakannya mungkin lebih baik. Jika dia sudah diatas sana, dia juga tak ingin kau seperti ini. Dia selalu ingin yang terbaik buatmu. Tidakkah kau ingat itu... Dia tak ingin kau menunggunya bertahun-tahun tanpa kau bisa ..." Susan merangkulku dan tak melanjutkan kata-katanya.
"Aku minta maaf, kau seharusnya tak mendengar ini. Besok hari bahagiamu... Aku seperti merusak hari bahagiamu."
"Apa yang kau katakan. Aku temanmu... Aku bahagia kau bahagia, kau sedih aku sedih, kita saling memiliki satu sama lain." Rangkulannya membuatku merasa lebih baik. Setidaknya di sini aku mempunyai teman seperti saudara. Aku menyeka air mataku.
__ADS_1
"Jen sayang, sudahlah... lepaskan bebanmu, Ibu Fred benar. Kita manusia kadang tak bisa memaksa keadaan menjadi benar, kita berusaha, tapi tetap saja takdir mungkin bukan wilayah kita."
Aku diam lama. Apa takdir ini begitu kejam. Tapi takdir juga yang menjungkir balikkan dunia ini. Aku bukan satu-satunya yang kehilangan. Ini kenyataan yang harus aku terima, aku tak bisa melawan takdir, memaksa Tuhan mengikuti keinginanku. Aku hanya bisa menerimanya.
"Terima kasih Susan. Aku membuatmu sedih..."
"Kita saudara disini, senang dan sedih kita tanggung bersama."
"Kau harus tidur, kita tak punya make up mencukupi jika kau punya kantung mata." Aku tertawa untuknya.
"Aku sudah dilahirkan cantik, ...tak perlu make up."
"Dasar sombong..." Aku tertawa kecil. "Sana tidurlah."
"Jangan menangis lagi. Sudah cukup kau menangisinya, itu tak bisa membuatnya kembali." Susan merangkulku lagi.
"Iya, aku tahu."
Tangisanku tak bisa membuatnya kembali.
Harapanku sia-sia. Dan air mataku tetap menetes.
Aku tak tahu kapan aku bisa merelakannya walaupun aku tahu itu sia-sia.
__ADS_1