
Dia bercerita dengan pelan soal saat-saat dia kembali ke Rusia setiap tahun. Aku membayangkan, mungkin baginya hal terberat adalah dia tak pernah melewatkan hari raya dengan Ibunya. Dia bilang Ibunya sudah meninggal saat dia bayi.
"Hmm... terdengar pekan yang penuh kegembiraan. Kalau begitu buatkan aku blini. Apa kau bisa membuatkannya." Aku mengetes apa yang akan di jawabnya, dia bilang selama Maslenitsa kekasih saling membuatkan blini.
"Bisa, nanti kubuatkan." Dia menjawabku dengan ringan. Dan aku memandangnya perasaan campur aduk. Aku suka teman mafia rusia ini, apa dia sudah menganggapku kekasihnya sekarang, apa yang ada di hatinya itu.
Perasaan ini terlalu memabukkan, aku takut pada diriku sendiri, tapi satu hal aku belum terlalu mengenalnya, walaupun dia terlalu baik padaku. Dan tidak ada perasaan terancam saat bersamanya. Tapi menjadi kekasih, mungkin aku akan patah hati karena dia harus kembali ke Moskow satu saat nanti. Aku tak bisa meninggalkan Mom dan pergi begitu jauh menyeberangi lautan dan benua.
"Kenapa kau melihatku seperti itu, kau tak percaya aku bisa membuatnya."
Kami baru beberapa kali bertemu. Tapi bahkan dia memberi alamat rumah pribadinya padaku.
"Siapa yang mengajarimu?"
"Bibi Irina, dia penganti Ibu untukku. Dia yang selalu mengunjungiku di sini."
"Bibimu itu pasti tipikal Bibi yang sangat baik hati. Dia meluangkan waktu menyebrang dari Timur Eropa ke Kanada."
__ADS_1
"Iya. Dia sangat baik." Bahkan dia menceritakan padaku keluarga intinya, seakan nanti aku punya kesempatan untuk bertemu dengan mereka.
"Nampaknya kau menganggapnya sebagai penganti Ibumu."
"Iya kau benar, aku memang mengangapnya sebagai penganti Ibu."
Tak lama kemudian kami tiba di Marche, yang memang dekat. Aku melihat-lihat rak makanan, berakhir dengan mengambil beberapa coklat, salad, buah dan makanan ringan. Menawarkan padanya, kali ini aku tidak ingin dia yang membayar, aku membelikannya beberapa yang terlihat enak, dan akhirnya berakhir di rak es krim.
"Ehmm...yang mana? Karamel dan Strawberry?" Binggung memilih. Hanya membatasi diri memilih satu karena sebagai model aku harus memperhatikan asupan kaloriku. Jika aku membeli dua akan menjadi siksaan bagiku jika tidak menghabiskannya.
"Kau mau?"
"Tidak."
"Jadi satu saja. Kecuali kau mau share denganku...." Kukatakan kenapa aku tak membeli dua cup.
"Baiklah kita share." Momen belanja ini jadi seru ketika dia tak keberatan sharing cup eskrim denganku. Dia mendorong keranjang kecil kami, dia mengambil beberapa buah yang dia inginkan.
__ADS_1
Pelayan menyebutkan jumlah yang harus kubayar, aku menyodorkan kartuku, tapi dia malah mengambilnya dari tangan pelayan toko dan menganti dengan kartunya.
"Aku yang bayar, Nona tunggu dulu. Kembalikan kartuku cepat." Aku langsung meminta kartuku yang raib ke kantong jasnya. Pelayan itu harus menunggu pertengkaran remeh kami. "Kali ini aku yang bayar. Ayo mana kartuku, kenapa harus selalu pria yang membayar..." Tanganku masih meminta, dia malah mengambil lembaran uang di dompetnya. Untuk apa?
"Tap saja kartuku. Ini tipmu Nona." Dia menaruh lembaran uang, sang pelayan dengan cepat tersenyum, tangannya bergerak dan dengan cepat alat pembaca kartu itu mengeluarkan suara terbayar.
"Ini kartu Anda Sir. Terima kasih" Pelayan dengan cepat memberikan kantong belanjaan. Dia dengan senyum kemenangannya mengambil kantong belanja kami dan menyerahkan es krim ke tanganku dan melangkah maju meninggalkanku.
Aku harus menyusulnya di belakang.
"Ini enak, aku juga suka merk es-krim ini." Dia langsung mengalihkan pembicaraan dari pembayaran belanja ke rasa es-krim dan mengembalikan kartuku yang kuterima dengan kesal.
"Kenapa harus kau yang terus membayar. Teman saling membagi tagihan mereka." Dia melihatku dengan senyum dibibirnya tapi menolak menjawabku. Mafia Rusia ini, mungkin membayar billku adalah kebahagiaan untuknya. "Alexsey, bisa kau menjawabku, kena-..." Kata-kataku belum selesai ketika dia memutuskan menyuapkan es-krim karamel kepadaku dan menghentikan kata-kataku.
"Makan, enak bukan. Kenapa kau cerewet sekali itu hanya masalah groceries dan es krim. " Aku terpaksa menelan eskrim itu. Dia tidak bisa di debat soal pembayaran yang memang tak seberapa itu.
"Diktator." Aku masih mengajaknya bertengkar. Dia membiarkanku mengatakan apa yang kumau dan tetap menikmati eskrimnya. Aku akhirnya berhenti mendebatnya dan duduk dengan tenang di mobil.
__ADS_1