
POV Eliza
Aku terbangun dengan perasaan asing, seseorang terasa menyentuh pungg*ungku. Lalu kuingat Jenderal itu dibelakangku, hari ini aku tak terbangun sendiri. Aku berbalik dan mendapatkan dia sudah bangun dengan ponsel di tangannya.
"Pagi, ..." Aku menyapanya dengan hangat.
Semalam menyenangkan dan sikapnya sempurna, membuatku merasa istimewa. Walaupun mungkin itu akan berakhir hari ini. Tapi tak ada yang kusesali tentang semalam.
"Pagi." Dia merengkuhku dalam pelukannya, aku agak kaget. Kupikir sikapnya semalam karena kami sama-sama panas. Tapi sekarang dia masih memelukku seolah kami memang benar sepasang kekasih.
Kupikir dia akan pergi semalam, tapi dia bersedia tinggal. Entahlah, mungkin dia hanya kelelahan. Tapi jelas aku senang. Aku menatapnya yang balik menatapku.
"Jenderal,..." Dia memotongku bisikan serakku.
"Apa aku membangunkanmu, kau bisa mengabaikanku. Panggil aku Gilbert, panggilanmu itu hanya berlaku di saat khusus." Aku meringis lebar, aku suka memanggilnya Jenderal. Rasanya seperti memanggil seseorang yang merupakan pelindungmu.
"Berlaku di saat khusus? Contohnya?" Aku mendekatkan diri padanya. Dia sudah memakai baju kaus dalaman hitamnya, tapi tetap saja, lengannya yang tebal sangat itu menarik perhatianku.
__ADS_1
"Wonder woman, kau jangan mencari perkara." Aku juga tak suka dipanggil wonder woman.
"Panggil aku Eliza, Jenderal. Aku boleh begini saja?" Dengan berani aku menyusup masuk ke lengannya, dan memeluknya, memejamkan mataku, aku hanya suka merasa terlindungi begini.
Seseorang yang punya kekuatan melindungiku dan keluargaku. Sebentar saja mimpi ini kumohon jangan berakhir dulu. Dia merengkuhku, entah apa artinya, mungkin hanya berterima kasih atas semalam. Aku tak akan memintanya berjanji apapun tapi hanya jam-jam terakhir ini yang kupunya sekarang. Hanya ini, setelah ini mimpi ini akan berakhir, kami hanya di pisahkan oleh jarak dan waktu.
"Apa kau senang." Tiba-tiba dia bertanya.
"Aku senang kau masih tinggal sampai sekarang. Apa itu yang kau tanyakan, kupikir semalam kau akan pergi, tapi kau ternyata tetap tinggal, tentu saja aku senang. Kau mau menemaniku sarapan bukan?" Aku memandangnya diantara rengkuhan hangat lengannya.
"Tentu."
"Apa kita akan bertemu lagi?"
"Iya mungkin."
"Apa yang tak mungkin, aku juga berpikir kita tak akan bertemu lagi sebelumnya. Tapi sekarang kita di sini."
"Hmm... iya itu benar. Tapi aku akan menganggap itu hanya hadiah kejutan. Menyenangkan, tapi keberuntungan tak datang dua kali bukan. Terima kasih untuk semuanya."
__ADS_1
"Kau berkata-kata seakan pertemuan kita adalah sesuatu yang sama sekali mustahil. Kenapa, kau punya semacam pertunangan dengan keluarga terpandang di Kanada yang di rencanakan keluargamu, dan setelah ini kau terikat dalam perjanjian?" Aku tertawa dengan tebakannya.
"Kau pikir aku mau?"
"Aku mendengar banyak yang begitu."
"Aku curiga kau yang akan begitu sekarang. Benarkah? Jujurlah padaku." Dia tersenyum.
"Dulu sekali, sebelum semua kiamat ini, aku hanya perwira menengah, ya benar Ayahku jenderal, kami bisa di bilang keluarga yang cukup berada. Ayahku mengenalkanku kepada seseorang rekannya dan aku berkenalan dengan seorang wanita cantik. Dengan cepat aku terpesona padanya, kalau boleh dibilang dia seperti adikmu, seorang wanita yang tanpa usaha bisa membuat perhatian beralih padanya. Kami semacam dikenalkan oleh keluarga di sebuah makan malam oleh Ayah kami, tapi dia langsung memandangku sebelah mata, pengejarnya adalah rata-rata anak keluarga yang masuk Forbes. Setidaknya kau harus masuk Forbes Amerika untuk bisa duduk dengannya. Kata-kata pedas itu diucapkan di depan umum saat sebuah pesta di depan teman-temannya, aku yang bangga dengan seragamku, aku berjuang keras untuk garis demi satu garis di bahuku, dan menjadikan Ayahku sebagai teladan , tapi di depan tuan putri itu,... baginya seragamku hanya hiasan tak berarti, yang dilihatnya adalah berapa peringkat keluargamu di Forbes, aku masih kuingat kejadian itu sampai sekarang,..."
"Apa tuan putri itu keluarganya masuk Forbes." Aku penasaran dengan cerita itu.
"Tidak sama sekali. Ya tapi mungkin masih diatas kami."
"Tapi keadaan sekarang berubah, malah kami yang diatas dan punya banyak hubungan penting. Malah dia yang nampaknya berbalik mengejarku sekarang. Aku sebenarnya agak alergi dengan putri keluarga kaya."
"Seperti aku." Aku melihatnya.
"Tidak, aku mengenalmu dari militer, itu cerita yang berbeda. Kita menghargai dunia militer. Tapi Tuan Putri itu mungkin lahir dengan sendok emas di depan wajahnya. Dan tak pernah bekerja keras untuk mendapatkan sesuatu.
__ADS_1
"Dia berusaha mengejarmu sekarang?" Aku penasaran sekarang.
"Mungkin dia percaya bahwa wanita cantik itu punya keuntungan gampang di maafkan. Dia masih berusaha sampai sekarang." Aku tertawa.