
Seperti janjiku aku hanya akan menangis sekali saja atas harapanku yang hilang. Setelah itu tak akan ada tangisan tak berguna lagi.
"Kau melihat Andrew mengandeng seorang wanita kemarin."
"Aku melihatnya, dan mari kita tidak bicarakan ini lagi. Lupakan tentang dia. Apapun yang akan dia lakukan terserah padanya. Aku tak ingin tahu lagi. Kau benar, aku seharusnya mendengar kalian."
"Baiklah, anggap saja aku tak pernah membicarakan ini. Tapi kau terlihat senang pagi ini? Kenapa?" Aku langsung tersenyum lebar.
"Aku akan mengikuti James bekerja di Atlanta musim semi ini. Aku akan jadi assisten pelatihannya untuk obat eksperimental melawan parasit itu karena aku dan James sudah pernah berhasil dengan pasien kami. Aku senang aku akan bekerja di kota besar lagi...." Sekarang aku menceritakan keadaan Atlanta yang aku tahu dari James.
"Ahh kau akan pergi. Aku akan kehilangan kau."
"Kau punya D'Angelo-mu sayang." Dia tertawa saat aku menyebut suaminya itu.
"Dia berbeda. Kita tak bisa lagi menggosip." Aku meringis.
"Aku akan meneleponmu jika bisa." Susan tersenyum.
"Tak apa, jika kita bisa kembali ke El Paso nanti, entah berapa tahun lagi, kita punya banyak waktu untuk bercerita. Yang penting kau bahagia ..." Dia memelukku, sahabatku yang sudah kuanggap keluarga karena aku tak punya keluarga di sini.
__ADS_1
"Kau pergi bersama James, sahabat kakakmu itu sangat memikirkanmu."
"Kurasa aku beruntung punya dia. Javier bilang dia akan menganggapku lebih dari yang kupikirkan. Tapi kau tahu rasanya dia benar menempatkan diri sebagai penganti kakakku."
"Mungkin dia takut pada Kakakmu, mungkin dia tak berani karena kau adik sahabatnya... Mungkin kau bisa menggodanya sedikit. Dia tetap pria. Kalian dekat, apa yang tak bisa terjadi. Sekarang tanpa adanya orang ke tiga, Andrewmu itu."
"Menggodanya? Aku tak yakin aku berani, apa yang dipikirkannya nanti..."
"Gadis bodoh, buatlah itu seperti tak sengaja." Aku meringis. Seperti tak sengaja. Aku harus bertanya apa yang dimaksud dengan tak sengaja itu, Susan lebih ahli membuat semuanya tak sengaja nampaknya. "Kau harus berusaha sedikit. Jangan hanya menunggu saja. Apa salahnya menggoda sahabat kakakmu yang terlalu baik padamu..."
"Aku tak tahu... Kita lihat aja nanti."
Aku tertawa. Yah mungkin, kupikir dia baik tapi sekali lagi dia pernah bilang dia orang yang mementingkan karier di atas segalanya. Jadi mungkin hubungan kami tak begitu penting untuknya.
Aku menikmati musim dingin ini sebagai liburan. Berterima kasih kepada Javier yang membuatku sadar.
Aku melewati Andrew saat kami bertemu. Dia sudah menentukan sikap, kurasa aku juga tak ingin membahasnya.
"Kudengar kau akan ke Atlanta." Akhirnya di sebuah sore dua minggu sebelum kepergianku dia menghampiriku.
__ADS_1
"Iya. Semoga kau sukses di sini dan mendapatkan promosi ke kota yang lebih besar lagi." Aku melihatnya sekarang tanpa riak apapun di hatiku , jika ada pun aku bisa mengabaikannya.
"Semoga kau mendapat yang terbaik juga."
"Terima kasih kurasa, terima kasih juga untuk semua yang kau lakukan untukku." Kami berpandangan, ini hanyalah sebuah perjalanan kecil, beberapa bulan bersama , penuh bahagia dan disisipi aiŕ mata. Bagaimanapun kami pernah bahagia kurasa. Aku tak menyesali apapun. Dia membuatku bisa melupakan Fred. Tak apa ini hanya perjalanan.
"Aku pergi dulu, istirahatku hampir berakhir. Bye Andrew." Aku tersenyum dan melambai padanya.
"Bye Jen."
Selamat tinggal, karena mungkin kita tak akan pernah bertemu lagi. Kuharap kau pun akan baik-baik saja.
Musim dingin akan segera berakhir, pucuk hijau akan segera muncul dari salju yang mencair. Sudah lebih dari setahun sejak Fred pergi, aku mulai bisa berpisah dari bayangannya.
Kota ini mengajarkanku tentang merelakan perpisahan dan semua nampaknya tak sesuai dengan keinginanku. Tapi satu hal, aku tetap walau terluka aku tetap baik-baik saja akhirnya...
Selamat tinggal Hot Spring..
Semoga musim semi di Atlanta lebih baik lagi.
__ADS_1
\=\=\=\=\=\=\=