
Bel akhir ronde menyelamatkannya dari menjadi samsak lebih lanjut.
Aku kembali ke sudut beristirahat selama satu menit, sementara di depan sana pelatihnya memborbardirnya dengan petunjuk, aku memanfaatkan waktuku untuk istirahat. Aku sudah memforsir tenagaku dalam pertarungan dua menit tadi untuk menciptakan momentum kejutan.
"Kau menghajarnya tanpa ampun. Beri dia sedikit muka." Svetluny tiba di sampingku dia tersenyum setidaknya bangga karena aku tak menemui sedikitpun kesulitan untuk menghajar Sergei.
"Saat dia mengirim orang untuk mencelakaiku dia juga tidak memberiku muka. Tak perlu bersikap terlalu baik hati padanya." Aku membalasnya dengan baik sekarang.
Didepan sana pelatihnya masih memberinya banyak petunjuk yang kurasa tak berguna. Petarung alami dibentuk oleh waktu, tidak bisa dilakukan dengan dua atau tiga bulan latihan.
"Apa kau bisa bertahan menghajarnya seperti tadi di ronde kedua?" Svetluny bertanya sambil memberiku minuman.
"Ronde kedua bisa, aku akan mengendur di ronde ketiga."
"Apa kau terkena pukulannya, tadi aku melihat dia membalasmu."
"Pukulannya seringan kapas. Apa yang harus di takutkan."
"Pukulan seringan kapas. Kau benar-benar melebihkan dirimu sendiri Tuan Mafia." Svetluny meringis melihat aku sedikit menyombongkan dirimu sendiri.
__ADS_1
"Memang itu yang terjadi. Apa yang bisa kau capai hanya dengan tiga bulan latihan."
"Baiklah, terserah padamu. Sana pergi lagi hajar dia." Tanda waktu istirahat satu menit berakhir. Aku maju lagi ke depan.
Saat perlindungannya di buka aku sudah akan siap menghajarnya lagi. Di babak pertama keunggulanku mutlak. Aku tak tahu berapa nilainya tapi jelas itu jauh.
"Menyerah saja, kau tak usah babak belur setidaknya." Aku mencoba menaikkan emosinya, tak akan seru jika mendapatkannya hanya bersembunyi di balik cangkangnya.
"Dalam mimpimu aku menyerah." Semangatnya masih tinggi menjawab kata-kataku.
"Bagus bersiaplah kuhajar lagi."
"Mulai!"
Dalam sekejab kemudian mata kemudian aku maju lagi dan memulai pukulan-pukulan, sekarang dia lebih siap. Pertahanannya lebih rapat.
Dengan rapatnya pertahanan, walau aku tak bisa mengenainya dengan telak aku tetap akan menjadikannya samsak. Beberapa kali pukulanku akhirnya masuk, di akhir babak dia membuka pertahanannya dan mencoba memukul balik, akibatnya beberapa pukulan masuk, walau sesekali pukulan lemahnya juga mengenaiku itu harga yang sepadan bisa memukulnya dengan telak.
"Istirahat."
__ADS_1
"Beberapa pukulan tadi telak, kau puas sekarang." Svetluny datang ke sampingku. "Apakah sakit?"
"Pukulannya lemah tenang saja, dia orang yang baru belajar boxing." Dan aku sudah dari belasan tahun belajar membela diri. Beda anak manja dan anak yang diasingkan ini jelas.
"Baiklah, jangan kalah di round tiga." Svetluny dengan sigap memberikan minum.
"Tidak akan." Aku maju kembali begitu tanda istirahat selesai.
Round tiga, aku sudah memforsir tenaga, jadi sekarang aku hanya sesekali melepaskan pukulan, lebih membiarkan dia memukul dan membuka pertahanannya sendiri, aku akan sabar mencari kesempatan untuk memukulnya dengan telak.
Karena aku hanya bertahan tanpa membalas dia menjadi lebih berani menyerang dan melonggarkan pertahanannya, mungkin dia mengira aku sudah kehabisan tenaga setelah memborbardir dengan banyak pukulan di round satu dan dua.
Satu ketika aku melihat dia sama sekali tidak siap saat pukulannya meleset, aku langsung maju, satu pukulan undercut dengan mengerahkan seluruh tenaga yang tersisa sukses mendarat di rahangnya dan akibatnya dia terjatuh ke matras dengan keras.
Anthony maju melihat dia jatuh. Dia langsung mendapat hitungan.
"Satu.. Dua..."
Pukulan rahang telak tentu saja bisa menyebabkan seseorang yang tidak terlatih kehilangan orientasinya, hitungan ke 6 dia mencoba bangun tapi keseimbangannya masih terganggu, di hitungan 10 dia belum bisa bangun, Anthony menyatakan aku menang KO. Aku langsung meringis, akhirnya Knock Out juga.
__ADS_1
"Hebat!" Svetluny bersorak juga dari yang sebelumnya tak bersemangat dengan pertandingan ini. Kemenangan selalu membuat seseorang bersorak.