
"Nampaknya tempatku bukan di sini."
"Memang bukan. Ku dengar kau ingin mengajak Laura makan malam, keluarga dibawah top 500 tak bisa mengajaknya makan malam, kau harus tahu itu. Jangan bermimpi di tengah hari, kau bahkan tak punya nomor antriannya." Laura tak mengatakan apapun, hanya tersenyum dan tertawa, dia membiarkan teman-temannya membantaiku di meja itu.
"Baiklah, kalau begitu aku pergi. Tenang saja kalian tak akan melihatku lagi. Laura terima kasih telah mengundangku." Aku melihatnya untuk terakhir kalinya hari itu.
Jika dia tidak mau menerima undangan makan malamku dia tak perlu mempermalukanku begitu. Cukup katakan dia tidak mau aku tidak punya masalah.
"Ok, bye." Cuma itu yang dikatakannya.
Aku berjanji suatu saat mereka semua akan membayarnya. Dan tentu dimulai dari Laura, hari ini bahkan wanita ini bahkan tak bisa menjelaskan apa yang terjadi 6 tahun lalu. Ayah dan Ibu tak tahu, tapi dua kakakku tahu apa yang terjadi.
"Suatu saat saat kau bintang 3 atau empat seperti Ayah, kau akan membungkam mereka Gilbert. Wanita sombong seperti itu tak ada gunanya, dia tuan Putri yang hanya tahu makan dari sendok emas." Kakak pertamaku menyemangatiku.
"Benar, mental Tuan putri yang merasa dirinya seharga berlian seperti itu lebih baik dijauhi. Anggap saja keberuntunganmu. Suatu saat kita akan membuatnya membayarnya. Dasar sombong."
Dan 6 tahun kemudian, keadaan adalah seperti kami diatas. Kedua Kakakku dibantu dengan Ayah, Ibu dan aku yang sudah mengambil alih perusahaan berhasil membuat perusahaan bisa bertahan dan masih bisa impas setidaknya tanpa kerugian terlalu besar, dan langsung bisa berjalan lagi dalam tahun-tahun berikutnya, kami berhasil berlari dengan sementara mereka masih merangkak dari puing puing bisnis mereka yang hancur.
__ADS_1
Top 500, itu membuatku tertawa, mereka bahkan harus meminjam dari kami untuk memulai, di tambah aku yang duduk di divisi pemerintahan yang bisa mendukung bisnis kami maju dengan kecepatan lebih yang dari orang lain bisa. Ayahnya berhutang banyak kepada kami.
Tentu saja dia harus membayar penghinaan ini. Aku senang saat ini dia tidak bisa berkata apapun di depanku.
"Mungkin Gilbert sibuk Ayah, bagaimanapun dia pejabat penting. Kita tak seharusnya menganggunya dengan agenda kita." Aku tersenyum kecil. Bisa juga dia mengelak dengan bagus.
"Jika aku bisa aku akan kesana Paman. Tapi Paman tahu kadang para laki-laki bicara saat akhir pekan kadang tak menghiraukan waktu. Aku tak bisa meninggalkan acara sepertu itu."
Aku akan menyiksanya tak akan bicara terus terang apa yang terjadi, mengantungnya setengah memberi harapan ke orang tuanya, biarkan dia yang harus menjelaskan sendiri apa yang terjadi.
Sebuah ketukan terdengar di pintu.
"Sir, Anda harus menghadiri meeting dalam lima menit." Seperti yang kurencanakan, pembicaraan ini akan berakhir dalam sepuluh menit.
"Ohh baiklah Hilda. Terima kasih."
"Paman maaf, aku tak bisa menemanimu mengobrol terlalu lama. Aku tak menyangka kau akan ke sini." Aku menghargainya tak lebih karena dia sahabat Ayah. Jika dia memaksaku melalui Ayah dan Ibu akan kukatakan yang terjadi sebenarnya pada Ayah dan Ibu. Dan membiarkan Ayah dan Ibu menilai apa dia pantas menghina kami sedemikian rupa.
__ADS_1
"Tak apa Gilbert, nanti jika kau punya waktu saja." Aku mengantar Paman Charlie, Laura melihatku dan aku tak memperdulikannya. Sejak hari itu aku menganggapnya tidak ada lagi.
Sebuah pesan masuk tak lama kemudian untukku.
'Kenapa kau tak bilang kalau kau sudah punya pacar. Itu akan lebih mudah.'
Aku meringis menerima pesan itu. Pengecut juga, sama seperti tindakannya enam tahun memperlakukanku sebagai bahan olokan.
'Enam tahun lalu kau juga bisa mengatakan hal yang sama. Bahkan itu sangat mudah, hanya lewat pesan singkat.'
'Kau sangat pendendam.'
'Aku hanya melakukan hal yang sama. Akui saja yang terjadi pada Ayahmu dan kau akan dapat bebas dari kewajiban menemuiku. Itu lebih sederhana bukan.'
Dia tidak membalasku lagi. Mungkin Ayahnya akan memarahinya habis-habisan jika tahu. Terserah dia bagaimana menyelesaikannya. Aku tak mau tahu.
\=\=\=\=●●\=\=\=\=
__ADS_1