
"Kenapa kita membicarakannya sekarang. Kau masih punya banyak masalah yang harus kau hadapi. Kita bahkan belum bisa bersama. Jadi kenapa tidak nikmati saja apa yang ada." Dia menjangkau bibirku, membuat tangannya menyisip ke tengkukku. Tapi aku ak ingin mendapat masalah yang tidak jelas begini. Aku menahan wajahnya.
"Tunggu dulu, apa yang kau maksud masalah besar? Kau punya masalah besar di hubungan kita? Katakan apa?" Dia berhenti menatapku dengan tatapan seakan apa yang akan dikatakannya tak punya penyelesaian."Katakan Monica, apa masalah yang kita punya."
"Aku ... Kurasa kau dan aku tak punya masa depan, aku tak mau mengikutimu ke Moskow. Tapi aku senang bisa merindukan seseorang lagi..."
"Kenapa kau tak ingin ikut ke Moskow? Bukankah kau sudah terbiasa berpindah benua."
"Aku tak bisa meninggalkan Mom, aku sudah pernah harus meninggalkannya saat mereka menyuruhku pergi meninggalkan mereka saat di Ottawa saat infeksi terjadi, ..." Dia becerita bagaimana dia dipaksa membuat pilihan harus meninggalkan Ayah dan Ibunya saat infeksi terjadi. Dan sekarang dia memutuskan apapun uang terjadi dia tak akan meninggalkan mereka lagi.
"Aku tak akan meninggalkan Mom lagi. Jadi ya kupikir ... mungkin kita bisa berteman mesra saja nanti. Aku tak masalah dengan itu."
Aku diam mendengar jawabannya. Tapi aku tak bisa tak kembali ke Moskow, seumur hidupku apa yang kulakukan adalah untuk kembali ke sana.
"Tak apa. Tidak semua hubungan harus berhasil bukan." Dia tersenyum padaku. Aku tak pernah memikirkan ini kupikir pasti dia tak keberatan ikut. Sesaat aku diam dan mencari bagaimana cara membujuknya.
"Kau bisa kembali kapanpun kau mau ke sini." Aku mencoba menawar, tentu saja aku tak akan melarang jika dia ingin mengunjungi Ibunya. "Atau Ibumu bisa tinggal bersama kita di Moskow.
__ADS_1
"Tidak, aku tak ingin pindah, Ibu sudah tua, berpindah negara akan membuatnya tidak nyaman, Ayah sudah pergi, Eliza harus tinggal di DC, Albert tidak ada yang membantu, yang tinggal di sini hanya aku. Aku tak bisa meninggalkan Mom sendiri. Tapi kau masih beberapa saat di sini bukan. Jadi kita bisa bersama walau tak lama. Aku senang punya kekasih lagi, setidaknya kau bisa jadi kelinci percobaan bahwa kau tak apa setelah bergaul denganku. Kali ini kau yang jadi kelinci percobaan, tak apa bukan." Dia tertawa kecil, memberikan realita hubungan kami. Aku masih mencari cara di pikiranku.
Aku masih tak bisa menerima ini. Kupikir dia akan bisa digoyahkan.
"Tuan Mafia Rusia, bagaimana kesepakatan ini. Cukup bagus bukan?"
"Itu tisak bagus, aku tetap ingin kau ikut bersamaku. Aku tak ingin kita berpisah."
"Entahlah Alex, kennyataannya seperti itu. Aku sudah jujur padamu aku tak berharap banyak soal hubungan kita. Terserah pada takdir di depan aku akan menurut saja pada keadaan. Kata Kakakku cinta akan menemukan jalannya, tapi jika tidak berarti kau bukan orang yang ditakdirkan untukku. Itu saja, sebuah babak kehidupan baru akan dimulai lagi..Yang kulakukan sekarang adalah memanfaatkanmu."
Ciumannya mengapaiku. Aku menangkap pinggangnnya. "Kabulkan permintaanku."
"Buatlah malamku menjadi panjang dan berarti. Aku menyukaimu dan itu sudah cukup untukku. Aku ingin jadi yang pertama di sini. Jika mungkin jadi yang terakhir aku akan senang, tapi setidaknya aku sudah pernah masuk daftar prioritasmu."
"Kau tak akan pergi kemanapun, kita akan mencari cara agar tetap bersama." Kubelai rambutnya , dia tak aku tukar dengan putri rajapun akan kutolak karena aku sudah punya Svetluny seumur hidupku.
"Kalaun begitu aku juga berharap kita akan berhasil." Dia tersenyum padaku. Dia menarik tanganku dan membuatku jatuh menimpanya di bedku sendiri. Erangannya tercipta ketika aku menyentuhnya. Empat tahun sendiri bukan waktu yang singkat.
__ADS_1
"Tuan Mafia, kau memang gagah." Tangannya menyusuri perutku, menemukan lelukan yang membuat gadis-gadis tergila-gila. "Olahragamu nampaknya sangat bagus." Kucium dia karena terlalu banyak bicara. Tubuh lembutnya dibawahku membuatku tak sabar. Blouse dan roknya segera jatuh ke bawah kakinya dan semua pengalang yang ada padaku juga segera menghilang.
Dia tersentak ketika tekanan dari milikku menyentuhnya. "Aku mau kau ..." Dia menggeliat dengan tak sabar menginginkan tekanan yang atas tub*uh*nya lagi. Era*ngannya membuat siapapun tak akan bisa bertahan untuk memenuhi apapun keinginannya.
"Svetluny... " Lenguhannya membuatku ingin memasukinya lebih dalam.
"Alex... lagi tolong." Dia memejamkan mata menikmati apa yang kulakukan padanya. Dan tak lama untuk membuatnya berget*ar dengan tak terkendali.
"Sayang, kau mendapatkannya..." Dia menatapku dibawah sana dia mere(ma*sku hebat.
"Lagi... Kumohon." Dia menggapaiku, meminta ciuman panjangku lagi dan tekanan melenakan yang kuberikan padanya.
Aku akan membuat malamnya menjadi panjang, membuatnya memohon lagi dan tersengal bahagia. Ketika itu selesai dia memelukku dengan bahagia, wajahnya memerah dan senyumnya membuatku tahu dia menyukai apa yang kulakukan padanya.
"Aku akan mencari waktu menemuimu sesering mungkin Tuan Mafia."
"Gadis nakal, lihat dirimu, kau nampaknya sangat puas dan berlaku terlalu nakal. Kuhukum kau dengan suntikan besar nanti."
__ADS_1
"Ehm kau yang terhebat..Aku mau lagi..." Saat pertama itu terlalu berkesan. Tak mungkin kubiarkan si cantik ini pergi. Aku akan menemukan jalan agar dia selalu bersamaku.
"Kau yang tercantik."