BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 98. Go Away Now!


__ADS_3

"Aku hanya ingin melihat keadaannya." Andrew menjawab James.


Aku beringsut turun, mendatangi mereka, ini tak bisa dibiarkan, James bisa saja menuruti emosinya.


"Kau lebih baik melihat kekasihmu. Jangan ganggu dia. Pergilah, dia tak perlu kau kasihani. Kau yang mengejarnya, tapi kau juga menyingkirkannya. Sebenarnya apa maumu! Bangsat!" James mencengkram kerah Andrew dan mendorongnya ke belakang sehingga dia membentur dinding dengan keras. Tapi Andrew tak melawannya.


"James! Sudah hentikan!" Aku menarik tangan James yang ingin maju lagi.


"Kenapa kau keluar, dia tidak membelamu. Masuk, biar aku yang mengusirnya dari sini!" Kenapa James semarah ini. Tadi siang dia baik-baik saja. Lagipula Andrew mengirim orang untuk menjemput kami. "Bangsat ini yang membuatmu terluka!"


"James... sudahlah kumohon." Aku menariknya menjauh.


"Jen..." Andrew mungkin merasa bersalah. Dia baik, hanya memang bukan keberuntunganku.

__ADS_1


"Aku baik-baik saja, aku hanya jatuh karena kecerobohanku sendiri, terima kasih sudah kesini Andrew. Terima kasih sudah mengirim orang menjemput kami. Aku tak apa ... pergilah. Nanti kita bicara lagi."


"Kau tidak dengar! Pergi sekarang!" James masih berkacak pinggang ke Andrew. Dia menyalahkan Andrew, tapi aku tak pernah menyalahkan Andrew sebenarnya. Sementara perawat lain melihat keributan antara kepala instalasi medis ini dengan walikota. Ini akan jadi gossip di satu kota kecil ini.


"Baik. Istirahatlah. Jika kau butuh sesuatu bilang saja."


"Dia tidak butuh apapun darimu!" Andrew tak menanggapi James, tapi dia beranjak pergi. Aku dipelototi James sekarang. "Kau, siapa yang menyuruhmu bangun. Dia tak usah kau bela." Jamès malah marah padaku. Dan memasukkanku ke kamar. Teman-teman perawatku yang lain melihat kami. Aku benar-benar tak ingin ada kejadian ini.


"Kau tak usah membuat keributan. Dia sudah menolong kita."


"Aku tak mau tidur di bangsal. Aku mau kembali ke asrama. Ini cuma luka biasa. Aku tak mau memakai baju pasien ini." Aku masuk tapi tak suka keadaanku sendiri. Aku ingin ke kamarku saja.


"Tidak bisa! Kau tetap di sini. Kekasihnya yang manja itu juga tetap di bangsal sampai sekarang. Kenapa memang kalau di rawat di bangsal." Astaga dia membandingkan orang yang baru menjalani operasi dengan aku yang kepalanya hanya bocor. Aku turun.

__ADS_1


"Tootsie, naik!" Aku tak memperdulikannya. Aku tetap turun dan berjalan ke arah pintu.


"Aku tak mau jadi pasien, itu tidak enak. Aku hanya ingin istirahat dengan benar di kamarku sendiri." Aku berjalan keluar kamar dengan memegangi baju pasien yang terbuka belakangannya hanya diikat dengan pita ikatan piyama. Sebelum kepalaku pusing dan aku terpaksa berpegangan ke tembok lagi. James langsung menghampiriku.


"Sudah kubilang kau belum baik. Gadis keras kepala ini. Aku doktermu! Kau tak bisa menurut sekali saja." Dia memarahiku tapi tetap memegangiku karena melihatku pusing dan bersender ke dinding. "Kelly, tolong ambilkan kursi roda." Perawat junior yang berjaga itu langsung sigap.


"Terima kasih Kelly." Aku berterima kasih padanya.


"Nona Jen tak apa kami merawatmu, kau nampak belum begitu baik." Kelly menawarkan diri.


"Tak apa berada di kamar pasien akan membuatku merasa tambah sakit bukannya sembuh." Aku tersenyum dan berterima kasih padanya. "Doc, aku mau istirahat di kamarku saja." James terpaksa mendorongku ke kamar asrama mendengar apa yang aku katakan.


"Thanks James. Aku memang menyusahkanmu." Dia diam tak menjawabku. Aku melihat kebelakang padanya. "James? Kau marah padaku? Aku tak apa, besok aku akan istirahat dengan benar di kamarku. Aku janji tak akan bergerak banyak."

__ADS_1


"Tidak." Dia menjawabku dengan pelan. Entah apa yang dia pikirkan, yang jelas aku merasa menyusahkan banyak orang hari ini karena kecerobohanku.


__ADS_2