BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Episode 31. When the Danger is Near


__ADS_3

Day 25 After Defcon 2


Interstate 40, Hanryetta, Oklahoma.


-------



Interstate 40 Road. OK for Oklahoma


-----


"Bangun! Semuanya bangun..." Beberapa orang memanggil tengah malam buta saat sebagian besar kami sedang beristirahat. Aku langsung terbangun dengan kepala pusing.


"Apa!?" Aku melihat beberapa tentara memasuki kontainer bangsal kami dan membangunkan kami semua.


"Penerobosan keamanan! Tanda bahaya, pagar di bagian utara jebol! Saling menjaga sampai kondisi dinyatakan aman." Dia bicara dengan nada rendah.


"Kunci, gelapkan lampu dan awasi sekitar, melapor di radio jika kalian melihat sesuatu." Dia kemudian keluar dari bangsal kami, sementara seorang temanku memadamkan lampu. Aku meraba revolverku masih ada ditempatnya.


Aku melihat jam di ponsel, hampir jam 1 malam.


"Kepalaku pusing dibangunkan tiba-tiba, kita nampaknya harus bergantian berjaga. Ada delapan orang shift dua yang istirahat di bangsal dengan tempat tidur susun rapat yang bisa memuat 20 orang itu.


"Bagi empat orang per dua jam." Susan berkata sementara yang lainnya menyetujui. Segera kami membuat group. Aku, Susan berada dalam satu group dengan Olivia dan Janet.


Daerah ini merupakan titik operasi yang belum aman. Infantry baru memulai menyisir wilayah luas ini. Di Wilayah ini diperkirakan banyak orang hilang dan mungkin bisa dikatakan mereka bisa jadi infected.



Henryetta location Interstate 40 in map of USA


-------


Kami mengawasi jendela pandangan diluar kemudian. Berusaha tetap terjaga sambil berbicara pelan.


"Kita di daerah yang sama sekali belum aman. Sepertinya kejadian seperti ini akan sering terjadi. Kita sudah diperingatkan." Susan berbicara sambil berbisik padaku.


"Kau benar... Tapi untunglah bukan kita yang berada di tengah hutan sana." Dan aku langsung teringat Fred yang hampir 20 hari tidak kudengar kabarnya.

__ADS_1


Beberapa penjaga terlihat bergerak didepan kami. Tampaknya mereka menyisir daerah sebelah timur ke arah kamp pengungsi. Hanya ada sekitar 50an orang prajurit disini, sementara daerah yang harus diawasi cukup luas walau sudah diamankan. Dan kebanyakan officer komando dan prajurit medic untuk membantu kami.


Sudah sejam kami menunggu. Ketika tiba-tiba ada sesosok dengan langkah sempoyongan berjalan cepat dibawah cahaya lampu agaj jauh dari kami. Aku dan Susan terperanjat, pasti mahluk ini tadi bersembunyi. Tapi bagaimana bisa dia merusak pagar sendiri, tidak mungkin hanya satu.


"Laporkan..."


"Kontrol, kami melihat infected di depan bangsal istirahat perawat." Susan yang memegang radio ditangannya langsung melapor.


"Copy!" Aku langsung mengambil senjataku dan senter berlari keluar, sebelum aku kehilangan jejaknya.


"Kalian jaga pintu aku akan mengejar dan menembaknya."


"Jen!" Susan mengejarku yang sudah membuka pintu kontainer. Dia tadi ke arah kamp. Aku mengejar arahnya aku tak melihatnya lagi karena gelap.


Cahaya lampu kelihatan temaram. Aku berhati-hati mencarinya di kegelapan malam. Apa mahluk ini tak pernah istirahat.


"Jen!Jangan sendiri!" Susan menarik tanganku dan membentakku dengan merendahkan suaranya karena kesal sambil menarik tanganku.


"Sorry aku takut kehilangan jejaknya, tapi kita benar-benar kehilangan jejaknya sekarang..." Kami melihat sekeliling kami yang tak terlihat apapun lagi.


"Kemana infected itu..." Aku juga tak melihat apapun hanya kegelapan. Samar-samar lokasi kamp pengungsi terlihat beberapa ratus meter didepan kamu diantara pohon.


"Kita ke arah sana ..." Aku mengangguk. Kami berjalan bersisian dan mengcover area kiri dan kanan satu sama lain.


Kami bertemu dua orang prajurit yang juga sedang mencari.


"Kami tadi melihat infected, tapi kami kehilangan dalam gelap."


"Kami juga belum menemukannya."


Kami melihat sekeliling dan tidak ada pergerakan sebelum sebuah teriakan mengangetkan kami.


Sebuah tenda sebelah kiri kami berhamburan beberapa orang. Disana infectednya.


"Ada yang digigit disana!" Dua orang prajurit mendekati tenda itu sementara kami mengumpulkan orang yang tadi keluar. Suara teriakan masih terdengar


"Ada yang tergigit?" Semuanya menggeleng, tapi tetap mereka harus diperiksa untuk memastikan mereka tidak punya tanda infeksi.


Empat tembakan menggema kemudian. Membuat orang melangkah mundur kebelakang dengan ketakutan.

__ADS_1


"Suamiku masih disana, seorang wanita bersama seorang anak perempuannya mengguncang lenganku sambil menangis. Tampaknya tadi dia tidak sadar bahwa suaminya yang ada didalam sana..."


"Tenanglah, sudah ada para prajurit menolong..." Aku berusaha menenangkan tangisan mereka. Tapi jika dia tergigit parah di bagian tubuh yang tak memungkinkan amputasi, tak ada jalan lain bagi kami selain membunuhnya. SOP Operasi telah tertulis dengan jelas bahkan bagi anggota prajurit pun telah diberitahukan.


Dua orang prajurit keluar dan kelompok pengamanan lain datang. Mereka berdua keluar sendiri dan kesimpulannya tampaknya laki-laki itu tidak bisa selamatkan.


"Donald...suamiku didalam!" Wanita itu menghambur ke dalam tenda besar itu. Tapi prajurit menghalanginya.


"Nyonya, Anda akan melihatnya setelah kami melakukan sterilisasi. Maafkan saya tapi dia digigit di wilayah vital. Kami tak bisa menolongnya ..." Isakan tangis langsung pecah dari wanita itu dan anaknya, sementara kami hanya bisa bersimpati dengan pilu atas kejadian ini.


Beberapa prajurit kemudian datang untuk membantu sterilisasi. Dan kami harus menggiring orang-orang dalam satu tenda yang dimasuki untuk diperiksa kembali apa mereka punya luka dari serangan itu.


"Apa kalian yakin yang masuk hanya dua infected?" Aku bertanya kepada para prajurit.


"Pencarian kita baru menemukan dua ini setelah berjam-jam." Mereka menjawab dengan tidak yakin.


"Kalian baik-baik saja..."James ternyata mendengar keributan dari bangsal istirahatnya. Dia terburu-buru datang.


"Kami baik,..."


"Kalian menyusul infectednya kesini?"


"Iya, tadi kami melihatnya."


"Kalian mengambil resiko besar." Dia tampak kuatir. Sekarang aku sedikit terganggu jika dia menggangapku adalah orang yang tak bisa melindungi diri sendiri.


"Tenanglah James. Aku tahu apa yang harus kulakukan. Lagipula ini harus dilakukan daripada kita mendapat korban." Aku menepuk bahunya dan berlalu dari depannya.


Aku berlalu dari depannya. Kami menuju ke rumah sakut darurat untuk membantu memeriksa belasan pengungsi termasuk wanita dan anaknya tadi yang masih terus menangis.


Korban jatuh lagi malam ini. Jika saja aku bisa menembak infected itu tadi, sebuah penyesalan melintas dalam hatiku.


Suara rentetan tembakan terdengar kemudian. Kami tersentak. Ada infected yang ditemukan lagi.


"Satu infected dilumpuhkan di zona luar bangsal rumah sakit..." Radio komunikasi seorang prajurit berbunyi.


"Perhatian! Menuju zona utara belakang gudang amunisi. Ada kelompok infected di area pagar." Kenapa tiba-tiba banyak percobaan penerobosan. Apakah ada kelompok infected yang tiba-tiba berada disekeliling area ini.


Suara rentetan tembakan kembali terdengar kemudian. Suasana mencekam, tapi kami tetap harus tenang dan bersikap waspada. Membiarkan para prajurit mengendalikan keamanan di kamp seluas hampir 10 acre atau kau bisa bayangkan hampir seluas 10 lapangan bola.

__ADS_1


Sepanjang malam kami kadang mendengar suara tembakan. Tanpa kusadari sekarang aku telah menjadi terbiasa sekarang mendengar suara tembakan.


Tapi tetap saja aku ingin matahari segera muncul, karena kegelapan selalu menyisakan bahaya besar di dalamnya.


__ADS_2