
"Aku ingin ke DC." Aku langsung menelepon Gilbert dalam perjalanan ke bandara.
"Maksudmu sekarang atau kapan?" Aku memang tak ada rencana kesana, tapi pertengkaran dengan Mom membuatku tertekan.
"Sekarang."
"Kenapa mendadak? Kemarin kau tak bilang mau ke sini?"
"Aku bertengkar dengan Mom, aku hanya ingin pergi."
"Karena aku?"
"Karena perjodohan bodoh itu! Mereka pikir aku boneka tanpa perasaan!" Kuluapkan kekesalanku. Aku tak menyangka Mom akan menuruti permintaan Ibu Andrew. Apa dia tidak memikirkan perasaanku.
"Apa tak apa jika kau pergi seperti ini, tidakkah ini memperburuk keadaan?"
"Aku tak perduli, aku hanya ingin pergi dan bertemu denganmu."
__ADS_1
"Baiklah, datanglah. Aku mungkin pulang agak malam. Aku masih punya kewajiban menjenguk Kylie. Kau tak apa jika menunggu sebentar, akan kuusahakan alasan untuk bisa pergi cepat. Kau makan malam dulu oke."
"Iya tak apa, asal kita bertemu."
"Baiklah, kabarkan aku jika kau sudah mendarat oke. Hati-hati di perjalanan."
Aku tiba di apartment Gilbert jam 8 malam. Makan malam sendiri di bandara karena dia harus menjenguk Kylie tiap malam. Aku tahu dia juga punya kesulitan aku tak masalah menunggunya dengan sabar.
Aku menunggu di lobbynya, sementara dia mengusahakan alasan supaya dia bisa kembali secepatnya.
Setengah jam terasa singkat ketika aku bisa melihat sosoknya lagi. Dia berjalan cepat memasuki lobby dan melihat aku melambai padanya. Seulas senyum hangatnya menyapaku membuatku ikut tersenyum padanya.
"Aku juga merindukanmu. Kau baik-baik saja?"
"Aku hanya tertekan. Sekarang setelah melihatmu rasanya aku baik-baik saja." Sebuah ciuman di keningku membuatku tahu dia juga merasakan perasaan yang sama. Hubungan jarak jauh ini berat dengan semua penolakan di sekeliling kami dan kami hanya bisa saling bertemu begini untuk saling menguatkan.
"Ayo kita ke atas saja." Dia melepas pelukannya dan merangkul pundakku, kami berjalan bersama ke atas.
"Rasanya lama sekali aku tak melihatmu." Aku membalas rangkulan eratnya sambil berjalan dengan segera. Kami berjalan bersama, rasanya saat ini berharga sekali karena kami jarang bisa bertemu.
__ADS_1
"Aku senang kau memutuskan ke sini.Rasanya kejutan yang sangat manis akhir minggu ini. Kau pasti lelah..." Dia menarikku ke pangkuannya dan memelukku seperti anak kecil, aku bergelung begitu saja menikmati pelukannya lagi saat kami bisa duduk bersama.
"Aku sangat kesal, Kakakmu dan Ibuku menekanku begitu rupa tanpa perduli perasaanku. Aku merindukanmu."
"Harusnya aku bisa melakukan sesuatu untukmu. Mungkin aku harus bicara secara terbuka dengan keluargamu."
"Tidak, kau sudah melakukan semuanya dengan pantas. Hanya mereka yang tega memaksaku walau sudah tahu hubungan kita."
"Harusnya aku ke sana... dan menjelaskan hubungan kita ke keluargamu sendiri."
"Tidak, percuma saja. Mereka hanya ingin menjodohkanku dengan Andrew, itu keinginan Ibunya Andrew. Percuma saja kau ke sana. Tapi di pembicaraan terakhir nampaknya Mom tidak berani menekanku lebih jauh."
"Bagaimana dengan Kakakmu?"
"Kurasa dia dan Mom sama, mereka hanya merasa sudah mengenal keluarga Paman David, dan menganggap aku harusnya bersamanya."
"Andrew sendiri?"
"Dia tahu aku hanya menganggapnya saudara. Ya aku memang tersentuh dia melakukan hal itu. Dia sangat baik padaku, dia bahkan tidak memaksakan apapun." Gillian menatapku.
__ADS_1
"Jangan jatuh cinta padanya. Kau sudah milikku..." Pelukannya mengerat sekarang, aku tersenyum dengan kilasan kecemburuannya.