
Tanpa menungguku menjawab Andrew sudah terbang pergi menghampiri gadis itu. Sekarang sainganku adalah blonde pirang itu, aku menghela napas kesal saat melihat Andrew nampak sangat senang bertemu dengannya. Dia memang tak pernah melihat padaku.
Lihat gayanya mendekati wanita itu. Dia sedang meminta perhatiannya. Tubuhnya condong padanya, matanya menatap lurus dan memujanya. Aku sudah hapal bagaimana pria menatap ke wanita yang disukainya.
Aku ingin menarik tangannya dan mengatakan jangan dekat-dekat dengan blonde sexy itu! Tapi bahkan mereka terlihat begitu senang bicara bersama.
"Kau melihat siapa?" Alexsey tiba-tiba muncul di sampingku. Tiga minggu ini dia tidak muncul di depanku atau mengirim pesan terlalu sering. Seperti kubilang kami dalam term teman dan teman tak saling merayu. "Anna? Dan ...Andrew kurasa. Apa ada sesuatu dengan mereka?" Dia ikut melihat bagaimana mereka sekarang seperti saling menggoda.
"Tidak. Aku hanya melihat saja..." Alexsey ikut melihat ke arah mereka.
"Mereka terlihat akrab, sebentar lagi mereka akan jadi kekasih baru nampaknya." Tambah kesal aku mendengar mereke akan jadi kekasih. "Kenapa kau melihat mereka begitu rupa?" Dia masih tetap penasaran kenapa aku melihat sepasang kekasih itu.
"Bukan apa-apa. Kapan kau datang? Aku tak melihatmu dari tadi? Kau baru datang, kenapa kau muncul di akhir acara, bukankah Anna yang mewakilimu kali ini?" Rentetan pertanyaanku dibarengi nada kesal karena sekarang Andrew terlihat memegang tangan blonde itu dan nampaknya akan mengajaknya pergi. Bahkan Alexseypun menduga jika mereka kekasih. Baru aku akan mencoba aku sudah tak punya harapan lagi.
"Baru saja, aku ada acara yang tidak bisa kutinggalkan di dekat sini. Jadi aku mengutus Anna mengantikanku dulu."
__ADS_1
"Ohh begitu. Kau tidak menemui seseorang di sini."
"Sebenarnya Anna sudah melakukannya untukku."
"Lalu kenapa kau ke sini?" Sekarang aku melihat Anna dan Andrew pergi bergandengan tangan. Mereka benar-benar pergi berkencan dari pertemuan ini. Aku memang kalah, Andrew tak pernah melihatku. Moodku langsung turun ke dasar sekarang.
"Mengajakmu jalan-jalan. Ini akhir pekan, apa kau mau jalan-jalan denganku..." Dia tersenyum lebar, tapi aku tak menanggapinya, aku sedang kesal. Dia menambahkan lagi "Kau nampaknya di tinggalkan jalan-jalan oleh Andrew, bagaimana kalau jalan-jalan denganku saja." Bahkan Mafia Rusia ini bisa melihatnya. Aku tambah kesal sekarang.
"Siapa bilang aku sedang kesal!" Aku memarahinya karena aku sedang kesal dia bisa menebaknya tentu saja. Senyumnya tambah lebar dan aku mangkin kesal.
"Aku benci padamu." Kubalikkan badanku untuk meninggalkan pesta ini. Dengan cepat dia berusaha menyusul langkahku.
"Aku mau pulang, jangan halangi aku." Aku sedang kesal sekali Andrew pergi bersama Blonde itu. Aku mau pulang saja dan menangisi nasibku.
"Kenapa kau pulang, ini akhir pekan, bagaimana jika kau ikut denganku. Aku akan membuat kesalmu hilang."
__ADS_1
"Tidak mau." Aku tetap maju dan dia kembali menghalangi. "Kau belum pernah dipukul dengan kayu!?"
"Ayo jalan-jalan denganku. Aku berjanji setelah ini kau tak akan kesal lagi."
"Tidak mau!"
"Ohh jadi kau mau menangis saja di kamar, menyedihkan sekali. Akhir pekan kau malah menangis sendiri untuk orang yang bahkan sama sekali tak tahu kau cemburu padanya." Bangsat ini membuat langkahku terhenti.
"Kau tak usah mengurusi urusanku!"
"Aku hanya menghiburmu, tak ada gunanya kau menangis untuk orang yang bahkan tak tahu kau menyukainya."
Dia benar bahkan Andrew tak tahu aku suka padanya, tapi aku memutuskan menangis seperti orang bodoh.
"Ikutlah denganku..." Dia memberikan tangannya untuk kugandeng.
__ADS_1
"Kemana?"
"Bagaimana kalau kita jadikan kejutan." Senyumnya membuatku merasa penasaran sekarang dan sedikit melupakan kekesalanku pada Andrew.