BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 108. My Svetluny is Missing 4


__ADS_3


POV MONICA


Tiga bulan berlalu. Suasana hatiku perlahan menjadi jauh lebih baik, dengan jadwal padat yang kuambil di London dan Paris, aku tak punya waktu lagi memikirkan Alex, semangkin lama aku semangkin bisa mengendalikan perasaanku.


Aku tahu Alex mengirimkan banyak email, aku sudah membuat pengaturan, email yang kupakai untuk mengirim pesan terakhir itu adalah bukan email utama yang ada di ponselku, emailnya sudah kublokir lebih dahulu, jadi tak ada yang meracuni pikiranku. Apa yang sudah diputuskan akan tetap sama, kami hanya harus melangkah maju.


Aku sudah mengambil keputusan maju, semangkin jauh aku melangkah ke depan semangkin aku mengerti aku sudah mengambil keputusan yang benar.


Walau aku masih sering merindukannya, kadang saat Albert menelepon aku sangat berharap dia membawa kabar bahwa Alex setuju dengan persyaratanku, tapi akhirnya itu tak pernah terjadi, sebulan, dua bulan tapi kemudian aku merasa harapanku sia-sia, aku berhenti berharap. Dia pernah mencoba bicara dengan Eliza tapi apa yang dia bicarakan adalah bagaimana dia akan mengatur waktu antara Moskow dan Montreal jadi Eliza mementahkannya.


Sekarang akhirnya setelah aku berhentu berharap, itu masih sakit tapi itu seperti rasa sakit yang sudah hampir akan sembuh. Terasa sedikit sedih, tapi aku dengan mudah bisa mengenang kenangan manis kami tanpa harus menangis. Itu sakit yang masih bisa kutanggung.


Saat nanti aku bisa berdamai sepenuhnya aku akan minta Albert mengembalikan semua hadiah mahal yang dia berikan padaku, aku jadi tak punya beban lagi karena mengecewakannya. Dia benar-benar murah hati dan hadiah yang dia berikan padaku membuatku merasa bersalah padanya.


Anna berusaha memancingku bicara tapi tidak bisa melakukan apapun. Dia bilang Alexsey tidak akan melepasku, aku hanya bisa tersenyum.


"Anna, kau tahu alasanku, aku akan bertanya padamu, menurutmu...apa aku benar atau salah."

__ADS_1


"Ya aku tahu kau benar. Tapi gajiku dibayar olehnya aku tetap harus berusaha sedikit." Aku tertawa dengan keterusterangan Anna.


"Dia baik-baik saja bukan."


"Yah dia baik. Walau dia sedikit gloomy, dan mudah marah sekarang, semua orang merasakan temperamen nya sulit, secara umum dia baik."


"Baguslah, nanti perlahan dia akan melupakan aku. Akan ada seseorang di Moscow yang cocok untuknya. Mungkin Ayahnya akan menjodohkannya ke seseorang. Dia tak perlu bolak-balik Montreal, NY, Moscow setiap saat."


"Hmm ...ya mungkin. Tapi jelas saat ini dia belum menyerah padamu. Tapi mungkin sudah di tahap dia marah padamu karena kau tidak pernah membalasnya satu kalipun, kau tidak kasihan padanya Monic.


Alex pernah mencoba bicara denganku saat Anna menelepon, aku langsung memutuskannya. Aku jarang menerima telepon Anna lagi kemudian. Sampai dia berusaha berdamai dan bilang dia hanya ingin tahu kabarku dan hal seperti itu tidak akan terjadi lagi. Baru kali ini aku menerima teleponnya lagi.


"Iya, kau benar."Anna diam. Mungkin dia bersedih untuk kami.


"Anna, aku akan menitipkan padamu hadiah yang dia berikan padaku nanti."


"Hadiah? Kau akan mengembalikan hadiah yang dia berikan? Itu akan membuat dia marah. Kau harus berhati-hati dengan itu." Jika dia marahpun itu tak akan merubah apapun.


"Tak apa. Itu akan mempercepat prosesnya Anna. Biarlah dia marah, aku hanya mempercepat apa yang harusnya terjadi. Dia harus maju ke depan dan aku juga, aku hanya mempercepat aliran sungai."

__ADS_1


Aku sebenarnya akan ke NY untuk satu moment pemotretan singkat yang sudah jadi kontrakku, setelah itu aku akan langsung ke Milan lagi. Kupikir besok aku akan mampir ke Montreal sebentar dan tinggal bersama Mom untuk menjenguknya.


"Berarti kau sekarang ada di Montreal?"


"Ohh tidak, sebelum pergi aku sudah menitipkan itu ke Kakak laki-lakiku, aku tinggal memintanya. Aku tidak akan kembali ke Montreal dalam waktu dekat. Jika aku sudah dapat menghubungi Kakakku aku akan memberitahumu." Aku berbohong kepada Anna tentu saja. Mungkin Anna tidak percaya tapi aku tak perduli. Mengembalikan semua hadiahnya membuatku lebih terlepas dari rasa bersalah.


Dan setelah semua hadiah ini kembali , dia marah, tidak ada yang bisa diperbaiki lagi diantara kami. Semuanya akan menjadi normal kembali.


"Iya baiklah. Kau tak bisa memberiku muka Monica, bicaralah dengannya sebentar? Kumohon..."


"Ann, kau mau membuatku kembali ke titik tiga bulan lalu, setiap teringat padanya aku menangis. Tidak, kami sudah maju setidaknya selangkah demi selangkah. Maaf Ann, aku tahu kau juga dalam posisi sulit. Yang bisa membuatku bicara padanya hanya jika dia bicara pada Albert dan menyetujui syaratku. Aku memang kejam tak memberinya kesempatan apapun, tapi itu untuk mempermudah dia juga. Kau tahu itu."


"Ya...ya baiklah. Akan kukatakan padanya."


"Maaf Anna."


"Iya tak apa."


Tampaknya aku harus mematikan harapanku mulai sekarang. Tak boleh sekalipun mengharap lagi. Ini memang terlalu sulit.

__ADS_1


__ADS_2