BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 69. Company Party 3


__ADS_3

"Dia nampaknya berpikir kau wanita model putri yang sering di temuinya, kau harus menghajarnya habis-habisan sesekali supaya dia takut padamu. Kujamin dia berubah pikiran soal menjadikanmu istrinya."


"Aku juga pernah memikirkan itu. Kakakku mencegahku dan dia bilang itu akan memicu kekacauan diplomatik antar keluarga. Ibuku yang akan ganti memarahiku habis-habisan.


Aku bertemu Kakak dan Ayahnya kemudian, Kylie untungnya memperkenalkanku sebagai teman. Jadi Ayahnya berterima kasih aku bersedia menjadi rekanan anaknya, dan Kakaknya yang lebih banyak mengobrol denganku.


"Ahh pasangan baru, kalian terlihat cocok sekali." Rachelle yang menyapa kami, adik Andrew ini pasti senang mendorong kami menjadi pasangan agar Andrew bisa bersama dengan Eliza, tapi aku sudah memberitahu Eliza soal kerjasama dengan Kylie.


"Kami bukan pasangan hanya kolega. Dia hanya memintaku menyingkirkan Adrian, kau jangan salah sangka." Aku mengoreksi ucapannya. Kylie tersenyum.


"Rachelle kau jangan membuat Jenderal Gillian tak nyaman. Aku meminta bantuannya mengenyahkan Gilbert, aku bukan pacarnya." Rachele tertawa.


"Baik-baik. Aku mengerti, aku hanya bercanda Jenderal Gillian." Dia tersenyum.


"Aku harus siap-siap muncul di pidato singkat bersama Ayah dan Kakak kutinggalkan kalian berdua oke." Kylie pergi tinggal kami berdua.

__ADS_1


"Bagaimana kabarmu Jenderal." Rachelle memulai pembicaraan.


"Aku baik, bagaimana kabarmu."


"Baik terima kasih."


"Temanmu sudah tahu aku punya pacar. Aku sudah menegaskan padanya. Aku di sini hanya untuk membantunya."


"Tapi jika dipikir-pikir, kau dan Kylie tinggal di kota yang sama. Kekasihmu dan Kakakku tinggal di kota yang sama. Kau tahu kemarin dia diselamatkan Kakakku ketika ada orang yang menembaknya. Kakakku menerima peluru untuknya, wanita mana yang tak tersentuh saat seorang pria menaruh nyawanya untuknya. Kau tak berpikir hubungan kalian akan sulit?"


"Kemarin ada orang yang ingin menembaknya?"


"Kurasa dua hari yang lalu." Aku diam, Eliza belum cerita soal ini. Tapi kemarin aku memang tak sempat menelepon atau mengirim pesan padanya. Dia juga kemarin tak menelepon.


"Apa dia baik-baik saja."

__ADS_1


"Iya dia baik-baik saja. Kakakku yang tertembak di dada sebelah kanan Hanya Ibuku bilang padaku dia akan bicara pada keluarga Eliza tentang hubungan kakakku dan Eliza, langsung pada Ibunya. Dia rasa Kakakku terlalu mencintai Eliza." Dia memang dikirim untuk mengoyahkan kami. Aku dan Eliza baik-baik saja.


Dia menyambung kata-katanya kemudian.


"Tidakkah kau tahu kurasa hubungan kalian sulit, Eliza diperlukan keluarganya di Montreal, dia aktif di politik, menggantikan peran Ayahnya, pindah ke DC, keluarga akan kehilangan tongkat penyangga penting. Ya memang bukan urusanku, kau pasti menyangka aku di kirim untuk mempengaruhi hubungan kalian, tapi tidak, aku hanya bicara apa yang kulihat sekarang." Aku tahu apa yang dia katakan.


"Terima kasih buat saranmu."


"Aku tidak berniat menjadikanmu musuh Jenderal Gillian, hanya aku sedikit memihak kakakku. Lagipula keluarga kami memang sudah mengenal satu sama lain dari kecil." Dia tertawa sekarang.


"Ya aku bisa mengerti."


"Baiklah, aku tak mau ikut campur urusan memusingkan ini. Aku hanya berharap selesai tanpa pertumpahan darah. Mari kita bicarakan hal lain."


Aku jadi tak konsen sepanjang sisa acara, aku ingin menelepon Eliza segera, seseorang menembaknya dan Andrew menghadang pelurunya. Sekarang seseorang di sana berkorban nyawa untuknya. Dan di sini aku tak bisa berbuat apapun untuknya.

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=


__ADS_2