
POV Jen
Mungkin aku lega sudah mengatakan itu padanya, dia menganggapku hanya adik, aku tak bisa menerima sebutan adiknya. Dia terlihat kaget, tapi aku tak memaksakan apapun padanya, jika dia tidak menyukaiku aku juga tak akan memaksakan apapun.
Hanya panggilan adik itu membuatku kesal.
Sekarang aku melapor kondisi pasien padanya.
"Pasien tanda vitalnya stabil, 12 jam setelah paparan." Aku memberinya chart laporan terakhir.
Dia melihat bacaan kondisi pasien jam per jam dan tindakan yang telah dilakukan. Sudah tengah malam tapi kami masih mengawasi pasien paparan pertama kami.
__ADS_1
"Ada demam tapi tak tinggi, sama seperti pasien sebelumnya. Ini tanda bagus. Semoga prajurit ini juga bisa melewatinya, tapi nampaknya dia sendiri punya keyakinan dia akan sembuh, kita sudah membesarkan hatinya."
"Iya. Nampaknya dia bisa beristirahat dengan baik. Itu akan membantu tubuhnya walaupun dia harus di belenggu satu tangannya."
"Kau istirahatlah, ini sudah tengah malam. Ada yang akan mengantikanmu shift pertama ini, tim Juan akan standby dalam 7 jam kedepan." Seperti biasa dia berperan jadi kakak terbaik di dunia sejak dulu.
Aku jadi ingat saat kami bertemu lagi di El Paso, dia membiarkanku memerasnya 1.000 dollar dengan mudah. Dia bahkan tidak protes, hanya meracau aku lintah penghisap, tapi dia memberikan uang itu dengan segera. Pun saat dia tahu aku menjual nomor teleponnya ke orang lain dia membiarkanku tanpa melakukan apa-apa.
Tom yang masih standby sampai ke depan kami.
"Ada paparan baru, kali ini sipil, dalam perjalanan. Dalam satu jam." Kali ini penambahan pekerjaan baru yang datang di tengah malam.
"Paparan baru?" Kali ini aku tak jadi istirahat. Kami mempersiapkan kedatangan pasien ke dua. "Bisa minta gender dan umurnya, Tom." Tom berkomunikasi sementara aku memastikan ruangan isolasi ke 2 siap. James menunggu info untuk takaran dosis obat.
__ADS_1
"Apa ada paparan ke dua?" Michelle yang masih nampak bersemangat karena kali ini nampaknya dia merasa berguna bekerja di bidangnya langsung heran melihatku mempersiapkan ruangan ke dua bersama dengan perawat lain.
"Iya baru diberitahu, tapi aku belum tahu apapun soal status pasien, kau bisa tanya James dan Tom. Mereka yang koordinasi dengan prajurit yang mengantar pasien."
Dia pergi segera setelah mendapat berita. Gadis yang sangat bersemangat dengan pekerjaannya kukira.
Tak sampai satu jam pasien sipil itu sampai. Pria umur 54 tahun, agak ringkih terlihat. Saat di cek dia tergigit di leher kanan, dekat arteri utama. Paparan sudah 3 jam, dan punya riwayat kesehatan diabetes, dan kelainan irama jantung. Tidak bisa ada blok sementara dilakukan, berbeda dengan prajurit pertama dia tergigit di tangan, tourniquet sementara setidaknya mencegah paparan untuk sementara, James berkerut keningnya untuk pertama kalinya.
"Ini tidak bisa memakai kombinasi obat dengan full dosis yang kita berikan ke pasien dengan kondisi prima, akan ada resiko langsung begitu obat masuk ..." Dokter yang lain juga mengatakan hal yang sama. Sekarang dia terlihat binggung, demikian juga dokter lain.
"Kurasa kita harus langsung infuskan 50% dosis, kita lihat apa tubuhnya bisa bertahan, lalu kita coba menaikkan dosisnya full pada infus ke 2 atau ke 3. Paparan sudah 3 jam, sudah terlalu besar resikonya. Jika obat tak masuk sama saja dia akan terinfeksi. Tapi jika kita berikan full dosis bisa jadi tubuhnya tak bisa bertahan, peluang kita hanya begini." James akhirnya memutuskan dan disetujui oleh dokter lainnya.
"Jen, 50% di infus pertama."
__ADS_1