BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 91. Moskow 6


__ADS_3

"Sayang kenapa kau diam sekali." Sekarang aku melihat ke Svetluny, saat perjalanan pulang dia malas berbicara, sampai sekarangpun dia malas menatapku. Apa ada yang salah, kukira itu karena dia mendengar Ayah dan Bibi belum tahu bahwa aku tak mengambil alih Moskow, walaupun aku belum memutuskan bagaimana akan menyerahkannya kembali karena fokusku sekarang adalah memenangkan taruhanku dengan Sergie tanpa menghitung pencapaianku tentang pabrik obat infeksi di Rusia.


"Tak apa." Dia menjawabku singkat, matanya bahkan tak ingin melihatku. Ini mengkhawatirkan, kenapa dia bersikap seperti ini.


"Sayang apa sesuatu terjadi? Soal kata-kata Ayah tentang rumah Ibuku di Moskow itu hanya rencananya, tidak akan kelanjutannya karena kita tidak berencana tinggal di Moskow." Aku harus menjelaskan padanya, walaupun sebagian adalah kebohongan. Seperti katanya mana mungkin memindahakan kantor pusat Rusia ke Montreal.


"Hmm... baiklah." Dia berkata baiklah, tapi ekspresinya sama sekali belum membaik. Dia berjalan mendekati jendela. Pandangannya jauh ke depan. Dibawah kami masih banyak kerumunan berjalan-jalan di red square, sementara salju halus dicurahkan dari langit.


"Aku ingin berjalan-jalan ke bawah." Tiba-tiba dia memutuskan setelah beberapa saat dia duduk tanpa bicara. Dia mengambil mantel tebalnya, penutup kepala dan sarung tangannya. Segera menuju ke pintu.


"Aku akan temani kau. Tunggu dulu." Aku juga bergegas mengambil jaketku.


"Tak usah aku bisa sendiri." Dia menatapku dengan pandangan sedih yang aneh sehingga aku khawatir dengan apa yang ada di dalam pikirannya. Apa karena dia menemukan Ayah menyuruhku melihat rumah Ibu.


"Aku akan menemanimu." Dia melihatku dan nampaknya menyadari tak ada gunanya membantah. Aku dengan cepat memakai mantel mengikutinya.


Dia berjalan pelan dalam keramaian. Melihat-lihat banyak hal tapi tak berniat bicara. Dia mengabaikanku sepenuhnya, hal ini membuatku binggung dan takut. Dia tak pernah mendiamkanku begini. Akn lebih baik bagiku mendengarnya marah daripada mendapatkannya mendiamkanku begini. Ini sangat tidak baik.


"Moon ada apa, apa yang kau pikirkan. Sudah kubilang kau tak perlu memikirkan perkataan Ayah soal rumah itu." Aku bertanya dengan khawatir.


"Tidak ada, aku hanya ingin berjalan-jalan. Aku suka keramaian ini walau tak mengerti seluruhnya." Kami berjalan-jalan dengan tenang.


Aku cukup khawatir dengan apa yang dipikirkannya. Dia sedang marah padaku, tapi dia sama sekali tak ingin berdebat denganku.


"Moon kau sedang marah padaku."


"Tidak." Dia menjawab pendek, tak memperdulikan aku yang merangkul bahunya saat berjalan. Pandangannya melayang jauh seakan banyak hal yang ada di pikirannya.


"Lalu kenapa kau diam sekali."


"Tidak apa-apa. " Dan dia terus berjalan dalam diamnya. Beberapa saat aku hanya mengikutinya dalam diam.

__ADS_1


"Aku akan membuat rencana soal Moskow, kita tidak akan pindah ke sana, kau harus yakin padaku. Kapan aku pernah berbohong padamu?" Dia melihatku dan tersenyum. "Apa kau tidak percaya padaku."


"Entahlah, aku tak tahu."


"Aku sudah berjanji pasti akan kulakukan, caranya akan kupikirkan yang terbaik."


Dia menghela napas panjang mendengar kata-kataku.


"Apa arti Oomnitsa? Itu bukan nama kecil bukan." Kami duduk di sebuah kursi panjang melihat keramaian ketika dia bertanya, bangkit dari kediamannya.


"Oomnitsa,..." Aku belum pernah memberi tahu padanya apa itu Oomnitsa. Kukeluarkan ponselku. Kubuka sebuah video lama yang sudah kudigitalkan dan kuperlihatkan padanya. "Ini arti Oomnitsa...."


"Ini aku dan Ibuku saat aku berusia lima bulan." Seorang wanita cantik dengan senyum lebar bicara pada bayinya dengan bahasa Rusia, sementara sang bayi dengan mata penuhnya melihat ke sang Ibu sambil memamerkan senyumnya, "Dia bilang, Oomnitsa, kau tampan sekali. Cepatlah besar. Cepatlah sekolah, kau akan jadi seperti Ayahmu ini...kau mau jalan-jalan dengan Ibu bukan. Aku sangat menyayangimu." Sesaat kemudian Ayahku bergabung dengan Ibuku, saat itu ada orang lain yang memegang kameranya.


"Kau lucu sekali." Dia tertawa sesaat. Tapi kemudian Svetluny-ku menangis haru. "Kau pasti sangat merindukannya." Aku selalu punya perasaan gloomy saat melihat video ini. Mendoakan Ibuku yang telah berada di surga sana.


"Oomnitsa artinya anak yang pintar. Selain Ibuku hanya kau yang pernah sekali memanggilku itu. Aku merindukannya, tapi aku tahu itu mungkin hanya takdirku dan Ibuku yang terlalu buruk. Sekarang aku sudah terbiasa." Aku tersenyum kecil, Moon-ku hampir menangis mendengar kata-kataku.


"Saat aku dikirim ke Montreal, aku merasa hidupku paling malang di dunia, dan yang kupikirkan aku hanya ingin bertemu Ibuku di surga sana. Mentalku benar-benar down saat aku diasingkan ke Montreal. Saat itu aku berpikir bahkan Ayahku tidak memperdulikanku yang dipercayainya hanya wanita itu, aku merasa seperti tak punya siapapun di dunia ini. Tapi saat itu kau datang dan membelaku." Svetluny langsung memelukku dia malah yang menangis mendengar ceritaku. Aku cuma tersenyum kecil dan menghapus air matanya.


"Apa yang perlu dimaafkan. Itu hanya memori masa lalu yang kupegang sampai sekarang. Jangan menangis, aku baik-baik saja sekarang. Itu setengahnya karenamu." Dia mencoba tersenyum padaku, menghapus air matanya dan berhenti menangis.


"Kenapa karena aku?"


"Saat kau membelaku, kau bilang sesuatu padaku, apa kau masih ingat apa yang kau katakan." Svetluny menggeleng.


"Apa yang kukatakan?" Itu sudah 20 tahun yang lalu, dia mungkin tidak ingat.


"Saat aku bilang namaku Oomnitsa, kau bilang - Oomnitsa, kau harus berjuang, kau pasti bisa menang dari mereka." Aku menatapnya dengan kenangan seakan itu baru terjadi kemarin. "Kau tahu, saat itu aku berpikir Ibuku mengunjungiku dari surga dan mengirimu kata-kata untuk mengatakan itu padaku. Saat itulah titik balik dalam hidupku."


"Titik balik... Aku mengerti sekarang kenapa kau selalu ingin kembali ke Moskow. Apa yang kau lalui menang berat. Margarita itu memang jahat sekali, sampai sekarangpun mereka masih jahat padamu."

__ADS_1


"Kau benar, sejak itu aku tak pernah menyia-nyiakan hidupku lagi. Apa yang kulakukan adalah untuk memenuhi semua harapannya, anak pintar, cepatlah besar, ... jadilah seperti Ayahmu, kau saat itu seperti bilang padaku, walaupun aku kecil jika aku punya keberanian dan tekad, aku bisa mengalahkan dunia yang besar, aku berjanji pada diriku sendiri untuk bisa kembali dengan kepala tegak ke sini. Saat itu walau Ayahku seperti tak ada, aku punya Bibi untuk mendukungku. Sampai sekarang aku bisa melewati semuanya dengan bicara ke Bibi. Dan kembali untuk mendapatkan tempatku di sini."


Svetluny melihatku dengan mata berkaca-kaca.


"Aku tak tahu ceritanya sedalam itu." Dia menggengam tanganku. "Jangan bersedih lagi, Ibumu pasti bangga padamu. Lihat dirimu yang sekarang. Kau sudah bisa mengancam orang dengan benar." Aku tertawa, Moonku ini selalu bisa membuatku tertawa.


"Mungkin jika kau tidak muncul, aku akan mengambil jalan pintas. Saat itu jika kuingat lagi aku benar-benar akan memilih menyusul Ibuku."


"Kau tak boleh berkata begitu lagi." Dia merangkulku dengan erat.


"Saat aku bertemu denganmu, aku akan melakukan apapun untuk mendapatkanmu, jikapun aku harus mengirim bunga setahun penuh padamu, akan kulakukan. Tapi untungnya aku diselamatkan oleh bunga matahari." Dia mau tak mau tertawa untukku, pipinya memerah karena tersanjung dengan kata-kataku. Itu bukan kebetulan dia berhenti di jalanku, aku berpikir dia sudah ditakdirkan untukku.


"Baiklah Tuan Mafia, berhentilah merayuku. Aku percaya padamu. Terima kasih untuk bunganya jika kau mau mengirimkanku lagi aku akan senang." Dia tertawa ketika kami bicara tentang bunga. Itu rayuan paling manis ,paling berkomitmen dan panjang yang pernah kulakukan.


"Kau hal terbaik yang pernah terjadi padaku, bagaimana mungkin aku akan melepasmu. Aku akan mengejarmu sampai kau menyerah Svetluny." Di tengah kerlap kerlip kemeriahan yang hampir berakhir malam itu aku mengakui semua perasaanku. Dia tersenyum lebar sekarang, wajahnya bersemu merah, matanya lurus memandangku.


"Dasar perayu." Dia menutup wajahku dengan kedua belah tangannya, jengah dipandangi begitu rupa.


"Kau sudah besar dan punya pencapaian hebat, Ibumu akan bangga di surga sana."


"Apa kau bangga padaku Moon? Sekarang kau yang terpenting bagiku, jika aku membuatmu bangga dan bahagia itulah kesenangan bagiku."


"Tentu saja, jika kau payah, aku tak akan melihatmu. Aku punya standar setinggi langit. Tidak ada bedanya kau mengirimkan bunga sepanjang tahun." Sekarang aku yang tertawa.


"Baiklah kau gadis sombong. Aku menyukai kesombonganmu. Aku tak suka gadis yang menawarkan dirinya padaku." Aku memeluk pinggangnya dan mencium pipinya dengan gemas. Moonlightku ini tak ada yang bisa mengalahkannya. "Aku mencintaimu gadis sombong, sangat mencintaimu."


"Berhentilah menggodaku." Dia tertawa dan menutup wajahku dengan telapak tangannya mendorongku menjauh.


"Aku mencintaimu Svetluny. Sangat...mencintaimu." Dia tersenyum dan diam dengan kata-kataku yang berulang. Hatiku berdebar untuknya, mata indahnya selalu membuatku rindu melihatnya.


"Aku juga mencintaimu." Matanya yang berkilau menatapku dan dengan sungguh-sungguh mengatakan itu.

__ADS_1


Langit Moskow nampaknya punya lebih banyak bintang malam ini. Salju sudah berhenti, lampu-lampu mulai dipadamkan. Tapi malam ini mungkin malam yang terbaik, saat aku kembali dengannya di kota kelahiranki dan mengakui perasaanku lagi padanya.


Aku akan mengingat ini seumur hidupku.


__ADS_2