BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 120. Michelle 2


__ADS_3

Michelle masuk ke ruangan, kali ini dia memakai blouse berleher rendah, kupikir dia sengaja ingin mengoda James. Dengan wangi parfumnya yang sampai duluan sebelum orangnya.


Aku melihatnya berjalan ke meja James dengan mengulum senyum penuh arti. Apa yang diinginkannya disini.


"James, aku ditugaskan bersamamu oleh Professor." Dia memberikan surat tugasnya ke depan James, gadis ini nekat ke garis depan. Dia sudah pernah menerima pelatihan pertahanan diri? Yakin dia mau ke sana?


Semua suster dan dokter yang bertugas sudah melewati pelatihan standart pertahanan empat tiga hari melawan infected. Mereka harus lulus. Jika belum aku sendiri mengirim mereka ke pelatihan. Apa gadis ini sudah?


"Kau sudah melewati latihan pertahanan diri standar?" James langsung memicing matanya melihat surat penugasan itu.


"Belum. Apa itu perlu? Pelatihan pertahanan diri apa?"


"Semua personel yang bertugas di garis depan harus melewati itu. Kau lihat Jen di sampingmu , dia pernah bertempur melawan ratusan infected dengan pasukan khusus, skor tembakannya sempurna, pernah melawan satu lawan satu infected baru terjangkit yang tenaganya masih kuat, berkali-kali rombongannya di sergap oleh ratusan infected." James menunjukku dengan bangga sementara Michelle melonggo mendengar spesifikasi pekerjaanku.


"Benarkah? Kau sering disergap infected?" Dia bertanya padaku.


"Kami kebanyakan bekerja di zona hitam dan kota perintis, itu resiko yang harus di hadapi. Kadang infected lolos dan menerobos zona aman dan berkeliaran di dalam. Perawat militer dan sipil yang bekerja di sana sudah dilatih menghadapi infected sebenarnya dengan hanya pisau oleh pasukan khusus. Sebenarnya semua orang di daerah zona hitam harus punya kemampuan duel yakin menang satu lawan satu dengan infected. Kau belum pernah satu kalipun bertemu dengan infected nampaknya. Kau tak takut harus berhadapan dengan gelombang infected bisa puluhan ribu di Miami."

__ADS_1


James berniat menakut-nakutinya aku akan berpartisipasi.


"Memang belum aku hanya menerima sample darah untuk penelitian. Maksudmu benar-benar membunuhnya sendiri dengan pisau?!" Belum apa-apa dia sudah bergidik ngeri nampaknya.


"Iya, dulu awal-awal infected muncul, infectednya bisa berlari dengan kencang." Aku tertawa. "Kau meleset menembaknya atau menikamnya, nyawamu juga meleset ke alam baka." Dia tambah tercengang.


"Kau dengar, kau tak punya spesifikasi pelatihan, kau tak diterima di tim garis depan Michelle. Sorry, aku akan bicara langsung dengan atasanmu." Dia mengembalikan surat tugas Michelle.


"Tapi bukankah ada dokter dan perawat sipil di timmu."


James sengaja mempersulit gadis itu. Sebenarnya bisa saja jika dia mau ikut kami bisa mengirimnya ke pelatihan di gelombang kedua karena ada seleksi pertama yang gagal.


"Aku bersedia mengikuti pelatihan! Aku akan berusaha lulus." Dia langsung mengajukan diri sehingga James mau tak mau menghela napas. "Boleh bukan? Kau mau aku melapor ke siapa? Aku akan lakukan." Dan dia sangat bertekad untuk lulus dan ikut kami ke garis depan. Aku harus membantu James.


"Dokter Michelle, kau harus tahu selain masalah keamanan, garis depan adalah tempat dimana makanan pun terbatas, hanya ransum tentara sekadarnya yang dikirim ke sana. Tak ada makanan baik seperti di sini. Kau tahu makanan di sini bagi kami termasuk makanan mewah."


"Aku tak perduli, itu lebih bagus aku bisa diet."

__ADS_1


"Kau jangan mengada-ngada, otak pintar sepertimu harusnya berada di kota aman. Biar kami yang menangani pekerjaan kotor. Kita tak akan kembali sebelum operasi selesai, dengan luas daerah yang luar biasa, jika kau mau pulang kau mungkin saja harus menumpang konvoi truk militer. Kujamin kau tak akan betah." Masih berusaha membelokkan gadis ini.


"Aku akan berusaha betah, jangan kuatir padaku. Hanya makanan tak akan membuatku mundur dan cenggeng. Oke, jadi aku harus melapor ke siapa untuk pelatihan fisiknya?"


Kami berdua berpandangan sekarang. nampaknya gadis ini tak bisa dihentikan lagi.


"Pikirkan saja dulu, tak udah buru-buru memutuskan." James masih belum rela dia ikut dan mengacaukan konsentrasinya.


"Pokoknya aku ikut! Aku juga sudah ditugaskan mengumpulkan data, aku sudah bersedia menjalani pelatihan seperti yang kalian minta, aku jamin aku akan lulus!"


"Aku rasa aku harus bicara dengan Professor dulu. Tak seharusnya kau ikut, aku bisa mengirim data ke sini."


"Tak perlu, berhadapan secara langsung lebih bagus. Pokoknya aku ikut kau tak akan bisa menghalangiku. Sekali aku ikut! Tetap ikut!.Aku harus melapor ke siapa?!" Kenapa aku punya firasat Nona keras kepala ini akan membuat kami dalam masalah di Miami.


"Kirim dia ke Tom Dawkins." Akhirnya James menyerah.


Black Zone Miami, ini akan jadi perjalanan yang panjang dan melelahkan nampaknya.

__ADS_1


__ADS_2