BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 111. Quitter


__ADS_3

"Quitter" (Orang yang memilih menyerah) James percaya dia seperti itu dalam hubungan pribadi, itu tidak bagus, Susan juga bilang begitu. Percaya bahwa dia tidak sebaik itu walaupun dia adalah sang walikota yang berhasil.


Semangkin kupikir semangkin aku yakin yang mereka katakan benar, jadi aku memutuskan kembali ke rencana awalku untuk menghindari Andrew setelah mendengar nasihat James dan Susan.


Javier sekarang menghampiriku di selasar rumah sakit dengan senyum lebar.


"Kenapa kau tersenyum begitu lebar?"


"Musim dingin, banyak yang moodnya turun ke dasar. Penyakit musim dingin karena kesepian. Pekerjaanku jadi tambah banyak. Aku senang melihatmu lagi setelah mendengar begitu banyak masalah. Kau mau konsultasi denganku Jen sayang, aku akan mendengarkanmu sampai pagi. Untukmu spesial."


Dia tidak serius dengan perkataannya, aku belajar setelah mengenalnya beberapa saat, dia bercanda hanya untuk meringankan isi kepalanya sendiri. Kadang hanya untuk mengetes situasi.


"Kondisi yang kau sebutkan itu nampaknya datang dengan ketentuan dan syarat khusus." Dia tertawa, kami berteman belakangan aku sudah tak mencurigainya setidaknya. Dan dia tahu aku tak tertarik padanya. Dan dia kurasa hanya ingin berada di circle kami, lingkungan yang dekat dengan pemegang kekuasaaan tertinggi di sini, karena James kakakku. Dia mungkin trauma dengan bully yang diterimanya di luar.


"Mau makan malam, aku kelaparan. Ayo temani aku makan." Dia cuma ingin minta ditemani makan malam.

__ADS_1


"Kau setiap makan malam perlu orang yang menemani? Cari pemujamu saja." Pemujanya banyak, tapi dia hanya seperti James, mencari aman. Aku mencibirnya.


"Kau kejam sekali padaku Jen Sayang, aku hanya tak suka makan sendiri."


"Noah? Susan? Mau makan?" Aku mengajak satu lagi teman-teman yang kukenal. "Janet, kau sudah makan bukan? Aku pergi oke."


Janet yang bertugas di shift malam mengacungkan jempolnya. Makan malam adalah sekaligus pergantian shift.


James sedang pergi ke CDC Atlanta dari kemarin dengan pesawat, karena kami berhasil menyelamatkan dua pasien itu sekarang dia diminta membagi pengalamannya dengan tim di sana menangani efek sampingnya.


"Kalian mau makan malam, boleh bergabung." Susan melihat kepadaku, Noah dan Javier yang juga tahu meminta persetujuanku.


"Ehm, kurasa boleh." Aku menguatkan diri saja.


"Bantu aku, panggil aku sayang." Kucolek dan kubisiki Javier. Akan kusuruh Javier yang tampan ini sebagai perisai sekarang. Dia tak boleh menolak kali ini, salah sendiri dia berani bergabung di grup ini. Anggota baru harus berani memasang perisai.

__ADS_1


Dia mendelik melihatku. Aku hanya bisa memanfaatkan dia kali ini, setidaknya pesonanya tak kalah dengan Andrew. Dan karena dia


"Sayang, katanya koki menyiapkan pie hari ini. Mereka punya banyak persediaan blueberry. Aku sudah lama tak punya pie." Dia menyerah sekarang, mau tak mau harus membantuku.


"Sayang? Kalian pacaran..."


"Kami saling mengerti satu sama lain. Benar sayang?" Javier menjawabnya, dia nampaknya tak takut menghadapi Andrew, karena tahu James ada di pihaknya. Dia berbeda komando dengan Andrew. Tapi kunci kondisi ini adalah aku sendiri aku harus mengatakan aku setuju dengan kata-kata sayangnya itu.


"Benar sekali." Aku memaksakan senyumku untuk membalas Javier dan mengandeng lengannya.


"Kalian memang pasangan serasi." Noah menambahkan bumbu dalam sandiwara itu.


"Tentu saja mereka pasangan serasi, mereka tidak akan meninggalkan satu sama lain." Dan sekarang dengan berani Susan menyindir" Andrew. Dia satu kubu dengan James. Jika aku berani kembali pada Andrew, mereka berdua yang akan memasang bendera perang duluan di depanku.


Andrew tak menjawab. Dia berani mendekatiku karena James masih di Atlanta, kurasa dia tidak kembali setidaknya seminggu ke depan.

__ADS_1


__ADS_2