BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 110. My Svetluny is Missing 4


__ADS_3

POV Monica


Aku punya waktu libur sebentar setelah kembali dari NY, cukup untuk kembali ke apartment dan mengambil hadiah yang kusimpan di brangkas seperti yang kukatakan kepada Anna.


Kutarik koperku menyusuri lorong dan membuka pintu. Sebuah kamar yang akrab dan kukenal. Cukup bersih, Mom mengatur seseorang untuk membersihkannya. Aku terpaksa berbohong ke Mom aku diminta untuk mengisi runway via undangan tahun ini , lagipula Mom akan sering ke tempat Eliza, aku akan kembali ke tempat Eliza juga sementara, menunggu masalahku beres. Nanti aku akan memberitahunya aku dan Alex sudah putus.


Tahun depan atau mungkin beberapa bulan lagi aku akan dapat bertemu dengan orang baru. Mungkin... Aku bisa kenalkan lagi ke Mom. Dan mungkin orang berikutnya akan menjadi yang terakhir dalam petualangan cintaku.


Empat bulan bukan waktu yang lama tapi cukup untuk pulih sedikit, aku tak menangis lagi saat mengingatnya cukuplah. Sebelumnya mengingat moment bahagia kami cukup untuk membuatku berkaca-kaca. Sekarang itu hanya cukup membuatku termenung. Itu pemulihan.


Melihat apartmentku aku menyadari ada banyak yang telah terjadi di sini. Sudut-sudut apartment ini mengingatkanku pada kehadiran Alexsey. Tuan Mafia itu akan mengambil alih sofa favoritku. Menjadikannya tempatnya dan sebagai gantinya akhirnya aku terperangkap dalam pangkuannya.


Senyumku muncul saat mengingatnya. Betapa bahagianya kami beberapa bulan yang lalu.


Aku kesini mengambil beberapa baju untuk ke Milan, memeriksa kulkas dan menemukan banyak makanan yang harusnya kubuang, sesaat aku jadi sibuk membersihkan kulkas dan beberapa sudut apartment yang kurasa kotor. Pekerjaan ini akhirnya melelahkan. Aku akhirnya menyempatkan mandi. 


Walaupun aku sering pergi kembali ke rumah adalah kebahagianku. Saat aku bekerja di Montreal adalah saat yang menyenangkan, ada Tuan Mafia yang kadang datang ke sini, aku bahkan bisa memasak. Walaupun belakangan impian itu musnah. 


Mengambil hadiah perhiasan di brangkasku, kenangan kapan semua ini diberikan muncul lagi dan semuanya membuatku tersenyum.  Ini barang mahal, aku merasa tidak sepantasnya menerima ini, mungkin aku bisa mengembalikan padanya dan di masa depan dia bisa menghadiahkan ini kepada wanita yang dipilihnya. Mungkin kami tak akan saling membenci di masa depan dan dia tak merasa aku memanfaatkannya untuk mendapatkan sesuatu.


Aku memasukkan kotak hadiah ke tas khusus dan bersiap pergi.


Sebuah suara datang dari ruang tengah? Siapa? Jantungku langsung membuat debaran keras. Jangan bilang .... Aku segera keluar dari kamarku


"Mau pergi Moon?" Aku terpaku di pintu kamar. Tak kusangka dia benar ada di sini.


"Alex..." Wajahnya tanpa senyum. Aku tahu aku dengan sekali lihat aku membuatnya marah, dia menatapku dengan bibir terkatup tanpa senyum. Tanpa sadar aku mundur selangkah ke belakang saat dia maju.


"Kau tak akan pergi lagi Moon." Wajahnya masih membuatku takut.

__ADS_1


"Alex..."


"Ini aku."


"Kau tak bisa memutuskan hubungan kita dengan satu baris email Moon. Jangan membuatku tertawa. Kurasa sudah cukup untukmu melarikan diri." Sekarang dia mencengkram tanganku dengan erat seakan takut aku lari jika dia tidak memegang tanganku.


"Kita tidak punya kesepakatan Alex. Jalan buntu."


"Kesepakatan?! Apa kau membuat kesepakatan denganku? Apa kau mencoba mendapatkan kesepakatanku!? Kau bahkan tak membiarkan aku bicara satu katapun! Kau lari begitu saja tidak menganggapku ada! Bahkan membalas emailku satu katapun kau tak mau! Kau membuangku seperti sampah! Mencintaiku, kau tahu artinya mencintai?! Berani-beraninya kau mempermainkanku dengan kata kesepakatan dan cinta!" Semburan kemarahannya membuatku terpojok.


"Sekarang kau sudah di sini, aku tak akan membiarkanmu kemana-mana lagi! Kau dengar aku!"


"Alex, apa maksudmu. Aku harus ke Milan." Dia tersenyum sinis.


"Milan? Kau tak akan pernah sampai ke sana, bagaimana mungkin kau berpikir aku akan membiarkanmu keluar dari Montreal lagi..." Dia tak mendengarku dan memojokkanku ke dinding. Aku hanya bisa menahan dadanya dan merasa terpojok seperti kelinci yang bertahan di sudut.


Aku ingin membalas pelukannya tapi di saat yang sama aku sudah berkeras berusaha menghindarinya, seakan semua yang kulakukan empat bulan ini adalah sia-sia.


"Moonlight, apa kau tidak merindukanku?" Aku menatapnya, saat melihatnya aku tahu pertahananku runtuh dia tak perlu bertanya apa aku merindukanku.


"Alex, lepaskan..." Tapi bibirku masih menolak. Dia menaruh jarinya dibibirku. Sebelum tanganya mengunci tengkukku dan bibirnya mengunci bibirku. Ciu*man itu berisi rasa marah dan frustrasi. Aku tak tahu bagaimana menanggapinya. Aku mendorongnya dengan putus asa tapi tenagaku bukan tandingannya. Akhirnya aku membiarkan dia menguasaiku.


"Beraninya kau meninggalkanku seperti ini..." Dia memeluk erat tengkukku, tubuhnya mengunciku di dinding. Kata-katanya membuatku takut. "Kau menghilang tanpa perduli apa yang kita sudah lewati. Satu katapun kau tak membalasku. Kenapa kau begitu kejam Moon?"


"Alex, lepas dulu." Aku mendorongnya tanpa hasil. Dia mengunciku dan membuatku tak bergerak dari tempatku.


"Jawab aku, apa kau tidak merindukanku?" Aku tak tahu bagaiamana menjawabnya.


"Alex, kau tahu aku melakukan ini untuk kebaikan kita."

__ADS_1


"Kebaikan kita? Kau lucu Moon, saking lucunya aku merasa kau sedikit bodoh." Dia mendengus kecil dan tertawa. Berani-beraninya dia mengatakan aku bodoh, apa dia tidak tahu aku putus asa memintanya.


"Kau yang bodoh! Lepas!"


Dia mengatakan aku bodoh, dia yang bodoh!


"Kau marah?" Dia malah tersenyum. Aku mendorongnya tapi dia tidak melepasku.


"Lepaskan aku!"


"Melepaskanmu? Aku tidak sebodoh kau, yang kau tahu cuma lari menghindari masalah. Jika kau marah-marah menunjukku itu ratusan kali lebih baik, tapi kau memutuskan hubungan kita dengan email lalu kau menghilang seperti tak pernah ada apa-apa diantara kita. Kau anggap apa aku? Batu yang tak bisa kau ajak bicara!? Kau bukan bodoh apa namanya!"


"Jika aku bodoh kenapa kau mencariku!? Seharusnya kau pergi saja mencari wanita Moskow yang cantik, ada banyak di luar sana, bukankah kau selalu ingin kembali ke sana! Lepas!" Dia tertawa, entah kenapa dia tertawa.


"Moon sayang, aku sudah terjerat padamu, kau harus menerima itu. Biarpun kau bodoh dan penakut, aku akan tetap ada di sampingmu. Selain bodoh kau juga kejam, jadi aku akan berlaku kejam padamu kali ini. Ini balasanmu." Sekarang aku takut dengan apa yang ada dipikirannya, apa maksudnya berlaku kejam padaku.


"Apa yang kau inginkan, aku harus pergi!" Aku mencoba meloloskan diri, tapi apa arti tenàgaku dibanding dia, melepaskan tanganku saja aku tak mampu.


"Kau tahu, aku harus membatalkan pertemuan penting demi bertemu denganmu disini, mengejarmu seperti mengejar pencuri. Dan kau tak akan ke Milan selamanya, kau harus membayar harga membuatku frustrasi berbulan-bulan ini." Dia memeluk pinggangku, aku harus menahannya, kedekatan ini membuatku takut. "Siapa yang bilang kau bisa mengembalikan hadiahku." Dia melihat isi tas yang belum tertutup sepenuhnya di kamarku.


"Alex...lepas."


"Sttt...kau tak memberiku kesempatan bicara satu kalipun padamu. Sekarang kau juga tak punya kesempatan bicara. Kau mengerti Moon sayang sekarang waktunya kau menerima hukumanmu. Aku tak akan bersikap baik hati padamu."


"Alex, lepaskan aku!" Aku menarik tanganku dari genggamannya.


Dia tak perduli dan terus mengunciku dengan ciu*mannya. Pelukannya sangat erat sehingga kupikir dia akan meremukkan tubuhku. Dia membuatku seperti tertempel di tubuhnya. Dan napasku terkunci ketika dia menciumku dengan paksa.


"Gadis bodoh, kau menangis berlinang air mata menjauh dariku. Seharusnya kau hanya menghilang seminggu atau dua minggu dan kembali untuk negosiasi, tapi kau sangat bodoh sehingga kau pergi seterusnya. Satu katapun dariku tak kau perhatikan. Kenapa kau begitu bodoh, dan bodohnya aku terjerat olehmu." Dia memberiku kesempatan untuk bernapas. Aku melihatnya dengan berbagai pikiran melintas.

__ADS_1


__ADS_2