BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 84. Sergei Mashkov


__ADS_3

Kau harus ingat, aku tak mau terlibat dengan perselisihan keluargamu dan aku tak mau pindah ke Moskow." Kali ini dia memperingatkanku. Aku tak bisa menyalahkannya, siapa yang ingin hidupnya diawasi seperti kemarin dan terlibat bahaya dengan konstan.


"Aku tahu sayang berapa kali kau harus mengingatkan itu." Monica menatapku lalu menghela napas panjang.


"Aku juga tahu ini penting bagimu, hanya aku juga tak mau hidup diantara bahaya dan perselisihan. Kakakku tak akan setuju jika aku menikah denganmu sementara adikmu mengirimkan orang untuk membunuhku."


"Aku tahu maksudmu. Aku juga tak mau membawamu ke keadaan seperti itu." Aku memeluknya, jelas saja ini harus mencapai penyelesaian sebelum kami menikah. Dia menghela napas panjang melihtku.


"Jika kalian bisa berdamai kenapa tak mencoba berdamai."


"Aku terbuka dengan perdamaian, selama ini apa aku mencoba mencari masalah dengannya. Kau pikir aku yang mulai."


"Baiklah-baiklah, mereka yang salah." Dia menepuk bahuku dan tersenyum. "Sayang, bulan depan Eliza menikah di Washington DC, kau harus mengosongkan tiga hari untuk menemaniku. Ini tidak boleh diganggu gugat. Aku akan marah kalau kau tak bisa. Aku sudah bilang ke Anna juga, apa kau ingat." Sekarang dia mengingatkanku.


"Iya, Anna sudah mengosongkan empat hari untukmu. Dia sudah membeli tiketnya. Aku kan menyusul ke DC Jumat dan kembali Senin sore. Apa itu cukup."


"Tentu saja cukup." Dia terlihat gembira, memelukku dan memberikan ciuman di pipi. Aku turut senang dia gembira. Eliza dan Monica adalah saudara yang sangat dekat satu sama lain. Setelah ini Eliza akan menetap di DC. Itu pasti sebuah perpisahan yang tidak mudah.


"Tapi dengan jadwal liburan ini, aku harus memadatkan pekerjaan di minggu sebelumnya. Jangan protes aku agak sibuk oke."


"Aku tahu, aku tak akan minta jalan-jalan. Kalau kau bisa datanglah ke tempatku." Dengan pengertian dia membebaskan jadwal pekerjaanku. Walaupun dia kadang-kadang sedikit manja tapi dia tahu pekerjaanku membebaniku. dan dia tak memaksakan waktunya.

__ADS_1


Kali ini adalah liburam keluarga, saat yan penting bagi keluarganya aku harus menyediakan waktuku.


Dengan Albert sebagai pimpinan keluarga mereka adalah sebuah keluarga besar yang saling mendukung satu sama lain. Mirip dengan Paman, Bibi dan Ayah, mereka tidak pernah bertengkar memperebutkan sesuatu.


Ayah sebenarnya juga pasti ingin keluarga kami tidak terpecah begini. Jika kami punya kesepakatan untuk hidup damai itu pasti baik.


Aku bisa bayangkan reaksi ular itu begitu tahu Sergei yang melakukan semua kekacauan ini. Dia harusnya menceramahinya habis-habisan dam menyuruhnya menjauh dari kekacauan.


Seminggu setelah pertemuanku dengan Bibi, jelas sesuatu telah terjadi.


"Kewenangan Sergie atas divisi investasi telah ditarik, dan Pamanmu sudah mengirim orang untuk membawahi perusahaan investasi." Pesan dari Bibi sudah menjelaskan banyak hal.


Kurasa sekarang yang tersisa adalah dia harus bisa mengelola apa yang tersisa padanya. Jika itu masih juga tidak bisa maka dia akan diganti dengan profesional.


Dan tak lama setelah itu, nomor Sergie ada di layar ponselku, nampaknya kali ini dia mau mengamuk lagi menyalahkanku setelah kewenangannya ditarik.


"Bangsa*t! Kau pikir kau akan menang!" Dia langsung memaki. Tapi aku menghadapinya dengan tenang.


"Sergie. Apa kabarmu. Berani juga kau meneleponku. Selama ini rupanya kau orang yang menyerangku. Jika kita bertemu aku akan mematahkan gigimu sendiri."


"Kau tidak punya keberanian."

__ADS_1


"Kau akan lihat keberanianku saat kita bertemu nanti."


"Kau berani." Aku hanya mendengus menjawabnya.


"Kau berani menyuruh orang membunuhku, mengawasi kekasihku, kenapa aku tak berani menghajarmu sendiri."


"Kau pikir aku takut padamu?" Dia tak menentangku sama sekali, berarti benar dia yang melakukan semua ini. Aku tertawa, akan kubuktikan bagaimana omong besarnya itu nanti.


"Brangkas uangmu dikunci? Kenapa kau datang menelepon dan menyalahkanku?" Aku menertawakannya dengan puas dan menyindirnya habis-habisan sekarang.


"Pasti kau yang mengadu ke Ayah."


"Jelas saja. Keputusan investasi bodoh itu perlu dibedah habis-habisan. Jika aku tak mengadu pun, akan terlihat di laporan. Itu kebodohanmu sendiri, kau mau menyalahkanku? Kau pengecut sombong yang hanya bersembunyi di belakang punggung Ibumu."


"Aku akan menghajar mulut sombongmu itu!"


"Anak manja banyak omong, tiga bulan lagi aku akan ke Moskow kita lihat siapa yang dihajar duluan."


"Kau..." Kututup teleponnya, cukup bagiku mendengarkan omong kosongnya. Saat kami bertemu nanti kata-kata saja tak cukup untuk menyelesaikannya.


\=\=\=\=\=\=

__ADS_1


__ADS_2