BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 68. Company Party


__ADS_3


POV Gilbert


"Aku harus mengirimmu ke pesta rekanan dengan keluarga Warner, Kylie Warner khusus minta kau menemaninya." Kakakku membicarakan undangan dari keluarga Warner tak lama dengan pertemuan keduaku dengan Kylie.


"Ohh baiklah."


"Dia bilang kau bersedia menjadi pendampingnya?" Mungkin ini berkaitan dengan bangsat Adrian itu.


"Iya tak apa, aku bersedia."


"Kau ada hubungan dengannya?"


"Tidak tentu saja, ini hanya persoalan aku membantunya menghindari bangsat Adrian Russel itu."


"Begitu. Kupikir kau ada hubungan dengan gadis cantik itu. Dia nampaknya juga tak keberatan jika kau jadi pacarnya yang sebenarnya."


"Aku sudah punya Eliza, kau lupa itu."

__ADS_1


"Ya..ya... Semoga kau berhasil membawanya ke sini. Tapi jika tidak berhasil, gadis keluarga Warner itu sangat mungkin menjadi pasangan idealmu."


"Itu tidak akan terjadi, aku sudah mengatakan padanya aku sudah punya pacar. Dia hanya memintaku mengatasi Adrian Russel."


"Ya baiklah, terserah padamu saja."


Dan dua hari kemudian, aku tiba lebih awal untuk menjadi pendampingnya seperti yang dia minta padaku.


"Ibuku pendukung Adrian, kau harus bersabar jika dia sedikit menyindirmu. Tapi tenang saja aku akan membelamu."


"Baiklah."


Dan beberapa saat kemudian, Kylie sudah mengandeng tanganku dan kami berjalan bersama di pesta itu. Beberapa ada yang kukenal tentu saja, yang mengucapkan salam kepada kami.


"Siapa yang kau gandeng ini Kylie, kau belum memperkenalkannya ke Ibu." Seorang wanita yang masih menampakka kecantikan masa mudanya menyapa kami. Ibu Kylie...


"Ini Ibuku. Samantha Warner." Kylie memperkenalkan Ibunya padaku.


"Selamat Malam Nyonya, saya Gilbert Gillian."

__ADS_1


"Ternyata keluarga Gillian, sekarang kalian sedang naik daun bukan. Kau jadi kekasih anakku sekarang rupanya?"


"Mom dia kekasihku sekarang. Aku tak sudi menjadi kekasih playboy Adrian Russel itu."


"Kau hanya melihat keburukannya. Dia sendiri yang berjanji pada Ibu dia tidak melihat gadis lain jika dia berjalan denganmu."


"Ohhh aku tak percaya Mom. Sudahlah aku tak ingin membicarakan dia lagi, yang penting Jenderal Gillian ini menjadi pacarku sekarang. Ayah dan Kakak sudah setuju dengan keputusanku tidak ingin bersama Adrian kau juga sudah mendengar itu dan Jenderal Gillian adalah orang yang tepat untukku."


Dia mengatakannya dengan penuh keyakinan pada Ibunya. Aku yang jadi khawatir keluarganya menganggap ini serius dan ini akan jadi bumerang untukku.


"Ayah dan Kakakmu tahu kita hanya bersandiwara bukan?" Pertanyaan ini adalah murni aku takut semua orang salah paham pada kami, jika Ayahnya menyangka aku mempermainkan putrinya maka habislah keluarga kami.


"Tentu saja kenapa kau khawatir sekali Jenderal. Ayo kita jalan lagi. Ada banyak yang harus kita sapa, aku akan mengenalkanmu juga ke beberapa orang yang pasti kau ingin kenal. Tetap pada akting mesra kita oke, kita tak tahu kapan Adrian gila itu muncul, jangan sampai dia curiga kita hanya settingan."


"Iya baiklah, tenang saja, lenganku masih bisa kau sewa untuk dua jam kedepan." Dia menanggapi kata-kataku dengan senyum lebar.


Dia membawaku berjalan-jalan menyambut tamu. Pergaulan putri keluarga Warner ini ternyata mengagumkan. Dia memperkenalkan padaku beberapa tamu yang aku kagumi. Semua nampaknya orang hebat.


"Arah jam 11, pengagummu sudah datang." Sekarang aku membicarakan soal Adrian Russel. Gadis itu mendengus kesal.

__ADS_1


__ADS_2