
"Maksudmu kau ingin pernikahan keluarga juga?" Dia menatapku dengan pandangan bertanya. Aku langsung tertawa.
"Astaga tidak, aku hanya berkata kau harus menawarkan sebuah keuntungan tambahan atas permintaan bantuan ini. Lagipula kami masih harus melihat apa investasinya akan menguntungkan."
"Begitu." Entah apa aku salah menangkap tapi nampaknya itu ekspresi kekecewaan.
"Tentu saja, aku bisa mengatur itu. Kapan kau ingin bertemu."
"Aku belum bisa memastikan, yang memegang keputusan seperti ini adalah Kakakku. Aku fokus ke proyekku di pemerintah. Nanti akan kukabarkan padamu."
"Baiklah."
"Sebentar dulu, sebelumnya apa keluargamu setuju tentang pernikahan keluarga ini."
"Ibu setuju, Ayah terserah padaku, Kakakku di pihakku. Jadi harusnya aku bisa menentangnya." Dia melihatku. "Tuan Gillian, kau sudah punya kekasih?"
"Sudah."
"Sayang sekali." Dia tersenyum dan melihatku dengan harapan terang-terangan.
"Kau belum mengenalku Nona, mungkin saja aku tak sebaik yang kau duga."
"Untuk orang yang tanpa ragu dengan tegas mengatakan dia sudah punya kekasih setidaknya dia orang yang setia."
__ADS_1
"Russel itu tidak setia untukmu, dia nampaknya sangat terobsesi padamu."
"Jelas saja dia terobsesi padaku, dia punya kepentingan padaku. Setidaknya dia bisa dianggap berguna dengan menikahiku, kau pikir dia cinta padaku? Aku tak begitu naif." Dia bicara dengan emosi.
"Lalu apa dia tahu kau pemilik tempat ini dan Snake anak buahmu."
"Tentu saja tidak."
"Baguslah. Jika begitu aku bisa bermain sandiwara untuk membantumu sekaligus memberinya pelajaran."
"Oh ya kau ingin membantuku bagaimana caranya."
"Anggap saja aku sedang mengejarmu sekarang, semangkin dia melakukan tindakan provokatif akan semangkin baik. Nanti biar aku yang urus."
"Ya aku memang punya masalah dengannya. Soal membantu mempengaruhi pemegang saham kalian, aku akan bicara dengan Kakak, kalian sudah punya dasar bisnis bagus, kakakku tak akan keberatan dengan investasi di kalian kurasa."
"Jika kalian masuk, banyak orang yang setidaknya bersedia menjadi dekat dengan kalian dan kami akan berhasil mempertahankan kendali utama. Terima kasih untuk itu."
"Tapi aku tak menjamin Kakakku setuju, ini tetap bergantung apa yang kalian tawarkan."
"Aku mengerti, jangan khawatir, aku yang mengurus itu."
"Aku pergi dulu. Aku sebenarnya membawa tim kesini, bersiap jika ada masalah, aku harus memulangkan mereka dulu."
__ADS_1
"Iya baiklah. Terima kasih buat bantuanmu."
Satu hal telah jelas. Adrian memang perlu dihajar.
\=\=\=\=
Keesokan harinya.
"Jika lain kali kau mengirim orang, pastikan kualitasnya bodoh, jangan mengirimkan cecunguk bodoh padaku. Aku tak tahu kau tak bisa apa-apa, tapi rupanya kau juga tak punya uang membayar orang yang lebih berguna?" Aku menelepon Adrian hanya untuk menghinanya dan membuatnya tambah marah.
"Bangsat Gillian, jaga mulutmu. Siapa yang kau bilang mengirimkan cecungguk bodoh?!" Rupanya dia masih percaya diri bisa mengelak.
"Kau yang jaga mulutmu. Lain kali kita bertemu akan kuhajar kau sendiri. Orang yang kau bayar sudah membuat pengakuan dia dibayar untuk mencederaiku. Jadi tak ada tempat untuk kebohongan basa basimu." Sekarang dia diam.
"Jadi apa maumu?"
"Apa mauku? Biar kupikir dulu, kau mengincar Kylie karena ingin dianggap berguna bisa menikahi gadis keluarga berpengaruh, jadi bagaimana kalau aku mengejarnya dan menjadikan peluangmu jadi setara dengan nol sekarang?"
"Jika kau berani...."
"Tentu aku berani, apa yang kau lakukan sekarang?!"
"Jika kau berani, kau akan..."
__ADS_1