
POV Monica
Bunga-bunga itu tak datang lagi. Ada yang hilang dari ruang pameran butikku . Setelah beberapa saat rasanya aku menyukai kejutan bunga yang datang setiap akhir pekan, entah bunga apa yang akan datang dan entah rangkaian apa yang mereka buat. Sekarang tak akan datang lagi.
"John. Pergi ke toko bunga di ujung jalan sana, bawa vas kita, biarkan mereka mengisinya." Aku menyuruh pegawaiku mengisinya dengan bunga-bunga baru.
"Iya Nona." Sekarang kami punya banyak vas yang bisa diisi lagi dengan rangkaian bunga.
"Hmm...tidak ada bunga lagi datang, sayang sekali." Manager butikku Jasmine memandang tempat bunga yang seharusnya berisi bunga-bunga meriah. "Apa kau yang memintanya berhenti. Tadinya dia tak berhenti mengirimkannya, kenapa sekarang dia berhenti?"
"Karena dia sudah dapat slot makan siang denganku."
"Itu dilakukannya untuk sebuah makan siang? Makan siang yang sangat mahal." Aku tertawa dengan tanggapan Jasmine.
"Iya itu makan siang yang mahal, seharga 12x kiriman bunga." Aku tertawa juga dengan kenyataan itu.
"Tapi nampaknya sekarang kau jadi memikirkannya, apa dia tampan."
__ADS_1
"Hmm...Aku tidak memikirkannya. Hanya tidak membenci atau mencurigainya lagi. Kupikir apa yang dia lakukan karena memang dia ingin meminta maaf dan menghargaiku." Dan aku juga menghargai usahanya. Siapa sangka kami pernah bertemu 20 tahun yang lalu.
"Jadi sekarang kau sudah memaafkannya."
"Kurasa begitu. Kemarin dia sudah menjelaskan semuanya dan aku menerima semua alasannya."
"Nampaknya kau akan mulai menyukainya." Aku langsung tertawa.
"Tidak, aku punya orang lain yang kusukai sekarang. Dan jelas menyukai mafia Rusia seperti dia akan membawa banyak masalah."
"Benarkah, kita lihat saja bagaimana akhirnya nanti. Jika dia tampan, kurasa kau harus mempertimbangkannya."
"Dasar sombong, akan kita lihat kau berakhir dengan siapa nanti."
Dengan siapa aku berakhir. Jelas bukan dengan mafia Russia itu.
Tapi tetap aku penasaran.
__ADS_1
Oomnitsa... entah apa arti kata itu baginya, aku tak pernah bertanya. Mungkin suatu hari nanti aku akan tahu.
\=\=
Kakak di Alaska, dan Andrew tertembak di sana. Berita paling mengejutkan yang kuterima beberapa hari ini, belum lagi Andrew beberapa hari yang lalu melamar Kakak sebelumnya. Aku tahu Andrew nampaknya menyukai Eliza tapi langsung melamar adalah hal yang luar biasa.
Beberapa saat kemudian keadaan menjadi sedikit rumit , keluargaku dan keluarga Andrew mendukung lamaran ini, Ibu bersemangat mendesak Eliza dan dia bertengkar hebat dengan Ibu dan pergi ke Washington DC. Semua menjadi kacau, aku tak tahu siapa yang harus kubela, aku hanya bisa menenangkan Eliza dan Ibu yang dua-duanya sama-sama emosi.
Hati tak bisa dipaksakan, baik Jenderal Gillian maupun Andrew adalah orang yang sangat berjasa dan dekat. Tapi hati Eliza sudah memilih. Ibu akhirnya tak bisa memaksakan apapun.
"Berikan saja Andrew padaku Kakak." Aku tertawa dan Eliza melihatku dengan tak percaya, aku akhirnya menemuinya ketika dia sudah pulang dari Washington DC.
"Kau menyukainya?!" Aku mengangguk, tapi aku tahu aku bukan wanita yang di sukai Andrew. Wanita dengan otak diatas rata-rata seperti Kakak yang selalu menarik perhatiannya, wanita yang bisa berpikir bagaimana cara menguasai dunia.
Aku hanya berpikir bagaimana menebarkan kebahagiaan ke orang-orang di sekitarku, menguasai dunia jelas tidak termasuk ke dalam keahlianku.
Eliza tersenyum ketika aku mengatakan hasil pengamatanku soal Andrew, aku memang pesimis aku bisa mendapatkannya.
__ADS_1
"Kau harus tetap mencoba."
Eliza bilang pria tetaplah pria, jika aku tak mencoba menggodanya bagaimana aku tahu dia tak tertarik. Kami sudah seperti keluarga kata Andrew padaku, kata-kata itu seperti tembok tinggi yang tidak bisa kulompati setiap kali aku melihatnya, aku sama sekali tak punya keberanian mengapainya, tapi saat ini jika aku tak mencoba maka aku akan menyesal.