
"Eliz, bolehkah aku ke tempatmu untuk mungkin satu minggu." Sebulan sebelum batas akhir waktuku aku menelepon Eliza.
"Tentu saja boleh, kau ingin kesini, liburan atau melarikan diri."
"Melarikan diri..." Aku sudah cerita aku memberinya waktu tiga bulan untuk memutuskan dan walaupun aku tidak mengatakan apapun, bukan berarti aku tak akan mengambil sikap tegas setelah batas waktu.
"Jadi sampai sekarang dia tidak memberikan jawaban padamu?"
"Tidak, dia memperlakukanku seperti porselen cina yang gampang pecah, menimbuniku dengan banyak hadiah sehingga aku berpikir dia sedang berusaha menyuapku."
"Ya kurasa dia memang benar-benar mencintaimu, tapi masalah Moskow adalah masalah besar untuknya. Jika dia masih tak bicara ya berarti dia memang berusaha masih berkompromi denganmu."
"Aku berpikir aku akan memutuskan hubungan dengannya, memberikan kami jarak, aku akan memaksanya berpikir iya atau tidak. Aku sudah menghubungi agenku di Paris, aku akan mendaftar di runway lagi."
"Kau melakukan hal yang benar aku mendukungmu, datanglah ke DC. Jika kau ingin menghabiskan waktu lebih banyakpun boleh. Aku sebenarnya sedang hamil, ajaklah Mom aku butuh teman mengobrol di sini." Aku langsung terkejut dan senang.
__ADS_1
"Benarkah. Kau sedang hamil?"
"Iya baru 8 minggu."
"Selamat Eliza sayang, kau akan punya bayi segera. Aku bahagia untukmu, ahh...keponakan baru lagi." Aku ingin ikut merayakan kegembiraannya bersama Mom tentu saja. "Jenderal Gillian pasti gembira sekali."
"Dia sangat menginginkan ini tentu saja. Aku ingin berbagi ini ke kalian dan aku merindukan masakan Mom..." dia tertawa.
"Aku akan ke sana bersama Mom okey, tunggu kami."
Hari-hari berlalu dengan cepat. Aku semankin takut tentang apa yang diputuskannya, sementara dia bersikap seperti tidak ada yang terjadi diantara kami. Dia tetap manis, kadang sedikit terlalu sibuk, dan belakangan menjadi terlalu perhatian padaku, mungkin dia ingin aku merubah permintaanku, tapi aku akan tetap pada apa yang aku inginkan, aku membiarkannya melakukan apa yang diinginkannya.
Tapi seminggu sebelum batas waktunya aku merasa sudah waktunya, dia akan pergi keluar kota besok, dan di akhir minggi depan aku akan pergi ke Montreal, jadi ini terakhir aku akan bicara padanya di rumahnya.
"Sayang, minggu depan aku akan ke DC. Eliza sedang hamil, aku dan Ibu ingin menjenguknya." Aku memulai kata-kataku dengan tangan dingin.
__ADS_1
"Ohh begitukah. Selamat untuknya. Baiklah. Nanti aku akan meneleponnya untuk mengucapkan selamat."
"Mungkin aku tak akan kembali ke Montreal lagi selama beberapa saat, kau harus menjaga dirimu."
Aku sudah memutuskan, dari DC aku akan ke Paris, aku akan mengambil beberapa pekerjaan untuk melupakan masalahku di Montreal. Bisnisku di Montreal sudah ada yang mengurus, tanpa kehadiranku pun mereka akan baik-baik saja.
Sampai sekarang dia belum memberikan keputusan apapun, jadi aku sudah tahu dia keberatan melepas posisinya. Jadi yang kulakukan sekarang adalah aku akan melepaskan semuanya. Kami akan saling melupakan.
Tak apa, mungkin jalan kami memang berbeda.
"Apa maksudmu aku menjaga diri."
"Kau tahu apa maksudku." Dia menggeleng.
"Moon, apa kau harus melakukan ini. Kita tidak akan berpisah. Kau dan aku kita akam menemukan jalan." Dia tahu apa maksud perkataanku tentu saja tapi dia tetap tak memgeti aku ingin dia melepas Moskow bukan hanya karena aku tak mau ke sana tapi juga yang terbesar masalah keamanan anak-anak di masa depan.
__ADS_1
"Tuan Mafia, kau tak usah merasa bersalah. Jika kau tak bisa tak apa. Kenapa kau harus bersedih. Kita hanya akan melewatinya. Satu saat kau akan bertemu sesorang yang istimewa, dia akan menemanimu. Aku akan menemukan seseorang yang lain, tidak sepertimu, tapi tak ada yang sempurna satu sama lain. Rasanya sakit, tapi kita akan tetap hidup... Kita akan menjadi teman satu sama lain, bagaimanapun punya teman mafia itu menguntungkan...." Aku tertawa kecil, setelah berbulan-bulan menangis mempersiapkan ini akhirnya hari ini aku bisa mengatakan ini dengan rela.