BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 123. My World 5


__ADS_3

Artur Jovovich membayar harga yang pantas untuk menutup mulutku. Beberapa investor yang dibawanya berhasil kutarik dengan prospek jangka panjang perusahaanku.



Aku jadi berpikir bagaimana jika sang keponakan tahu siapa yang membawa para investor itu.


"Satu lagi permintaanku, jangan menyebut persoalan ini kepada Sergie. Urusanku tetap menjadi urusanku." Ternyata dia meminta aku tidak membocorkan informasi ini, sayang sekali jika dia tidak memintanya aku bisa dengan senang hati memberitahu hal ironis ini.


"Begitu, baiklah, tentu saja aku tak akan memberitahunya."


"Dan jangan ikut acara apapun dengan Kotyakov lagi."


"Ya baiklah, tentu saja."


Walaupun uangnya belum masuk, aku sudah menerima rincian jumlah yang mereka akan investasikan, jumlahnya kurasa bisa membuatku melampaui valuasi di Eropa Barat. Ini sebuah kejutan yang sangat menyenangkan.


Pagi awal pekan ini aku dengan senang hari bersiap pergi ke kantor. Suasana hatiku di puncaknya.


"Moon, kau baik-baik saja? Kau tak pergi bekerja?" Hari ini dia terlihat mengantuk, semalam dia istirahat dengan baik, aku tidak membuatnya bekerja terlalu keras semalam.


"Aku merasa sakit." Dia duduk dengan lesu.


"Kau sakit? Kenapa... kau mau ke dokter?" 


"Tidak, aku hanya ingin tidur, mungkin hanya kelelahan." 


"Kelelahan? Kau yakin, semalam hanya satu kali." Dia menatapku dengan tatapan ingin menus*ukku dengan garpu yang dipegangnya.


"Mes*um."

__ADS_1


"Kalau begitu tak usah bekerja hari ini istirahatlah. Tidak ada demam?"


"Entahlah, tidak kurasa, hanya tak nyaman. Tak apa, mungkin dengan sehari istirahat juga akan kembali baik-baik saja. Pergilah, kau harus ke kantor bukan."


"Aku ke kantor dulu." 


"Bye." 


"Kau yakin tak perlu ke dokter?"


"Tidak aku hanya butuh tidur, aku masih kelelahan kurasa." 


"Jika memburuk kau harus ke dokter."


Aku meninggalkannya awal minggu itu, kemungkinan aku akan kembali ke rumah dalam beberapa hari kemudian.  Hanya akhir pekan aku berada di apartmentnya. 


Tapi karena dia bilang dia masih merasa tak enak badan, aku kembali lusa malam dan membawakan makanan kesukaannya.


"Kau kesini?" 


"Kau sakit, jadi aku ingin melihatmu. Kau sudah baik?" 


"Hmm entahlah, aku masih lemas." Dia duduk dan membuka bungkusan makanan yang kubawa. Sesaat kemudian, dia menutupnya kembali. 


"Kenapa ada yang salah?" Aku heran, itu makanan kesukaannya, kenapa dia menyingkirkannya.


"Hmm...tak suka baunya. Aku makan salad saja." Dia menyingkirkankan makanannya. 


"Kau tak suka baunya? Itu makanan kesukaanmu?" 

__ADS_1


"Aku malas makan."


"Malas makan?" 


"Kau punya masalah lambung belakangan." 


"Tidak, aku tak tahu kenapa. Tak usah dipikirkan. Besok juga sembuh." 


Tapi berhari-hari kemudian dia masih dalam kondisi yang sama. 


"Moon, ayo ke dokter saja." Kuseret dia sekarang karena khawatir. 


"Aku terlalu banyak berpikir...." 


"Apa yang kau pikirkan?" 


"Gejalanya seperti..." Dia punya tebakan dia sakit apa? 


"Seperti apa?" 


"Seperti yang Eliza bilang..." Eliza? Eliza sakit apa? Dia hanya baru melahirkan. Sesuatu terlintas begitu saja sekarang.


"Kau tidak bilang...." Aku langsung mencengkram lengannya. "Maksudnya kau mungkin hamil." 


"Aku tak tahu, mungkin saja itu terjadi bukan? Aku tak pernah seperti ini. Eliza pernah cerita dia punya gejala seperti ini." Dia melihatku dengan wajah cemas, berlainan dengan ledakan antisipasi kegembiraanku wajahnya khawatir.


"Jika iya kita akan langsung menikah saja. Tentu saja kita akan menikah." Aku langsung sangat berharap, dan bersemangat. Aku tak punya keraguan soal itu. Apa yang aku lakukan untuk menunda adalah memberi kami kesempatan untuk bersiap.


"Jika benar kau bahkan belum menyelesaikan masalahmu." Rupanya ini kekhawatirannya, dia takut aku tidak punya waktu untuk memperhatikannya. Beberapa saat ini aku memang punya intensitas kesibukan yang tinggi, sehingga kadang dia pun protes. Tapi sekarang aku tak punya kekhawatiran seperti itu lagi.

__ADS_1


"Moskow tidak penting lagi. Aku sudah pasti menyelesaikannya. Jika ini benar, aku akan menjagamu. Kau tak usah khawatir apapun." Dia mulai bisa tersenyum.


__ADS_2