
"Mungkin saja, Ayahku sendiri mengancamnya jadi mungkin dia tidak terang-terangan memusuhiku atau berbuat sesuatu lagi. Tak ada yang perlu kau khawatirkan."
"Aku hanya takut kau terluka lagi." Dia terlihat sedikit menyangsikan apa yang aku katakan, tapi dunia pria berbeda dengan dunianya. Pria diakui karena mereka menunjukkan kekuatannya. Sementara Monica sebenarnya berani tapi dia adalah anak bungsu, anak bungsu ditakdirkan menerima banyak perlindungan dan kasih sayang.
"Dengarkan aku, kau tak usah khawatir, aku akan mengurus semua masalahku dengan keluargaku, aku tak akan melibatkanmu. Tak akan ada yang akan mencoba melukaimu lagi. Jangan berpikir terlalu banyak tentang masalahku, aku bisa mengatasinya. Jikapun nanti ada kekerasan terjadi, perkelahian, itu untuk mengajari adikku tersayang itu dia tidak bisa bertindak macam-macam denganku. Kau tenang saja oke... Perkelahian itu umum di dunia laki-laki. Jika aku tak melakukan perkelahian aku akan berakhir seperti saat kau menemukanku, terpojok dan tak bisa melawan. Jadi kali ini percayalah padaku."
"Hmm...tetap saja damai lebih baik daripada berperang."
"Perang adalah cara manusia mencapai kedamaian. Kau jangan lupa itu." Monica meringis menatapku.
"Kau nampaknya terlalu banyak bergaul dengan Jenderal Gillian belakangan. Filosofimu berubah banyak." Aku tertawa. Faktanya bergaul dengan Jenderal itu memang menguntungkan, dia sudah banyak membantuku sekarang.
"Berteman dengan Jenderal itu banyak untungnya bukan. Kau menyebutku mafia, istri kakakmu jenderal, kalian sekeluarga sangat pandai mencari pasangan hidup." Ganti Monica yang tertawa sekarang.
"Aku hanya ingin kita dan mungkin di masa depan anak-anak kita punya keluarga yang baik. Kau punya waktu luang untuk mereka, apa gunanya mengejar jabatan yang membuatmu jauh dari keluarga. Kau tahu rasanya Ayahmu tak pernah hadir dan mendukungmu. Apa kau ingin anakmu mengalami itu."
__ADS_1
"Iya, aku mengerti apa yang ingin kau katakan. Aku tak mengatakan itu tak baik. Tentu saja itu semua benar." Aku akan mempertimbangkan apa yang baik untuk kami, tak mungkin aku ingin anakku mengalami apa yang kualami, tapi masalah Sergie dia memang harus dihajar kalau tidak dia akan meremehkanku dan menganggap ucapanku hanya bualan.
"Kau mengerti. Jadi kau masih menyiapkan rencana perkelahian nanti?"
"Masih. Orang salah tetap harus diberi pelajaran agar dia tidak melakukan kesalahan lagi." Aku meringis lebar dan dia cemberut karena tìdak mengerti logikaku.
"Darimana pemahaman aneh itu berasal..." Aku tertawa saja menanggapinya, dia memang tak akan paham.
"Dari pengalaman hidup Sayang. Pria berbeda dengan wanita, jangan cerewet. Mau kucium saja, kenapa kau senang sekali membahas Sergie..." Aku mengalihkan perhatiannya dengan mencium dan memeluknya.
"Kekasihmu ini mafia seperti katamu. Prinsip mafia ini berbeda, kau yang harus berdamai dengan itu." Perkataanku membuatnya tertawa dan menangkupkan telapak tangannya ke wajahku.
"Kenapa aku bisa jatuh ke tanganmu. Padahal aku membencimu sebelumnya." Aku menatapnya dengan serius lalu menjawabnya asal-asalan.
"Karena aku mengirimkanmu bunga matahari." Sekarang dia terpingkal.
__ADS_1
"Tuan Mafia, lain kali ajak aku berfoto di ladang bunga matahari."
"Dikabulkan. Aku kasihan dengan bunganya, dia langsung tak menarik lagi di sampingmu."
"Mulutmu memang manis Tuan Mafia, apa yang kau inginkan sebagai hadiah."
"Ciu*man."
Sebuah ciu*man dari Svetluny-ku tercinta membuatku membalas dengan ciuman berikutnya. Gaun tidur peach ini membuatku ingin merasakan kulitnya yang lembut. Len*gguhan kecilnya membuatku ingin menciumnya lebih dalam lagi, sementara sesuatu terbangun dan dia menyentuhkan dirinya padaku dengan sengaja.
"Tuan Mafia, aku mau kau..." permohonan yang tak mungkin kutolak. Napasnya tertahan saat aku menyentuhnya tapi belum menguasainya.b
"Gadis nakal, ..."
Aku harus membereskan perkelahian yang satu ini sekarang. Membuatnya kalah akan membuatnya meleng*guh bahagia.
__ADS_1