BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 168. Suspicious Commanders


__ADS_3

"Kurasa kita bisa bekerja sama, lagipula saling melaporkan tidak akan berakhir bagus. Kita berdua akan ditertawakan oleh para Jenderal."


"Kau pintar bicara ternyata. Memang cocok diangkat jadi atase diplomatik militer juga." Dia memasang pertahanan tertingginya denganku. Tangannya terlipat di depan dada melihatku.


"Aku jujur padamu, aku membantumu kau membantuku juga, misi sosial ini membuatku harus memutar otak. Sekali aku tak bisa menyelesaikan dengan dana operasional yang hampir mustahil kucukupi. Aku sangat bersyukur kalian bisa menerima pertukaran obat dan protokol perawatan itu. Akan kuusahakan kita minim korban nanti. Sorry, kami masih membawa-bawa gender, kami jarang bertemu dengan Komandan perempuan di militer apalagi blonde. Itu pujian untukmu..."


"Selain pintar bicara kau juga pintar merayu ternyata. Aku harus mengatakan kau sangat multi talent." Aku tertawa, caranya bicara mengingatkanku pada Jennifer. Dia mencurigaiku, dan mengecapku dengan dugaan terburuk yang bisa dia dipikirkannya.


"Aku salah, aku terima apapun pendapatmu." Dia meringis sekarang. "Bukan kau saja yang pernah mengatakan hal itu padaku."


"Ohh benarkah, ada yang berani mengatakan hal itu pada Komandan sepertimu."


"Ohh ada, dia perawat militer yang terlatih untuk penanganan protokol infeksi, tapi dia sering terlibat operasi militer di lapangan, sampai dia bisa melakukan pidato untuk menyemangati para prajurit, bisa menembak dengan jitu, sampai menghajar infected dengan tangan kosong pun kujamin dia bisa. Dia selalu mengatakan mulutku terlalu manis, aku memuji dengan maksud dan tujuan. Aku tak akan menang untuk soal bicara dengannya."


"Ternyata begitu, nampaknya dia istimewa. Kekasihmu sekarang? Atau kau tertarik menaklukkannya untuk sekadar jadi koleksi." Lihat saja cara dia bicara, dia menaruhku sebagai penjahat besar.


"Ohh dia tak tertarik padaku. Dia kekasih Dokter James yang kau temui kemarin."

__ADS_1


"Begitu rupanya, dia nampaknya gadis yang sangat berani, nampaknya jika kau memuji seorang gadis dia pasti istimewa, gadis biasa nampaknya hanya akan jadi cemilan pembuka dan tak kau ingat lagi." Dia meringis kecil, pandangannya itu. Seperti dia merasa dia lebih pintar dalam menilaiku. Gadis ini sangat tinggi hati.


"Gaya bicaranya persis sepertimu. Tapi kau lebih tajam." Kubiarkan saja dia melampiaskan kekesalannya karena mendengar kami membicarakannya, sekarang dia bisa tertawa lepas. Dia juga mungkin kesal dan tersinggung kami menjadikannya bahan lawakan s*exist.


"Bagaimana keadaan USA, kalian sudah deklarasi green zone total." Dia mengubah pembicaraan kemudian.


"Setelah dua tahun lebih kami seperti di gua gelap harus aku katakan kami merasa lebih baik. Tadinya hampir 30% kota-kota besar hancur, kami harus menghadapi penurunan 1/5 populasi, kami terpukul paling parah kurasa, tapi sekarang kota-kota aman mulai banyak yang sepenuhnya mandiri, setidaknya bisa mencukupi kebutuhannya sendiri. Itu sangat melegakan. Dalam dua tahun ini baru kemarin kami diizinkan melihat keluarga kami. Itupun hanya dalam jangka waktu 30 hari kami harus bersiap dengan penugasan berikutnya." Aku mencari simpati saja sekarang.


"Nampaknya keadaan kalian jauh lebih berat, kami menghitung kami kehilangan 1/30 populasi, tetap saja itu berarti kehilangan 1.3 juta orang."


"Ayah Ibu, dan adikku. Paman, Bibi..." Aku melihatnya, saat dia berkata wabah ini dari kota kami, dia pasti sangat membenci orang US.


"Aku turut berduka atas kehilanganmu." Dia bahkan tidak melihatku saat aku mengucapkan turut kehilangan.


Ini agak gawat, bisa jadi dia dipengaruhi sentimen pribadi, tapi untungnya dia mau membantu saat aku meminta bantuan ransum dan perlengkapan medis tadi.


"Terima kasih." Dia memutus pembicaraan.

__ADS_1


"Akan kita coba menyelesaikan ini dalam satu bulan ke depan. Kau membantuku, aku juga akan membantumu sekuat tenagaku, jangan khawatir." Dia melihatku dengan matanya yang indah itu, aku mengucapkan itu dengan tulus tapi bisa kulihat dia sama sekali tak tergerak. Kenapa? Ini agak memcurigakan.


"Iya, aku yakin kau bisa membantu. Kami yang harus berterima kasih pada kalian sekarang." Dia tersenyum padaku sebentar, yang aku yakin hanya sekedar formalitas. Senyum dan ekspresi itu mungkin berkata, 'Ini karena kalian yang membawa bencana kesini! Dan membuat keluargaku menjadi korban! B*angsat USA!'


"Mulailah mengirim tenaga medis yang ingin kau latih secepatnya, jika ada korban mereka juga bisa langsung belajar praktek."


"Iya, akan kulakukan. Bagian medis militer dalam 2-3 hari kedepan segera mengirimkan kandiatnya." Nadanya kembali datar saja, tak ada rasa terima kasih, seakan bantuan besar itu tak ada gunanya baginya, lalu apa yang dia anggap berguna?


"Sudah malam, mungkin lebih baik kita istirahat. Besok akan jadi hari pertama penyisiran. Sekali lagi kami yang salah soal perkataan tadi. Semoga itu tidak menjadi ganjalan untukmu. " Kali ini dia tersenyum.


"Harus kuakui, kau memang pandai merayu." Aku tertawa sekarang. Dia hanya senyum-senyum menangapi tawaku. "Kalau begitu selamat malam Komandan Gillian."


"Selamat malam Komandan Dugard."


Kali ini aku tak akan memanggil wanita ini dengan nama depannya. Bisa-bisa dia tersinggung.


\=\=\=/\=\=/ \=\=\=

__ADS_1


__ADS_2