
"Nampaknya ini tempat yang istimewa untukmu." Gadis itu sedikit tersenyum.
"Iya." Dia menjawab dengan mata masih memandang ke pemandangan yang ada di depannya seakan ingin mengulang kenangan yang pernah dia ingat. Dia hanya menjawab pendek sementara kami memesan minuman yang kami inginkan.
"Aku punya seseorang yang tidak disetujui orang tuaku dulu, tapi aku mungkin masih mengingatnya sekarang."
"Ohh ya dimana dia sekarang."
"Dia sudah menikah, dan dia prajurit sepertimu. Tapi dia memang tidak mempunyai pangkat tinggi atau latar belakang sepertimu. Dia hanya dari keluarga biasa." Ternyata dia pernah punya mantan seorang prajurit.
"Itu mengejutkan. Tak disangka kau punya cerita cinta seperti itu."
"Kenapa? Kau berpikir aku gadis yang melihat list Forbes juga?" Dia tersenyum kecil padaku. "Aku mengenalnya sejak high school jadi dia kupercayai tentu saja. Kami beberapa kali kencan di sini. Satu kali saat ulang tahunku jadi tempat ini istimewa untukku." Dia melanjutkan cerita tentang pria istimewa di hatinya itu.
"Begitu rupanya."
"Aku tahu sulitnya menjadi prajurit, pelatihannya, aku tak akan menghinamu walaupun kau komandan atau kapten."
"Mungkin kau tidak tapi orang tuamu belum tentu bukan." Dia meringis sekarang.
__ADS_1
"Iya, itulah masalahnya." Sementara minuman yang kami pesan sampai ke meja kami. Dia menghabiskan setengah dari gelasnya dengan cepat.
"Apa kau mengemudi sendiri, jangan berencana mabuk." Sekarang aku mengingatkannya. Tapi dia malah menengak setengah gelas sisanya.
"Saat merindukan kaptenku begini, minum paling enak. Jenderal antar aku pulang oke. Aku hanya ingin minum. Apartmentku tak jauh dari sini." Dia menyebutkan sebuah apartment yang aku tahu.
"Baiklah, aku mengantarmu. Tapi kau tetap harus bisa berjalan sendiri ke unitmu. Aku tak akan mengendongmu." Sekarang dia terkekeh sekarang.
"Menolong jangan setengah jalan Jenderal Gillian."
"Tidak bisa kau harus berjalan sendiri." Dia memesan gelas keduanya.
"Ya mungkin kami terpisah jarak, keluarganya mengharapkan dia tetap ada di Kanada, sementara aku sendiri mengharapkan dia bisa pindah ke sini."
"Itu dilema."
"Iya, begitulah."
Sekarang berdasarkan kesamaan kami punya cerita yang hampir sama tisak disetujui keluarga kami bisa mengobrol panjang lebar malam ini. Aku tidak keberatan menghabiskan waktu untuk mengobrol dengannya dan mengantar dia pulang.
__ADS_1
"Terima kasih bersedia mengantarku, aku masih bisa berjalan lurus sekarang."
"Aku meragukannya. Nanti kuantar kau ke atas. Jika kau tidur di selasar apartment akan menbuat berita yang tak perlu." Dia tertawa sambil kami berjalan ke area parkir.
Jalanan cukup lengang karena sudah malam. Kami masih bicara panjang lebar. Tapi kemudian aku menyadari sesuatu, nampaknya aku di ikuti oleh sebuah mobil hitam.
"Kita nampaknya diikuti?"
"Apa? Diikuti?" Kylie langsung menoleh ke belakang kami.
"Pakai seatbelt mu."
Mataku mengawasi mobil yang mengikuti kami di jalanan yang sudah cukup sepi itu. Tapi tepat saat itu sebuah mobil dari samping menabrak kami dengan keras dari sisi pengemudi.
Mobil yang kubawa dilengkapi keamanan yang baik san bisa bertahan dari tabrakan samping. Tapi tabrakan keras itu pasti membuat luka, kepalaku langsung pusing terhantam impact tabrakan, untungnya tidak ditambah hantaman airbag, karena jika di tabrak dari samping air bag tak akan mengembang. Decit ban kemudian mengatakan bahwa mobil itu segera pergi setelah menabrak kami.
Tapi Kylie bahkan belum memakai seat belt tadi? Apakah sempat?! Aku menoleh ke samping segera dengan takut.
"Kylie?!" Tangannya memegang kepalanya yang sudah basah oleh darah! Ini gawat! "Kylie!" Dan dia nampak setengah sadar?!
__ADS_1