
Hari ini aku ingat sesuatu. Besok 28 April, itu hari ulang tahun James. 10 hari setelah ulang tahun kakakku, dia berulang tahun.
Dic*khead berulang tahun dua hari lagi. Jadi aku ke dapur umum menemui kepala koki, melihat apa aku merencanakan sedikit kejutan untuknya.
"John."
"Little Sunshine, apa yang membawamu hari ini ke sini." John yang selalu tersenyum ini memanggilku Little Sunshine, dia bilang aku mengingatkannya pada putrinya.
"Ehm, sebenarnya begini. James berulang tahun besok, bolehkan aku meminta dibuatkan 1 cupcake atau muffin saja untuk merayakannya. Jika tak ada bahan tak apa, aku tahu bahan kue sulit."
"Hanya untuk cupcake tak sulit, itu mudah. Kubuatkan sekitar 100an cupcake kecil oke. Aku menyimpan bahan untuk saat-saat istimewa seperti ini. Kadang aku suka meminta hal-hal manis, dan kadang mereka datang kesini. Sesekali kita perlu dessert manis. Kita bisa menyusunnya seperti kue ulang tahun, untuk merayakan ini."
"Benarkah? Kau punya bahannya." Ini suprise, kami bisa punya cupcake. Kupikir bahannya akan sulit ternyata dia bisa juga mendapatkan supply bahan untuk dessert seperti ini.
"Untuk perayaan di makan malam oke. Lusa malam datanglah ke sini jam 7 untuk mengambil kue ulang tahunnya. Kubantu kalian membawanya nanti."
"Terima kasih John, kau yang terbaik."
__ADS_1
"Apapun untukmu Sunshine." Aku tersenyum senang sekarang. Tak disangka kami bahkan bisa merayakannya bersama. Memang staff medis+ pendukungnya sekitar 100 orang lebih sedikit.
Aku kembali ke pekerjaan. Hari ini katanya ada pengungsi. Pasti ada yang memerlukan perawatan, entah ringan atau berat.
Tom datang kemudian.
"Jen, ada emergency, konvoi membawa wanita yang sedang ingin melahirkan, air ketubannya sudah pecah. Perkiraan mereka sampai mungkin tiga puluh menit lagi."
"Ohh benarkah. Baiklah." Aku langsung menyuruh seseorang mencari Deborah.
"Mengerti Jen. Langsung dorong dia ke wardku saat dia sampai." Dia langsung bersiap menerima pasiennya, sementara yang lain sudah kuberitahu.
Truck militer kali ini berhenti di depan UGD. Pasiennya datang.
"Langsung ke bagian kebidanan." Seorang wanita yang di turunkan mengerang kesakitan. Sementara beberapa keluarga mengikutinya.
"Kau akan baik-baik saja, kita sudah sampai." Seorang pria berkulit hitam yang berwajah panik yang nampaknya suaminya memegang tangannya dengan erat. Mengikuti mereka yang mendorongnya ke ward persalinan.
__ADS_1
"Hanya suami yang boleh masuk. Satu orang."
"Dia bukan suaminya! Aku Ibunya!" Astaga drama keluarga apa lagi ini. Sementara perawat binggung menunggu siapa yang akan masuk. Walau pasiennya sendiri sudah masuk ke kamar bersalin.
"Itu anakku, kau tak bisa memisahkan kami!" Wanita itu keluarganya berkulit putih sementara pria yang nampaknya bapak anak itu berkulit hitam.
"Aku tak pernah mengizinkan kalian!" Mereka masih bertengkar. lni nampaknya cinta tak di restui. Aku mengambil intervensi.
"Nona siapa yang kau inginkan menemanimu melahirkan."
"Aku ingin Dixon disini." Dia langsung menjawab dengan jelas.
"Tuan Dixon ayo masuk." Laki-laki itu dengan cepat masuk sementara aku menutup pintunya.
"Mam, maaf kau harus menunggu di luar dengan tenang." Aku memasukkan pria itu ke kamar bersalin.
"Pria itu bukan suaminya!" aku tak mengerti apa yang terjadi dengan keluarga ini, satu-satunya yang menjadi bahan pertimbanganmu adalah pasien dapat melahirkan dengan aman.
__ADS_1