
Kami masuk ke sebuah ruangan yang sepertinya adalah bagian kantor tempat itu. Aku hanya membawa Anthony, untuk menghindari provokasi. Tim-ku siap di depan jika ada darurat apapun mereka dengan mudah akan menerobos masuk.
Beberapa orang terlihat di sana mulai dari keamanan, beberapa orang yang sepertinya adalah kasir bagian keuangan. Operasional tempat ini sudah mulai, dan Snake ini kurasa adalah manager tempat ini, Billy, entahlah kupikir itu hanya julukannya. Bangsat ini bahkan tak pernah melihatnya.
"Hei Roland, kenapa kau kesini?" Seorang pria berbadan kekar menyapanya. Pandangan matanya menyapu kami.
"Aku membawa teman untuk boss, apa dia disini sekarang."
"Ada diruangannya. Teman untuk boss?"
"Iya." Aku sedikit tersenyum ke orang yang melihatku dengan pandangan menyelidik itu.
Orang itu nampaknya tak curiga. Dia bergerak membuka pintu ke ruangan yang di maksud.
"Boss, ada Roland. Katanya dia membawa teman untukmu?"
"Ohh teman? Masuklah?" Bukankah ini cukup aneh dia tidak curiga sama sekali kenapa Roland yang sedang dalam tugas membawa teman. Kecuali kalau,... dia sudah memperhitungkan aku akan datang.
Kami masuk ke ruangan, seorang pria dengan tubuh padat, berusia mungkin hampir 50 tahun memakai baju t-shirt pas badan berearna hitam, dan ya dengan tato ular melingkar di lengannya, itu sebabnya dia di panggil Snake.
"Roland kau membawa tamu untukku, kejutan, kau baik-baik saja, tidak dihajar?" Benar dugaaanku dia sendiri menungguku. "Selamat malam Tuan Gillian, maaf Anda harus ke sini. Anda murah hati sekali tak menghajar Roland. Mari sihlakan duduk. Anda mau minum apa?"
Aku dan Anthony berpandangan dengan sambutan luar biasa itu.
"Kau rupanya sudah menunggu kami." Aku duduk di depannya.
"Saya berterima kasih atas kesabaran Anda. Roland kau boleh keluar, Tom, bilang ke boss yang dia tunggu sudah datang."
"Boss, yang bernama Billy itu?"
"Ahh iya, beberapa orang tahu nama boss besar adalah Billy, tapi hanya beberapa yang tahu indentitas aslinya. Kau mengenalnya tentu saja." Aku mengenalnya? Well, baiklah kita lihat siapa dia.
"Jadi apa Billy ini yang menyuruh orang mencari gara-gara denganku."
"Ohh bukan, itu klien saya, nanti boss akan memberintahu Anda namanya. Saya tak bisa menolak permintaannya, tapi saya yakin Anda bisa mengatasinya. Saya tinggal melapor bahwa orang saya dihajar oleh orang Anda."
"Klien yang meminta Anda tahu siapa boss Anda?"
"Tidak, dia tidak tahu."
__ADS_1
"Menarik."
"Anda mau minum apa?"
Sekarang aku tinggal menunggu siapa boss misterius ini. Dan tak lama kemudian pintu terbuka, kejutan yang kutemukan bukan pria tapi seorang wanita.
"Jenderal, senang bertemu denganmu." Wanita berambut coklat bergelombang itu tersenyum lebar padaku.
"Kylie?" Yang bernama Billy ini adalah gadis ini. "Kau yang bernama Billy?" Dia tertawa.
"Ohh iya itu julukanku. Kadang ada assisten priaku yang menyamar jadi pemilik. Snake menyebutnya Billy, hanya dia dan assistennya dan para manager klub yang tahu siapa sebenarnya aku. Publikasi menjadi pemilik klub pengamanan yang bisa menyewa tukang pukul tidak baik bagi keluarga, jadi aku menyembunyikannya."
"Astaga? Bagaimana kau bisa punya bisnis hebat seperti ini?" Dia tertawa dengan renyah.
"Aku sedikit banyak bisa berkelahi, walau mungkin tak sehebat kau, aku berani mengadu skor ketepatan menembak denganmu Jenderal."
"Mengagumkan. Tak kusangka seorang wanita dari kalangan tinggi punya bisnis seperti ini."
"Yang menjalankannya sebenarnya Snake, aku hanya menyetorkan modal, dan yang lainnya mereka yang menjalankan, mungkin menyediakan faselitas hukum sekaligus. Jelas bisnis ilegal ini tidak bisa dibanggakan tapi jelas cukup berguna."
"Baiklah, aku ingin tahu sekarang siapa yang ingin mengerjaiku."
"Tentu saja aku punya tebakan. Aku hanya ingin memastikan."
"Snake, kau bisa katakan siapa yang menyuruhmu."
"Tuan Adrian Russel datang padaku beberapa hari yang lalu. Aku tahu siapa kau, jadi aku tahu ini akan berakhir aku dihajar. Aku melapor pada Nona akhirnya, dia mengatakan untuk mengirim orang yang sedikit pengecut. Kami memperhitungkan kau akan kesini akhirnya."
"Kau sudah mendengarnya sendiri sekarang." Dia menoleh ke Snake. "Snake, aku ingin bicara berdua dengan Tuan Gillian."
"Mengerti Boss." Bawahannya itu keluar dan meninggalkan kami bicara berdua.
"Baiklah, apa yang akan kau lakukan sekarang setelah tahu siapa yang mengerjaimu?"
"Apa yang akan kulakukan..." Itu membuatku berpikir. "Kau tahu kenapa dia mengerjaiku, sebenarnya ada hubungannya denganmu." Kylie meringis.
"Kenapa? Kau membuatnya cemburu karena menerima undanganku."
"Tepat."
__ADS_1
"Aku memang sengaja. Karena melihatmu punya masalah dengannya. Jarang orang berani punya masalah dengannya." Dia tertawa sekarang.
"Baiklah jadi kau memasang jebakan untukku." Gadis cantik itu memandangku sambil menyilangkan kaki dan tersenyum padaku.
"Apa masalahmu dengannya. Lagipula aku memang tak keberatan mengundangmu, tapi keberatan jika harus pergi dengannya."
"Tidak cocok itu saja."
"Tidak cocok bagaimana tepatnya." Dia masih penasaran dan mengejarku.
"Aku tak suka caranya menilai orang. Tidak usah dibahas kukira. Anggap saja kami memang tidak cocok, sampai kapanpun aku tak akan mau berada di daftar temannya."
"Nampaknya hal yang serius."
"Ya bagiku dia menyinggungku di hal yang prinsip."
"Kau akan membalasnya?"
"Aku belum menentukan caranya."
Dia mengangguk mengerti. Lalu kemudian melihatku dengan serius.
"Sebenarnya aku ingin minta bantuanmu?" Sekarang ternyata gadis ini punya agenda juga.
"Bantuan macam apa maksudmu."
"Sebenarnya Russel memang salah satu pemegang saham kuat di perusahaan kami, belakangan kakakku yang masih memegang posisi CEO, bertentangan pendapat tentang arah perusahaan dengan beberapa eksekutif yang di pengaruhi oleh keluarga Adrian."
"Hmm... lalu."
"Untuk menyelesaikan perbedaan keluarga Russel memgajukan syarat pernikahan, aku sama sekali tak menyukai ide itu. Aku dan keluargaku berusaha mencari dukungan pemegang saham dalam rapat pemegang saham nanti. Tapi kami sadar cukup sulit." Dia berhenti sebentar. "Jika kau bisa membantu kami, maksudku keluarga Gillian bisa masuk menjadi salah satu pemegang saham dan membantu kami."
"Aku mengerti apa yang kau inginkan. Tapi kau harud punya sesuatu yang di tawarkan." Gadis itu diam sesaat, wajahnya kelihatan binggung.
"Maksudmu kau ingin syarat seperti Russel?" Giliran aku yang binggung.
"Syarat seperti Russel? Maksudmu bagaimana?"
bersambung besok
__ADS_1