
"Kakak, kau mau kencan heh?" Monica yang melihat aku berdandan tersenyum lebar padaku.
"Hmm, apa ini bagus..." aku memakai gaun casual hitam berlengan panjang dengan garis-garis putih tapi dengan rok diatas lutut yang elegan. Aku menyukai warna-warna monokrom seperti ini.
"Bagus, tentu saja. Pilihanmu selalu elegan."
"Kau tahu aku tak yakin dengan ini." Aku duduk di depan Monica dan menghela napas panjang.
"Maksudmu dengan tak yakin?"
"Kurasa aku akan membuat diriku patah hati sendiri akhirnya. Aku menyukainya, tapi bagaimana jika aku mendapatkan aku hanya selingan di kota ini, dia mungkin punya wanita lain di Washington DC. Aku ingin seseorang yang bisa kupegang dan kupercaya juga."
"Yang tampaknya tak mungkin saat sekarang, begitu maksudmu."
"Iya... Kau tahu perasaanku. Aku akan menangis akhirnya."
"Kenapa kau tak tanya saja padanya. Apa dia punya perasaan sama padamu. Apa dia punya wanita lain. Jika tidak masih banyak pria di luar sana Kakak, kehilangan satu laki-laki tidak akan membuatmu mati. Mungkin sedih ... ya tapi sejalan waktu kau akan melupakannya, kecuali dia teramat baik padamu, kau mungkin akan kesulitan melupakannya sepertiku. Aku selalu membandingkan Jason dengan siapapun yang mendekatiku, jika sesuatu tak sesuai dengannya aku menjadi enggan... Padahal mana ada manusia yang sama di dunia ini."
"Begitukah."
"Iya. Menurutku begitu. Jika dia baik dan mencintaimu, berusaha untukmu, mungkin kau harus pindah ke Washington."
__ADS_1
"Dia semalam bertanya mungkin kita bisa membuka perwakilan kantor kita di Washington DC jika kita punya banyak bisnis disana." Aku mendengar itu jadi berpikir dia ingin hubungan yang serius.
"Tanya saja padanya Kakak, mungkin dia punya perasaan yang sama denganmu. Kurasa itu pertanda baik. Tapi untuk memutuskan hal seperti itu kurasa tak bisa cepat bukan. Butuh waktu, nikmati saja hubungan kalian Kakak, jika kau putus cintapun bukan sesuatu yang harus dijadikan akhir segalanya. Yang jelas seseorang yang mendampingi kita harus seperti Papa, punya nilai keluarga yang dia hargai, hormati dan perjuangkan." Aku tersenyum.
"Jikapun putus cinta bukan akhir dunia." Aku mengulang kata itu dan tertawa kecil. "Yahh kau benar juga, nikmati saja rasanya." Hatiku lebih ringan mendengarkan kata-kata adikku. Walaupun aku lebih tua darinya jelas dia lebih punya banyak pengalaman dariku.
Ponselku berbunyi kemudian. Pesan bahwa Gilbert sudah di lobby.
"Aku pergi."
"Bersenang-senanglah."
"Sana pergi, jangan membuatku iri denganmu."
Aku melambai padanya dan turun ke bawah. Nikmati saja kata Monica. Hatiku jadi ringan kembali. Aku turun dengan senyum di bibir.
Melihatnya kembali membuat kulitku digelitiki sayap kupu-kupu.
"Malam, kau terlihat mengagumkan wonder woman." Panggilan kesayangannya itu, aku tersenyum padanya.
"Aku tak tahu kau tukang merayu Jenderal."
__ADS_1
"Aku memuji, bukan merayu." Aku mendekat padanya, menaruh tanganku di dadanya merasakan jantungnya, memandang matanya mencari kejujurannya.
"Perkataanmu itu perlu banyak verifikasi Jenderal." Dia tersenyum kecil.
"Aku tak tahu bagaimana mengatakannya, tapi aku jelas senang melihatmu hari ini."
Aku sekarang berbalik darinya, berjalan ke depan. Dia menyusulku dengan cepat menggengam tanganku.
"Makan malam dimana." Aku sampai di mobilnya dan memakai seat beltku.
"Di restoran hotelku." Aku tertawa, dasar tak mau rugi. Tapi baiklah itu restoran fine dining hotel bintang lima, aku masih memaafkannya.
"Sangat efisien." Itu sindiran.
"Mobilisasi menghabiskan waktu tak perlu. Waktu sangat berguna bagi kita. Kau setuju wonder woman."
"Aku ..." Dan sekarang sebuah ciu*man menyasarku, lengannya mengurungku dengan posesif. Aku menyerah begitu saja dalam dekapannya.
"Aku merindukanmu. Kenapa semalam kau tak bersamaku saja."
"Aku hanya lelah. Maaf. Dan belum apa-apa kau sudah merusak dandananku." Semalam aku memikirkan terlalu banyak hal, yang seharusnya tak usah kupikirkan.
__ADS_1