BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 99. Acceptance 3


__ADS_3

Albert menatapku yang mengharap jawabannya dengan senyum misteriusnya.


"Jika dia ingin membuktikan sesuatu lebih baik beri dia kesempatan untuk membuktikannya, bukankah lebih baik begitu." Aku meringis lebar sekarang dengan jawaban diplomatisnya.


"Dasar pengambil keuntungan nomor wahid." Albert tertawa saat aku mencibirnya untuk jawaban tidak jelasnya itu.


"Hei, seorang laki-laki memang harus membuktikan sesuatu, itu akan jadi motivasinya nanti, mempermudah pekerjaanmu juga jika kau memang ingin pindah ke sana." Akhirnya dia tidak menentang ide kepindahanku lagi.


"Terima kasih Albert." Bagaimanapun aku harus mengucapkan terima kasih setidaknya dia bersedia memberi izin walau masih menunggu laporan akhir tahun seperti yang aku janjikan.


"Aku belum memberi izin, dia harus bicara padaku nanti. Lagipula kau perlu jadi mentor Monica dulu sebelum meninggalkan Canada." Aku tetep tersenyum lebar, dengan 50% setuju saja aku sudah senang.


"Bagaimana laporan tengah semesternya, apa menurutmu itu bagus."


"Ya cukup bagus. Penilaian akhirnya nanti akhir tahun... Sekarang aku belum akan mengatakan apapun." Dia masih memasang harga untuk persetujuannya. Aku tak punya masalah dengan itu.


"Aku akan mengatakan padanya untuk bekerja keras untuk membuatmu terkesan. Tapi kau sudah berkenalan dengannya, apa kau berpikir dia pria yang baik." Aku sedikit mengorek.

__ADS_1


"Baiklah, nampaknya dia orang yang bisa dipercaya. Sebenarnya aku tak punya kesan buruk padanya. Tapi jika dia menyakitimu, tinggal saja hajar saja dia dan pulanglah, aku dan keluarga kita akan mendukungmu di sini. Kau selalu punya kita sepanjang hidupmu, dan aku senang kau tetap menghargai pendapat Ibu dan aku. Karena sebenarnya kami juga ingin kau berbahagia." Aku terharu Albert berkata begitu, setelah kami berselisih sebelumnya.


"Apa yang kupunya selain kalian, kau tahu aku akan melakukan apapun untuk keluarga kita."


Semoga ini akhirnya berjalan lancar sampai enam bulan ke depan.


\=\=\=\=


Enam bulan kemudian...


"Kenapa kau?"


"Bangsat Alexie itu, kenapa dia selalu muncul di semua tempat." Sekarang dia yang langsung mengeluh dan menghenyakkan dirinya di kursi.


"Alexie itu masih beredar di sekelilingmu? Bukankah kau tak pernah memperhatikannya. Dia masih menganggumu? Apa aku perlu turun tangan bicara dengannya menyuruhnya menjauh darimu."


"Tidak, dia sebenarnya tidak menganggu. Hanya kadang aku yang sebal dia selalu mengajakku bertengkar."

__ADS_1


"Mengajakmu bertengkar?"


"Bangsat itu selalu membuatku kesal. Aku tak tahu kenapa setiap melihatnya darahku naik. Jika aku tiap hari melihatnya kurasa aku bisa kena serangan jantung." Aku tersenyum mendengarnya.


"Jika kau tiap hari melihatnya kurasa kau akan merindukannya."


"Merindukannya, kau bercanda."


"Baiklah, besok akan kuhajar dia jadi dia tak muncul di depanmu lagi." Aku tak serius dengan perkataanku tentu saja.


"Tidak boleh. Dia donatur partai, Paman David akan menegurmu jika dia terluka. Playboy menyebalkan itu tidak perlu di tanggapi, hanya aku sebal dia senang sekali berada di dekatku." Dia berkata dia kesal tapi kemudian dia melamun dan tersenyum sendiri, aku memperhatikannya, nampaknya entah bagaimana dia menyukai perhatian yang menggangu itu.


"Kenapa kau senyum-senyum sendiri sekarang."


"Hah? Tidak, hanya teringat kelakuan konyolnya."


"Nampaknya kau teringat juga padanya. Kau benci tapi merindukannya? Jangan goyah mengejar Andrew. Tapi hebat juga ban*gsat Alexie itu, dia masih setia menggodamu. Mungkin kau bisa memberinya sedikit harapan, nampaknya dia tak serendah itu." Aku menertawakan Monica.

__ADS_1


__ADS_2