
"Baguslah, kupikir kalian tidak punya persiapan sama sekali. Montreal memang kota yang tidak terpengaruh oleh infected, walaupun tetap saja kegiatan ekonominya melambat saat infected melanda, tapi sekarang sudah pulih sepenuhnya. Mungkin kalian akan punya kesempatan di sana." Eliza memberi harapan. Nampaknya dia terkesan dengan keputusan berani Laura.
Kejutan menang, seorang Laura berani mengambil keputusan keluar dari hidup nyamannya.
Atau mungkin dia belum tahu tantangan hidup sendiri. Mungkin dia akan kembali ke orang tuanya karena tak tahan dengan hidup sederhana. Tapi seperti yang dia bilang aku tak mengenalnya.
"Itu terserah kalian. Tapi yang jelas aku tidak ingin menanggung kemarahan Ayahmu, jika kalian ingin mengadu nasib ke Kanada, kalian harus pergi dulu ke sana. Menempatkan kalian sendiri di sana, tapi kau Laura, kuingatkan kau semua bukan hal mudah. Tapi ya bagus jika kau berani menjalankannya."
"Aku akan menjalankannya. Aku sudah muak dengan hidupku selama ini."
"Ini kartu namaku, setelah kalian pindah ke sana kalian bisa menghubungiku." Eliza bersedia membantu mereka.
"Kau tak memberitahu Ayahmu kemana kau pergi." Giliranku bertanya ke Laura.
"Dia tahu aku pergi dengan siapa, tapi aku hanya memberitahu Ibuku kemana aku pergi." Ternyata begitu.
__ADS_1
"Ya baiklah, kalau begitu semoga kalian baik-baik saja nanti."
Aku melihat kepergian mereka dengan berbagai macam pikiran di kepalaku.
"Mengejutkan bukan, Tuan Putri berani membuang semuanya untuk hidup sederhana." Aku mengatakan sesuatu yang ada di pikiranku.
"Iya itu mengejutkan, tapi itu bukan hal yang buruk. Ayo kita makan aku sudah lapar."
Sang Putri pergi mengadu nasib ke Kanada. Apa dia akan berhasil, itu bergantung pada tekadnya.
Eliza sudah kembali ke Kanada, Laura juga ke Kanada seperti yang dia bilang, Ibunya setidaknya tahu dia kemana, Ayahnya juga seharusnya tahu walau sama sekali tak mengizinkannya pergi. Yang penting aku tak punya masalah dengan keluarganya karena membantunya secara langsung. Kuanggap masalah Laura dan percobaan perjodohan kami sudah selesai.
Sekarang aku berada di sebuah makan siang dengan beberapa investor besar yang bersedia bergabung dengan proyek toko retail kami.
"Tuan Gillian, aku rasa aku melihat orang lain, tapi ternyata benar itu kau." Aku menoleh untuk melihat siapa yang menyapaku.
__ADS_1
"Rachelle, senang bertemu denganmu." Rachelle, adik Andrew yang menyapa kami .
"Rupanya Nona juga ada di sini. Apa kabar Nona Rachelle." Selama ini Rachelle tak pernah menelepon atau mengangguku. Jikapun ada dia hanya bicara soal pekerjaan. Kurasa dia tidak ditugaskan menjadi semacam penggoda untukku, setidaknya sampai sekarang kecurigaanku tak terbukti.
"Oh ya, banyak orang-orang dan peluang baru yang bisa kutemui di sini, ini Nona Kylie Warner. Ini Gilbert Gillian atase perdagangan khusus untuk Kanada." Keluarga Warner, yang ini keluarga Top 5. Walau di hantam krisis mereka masih punya banyak sumber daya yang bisa menjadikan mereka tetap jaya. Rachelle ini tahu memilih lingkungannya.
"Nona Warner, senang bertemu denganmu." aku menyalaminya dulu.
"Tuan Gillian, saya pernah bertemu kakak Anda beberapa kali di Kanada. Rupanya ada Gillian yang lain menjadi atase perdagangan , saya pernah melihat Anda hanya belum sempat berkenalan dengan Anda."
"Ahh iya, Kakak saya juga pernah menyebutkan tentang Anda juga Nona Warner." Gadis cantik berwajah oval dan berambut coklat itu tersenyum padaku.
"Anda memiliki wajah yang cukup berbeda dari Kakak Anda. Waktu pertama melihat Anda saya tidak berpikir Anda punya hubungan dengan keluarga Gillan." Kylie menambahkan.
"Mungkin perbedaan pewarisan gen ayah dan Ibu." Aku lebih memiliki ciri-ciri Ayah, itu jelas dan itu membuat banyak gadis tersenyum.
__ADS_1