BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 22. Needs Help


__ADS_3

Gilbert menyusulku ke meja kasir. Sementara para pengawalnya membantu Tuannya yang sudah terkapar. Tampaknya mereka tak membawa senjata. Jika tidak mereka sudah pasti mengancamku dengan senjata mereka.


Gilbert menatapku, aku menatapnya balik.


"Aku tahu aku merusak makan malamku sendiri. Maaf."


"Tak apa, kau sudah pua*s?" Aku melihat ban*gsat yang masih meringkuk kesakitan di lantai dan tak bisa bangun itu.


"Sudah." Dia malah meringis lebar.


"Bagus. Dendam memang harus di balaskan."


"Kau menyindirku bukan."


"Tidak. Aku mengagumimu , mana mungkin aku menyindirmu." Aku melihatnya dengan sangsi. Tapi kemudian ingat bahwa dia menghalangi dua pengawal itu, dia memang mendukungku berkelahi.


"Terima kasih atas bantuanmu."


"Kembali." Senyumnya membuat amarahku mereda.


Manager itu mencharge hampir 10x lipat bill-ku karena aku membuat keributan. Aku membayarnya tanpa banyak omong. Yang penting gigi bangsat Da*ve Thomas itu patah.

__ADS_1


"Kau mau makan lagi? Kali ini aku yang bayar, tadi makan malam yang sangat mahal." Dia masih menggodaku saat kami sampai ke mobil.


"Setidaknya kita sudah menghabiskan main course." Aku tersenyum akhirnya. "Apa kau masih lapar."


"Tanganmu sakit?" Dia mengambil buku jariku, aku sedikit terperanjat, iya tentu saja itu memerah. Akan sakit tapi meminum pereda sakit akan menolong banyak nanti.


"Tak apa hanya perlu pereda nyeri."


Dia membuka laci dashboard mobil, mengambil sebuah kotak di tangannya.


"Ini ambil dan obat oles untuk buku jarimu, mungkin nanti kau lebih baik mengompresnya." Dia ternyata membawa obat di mobil itu. Mungkin semacam standart di mobil dinas militer mereka ada obat-obatan darurat.


"Terima kasih." Aku menjadi malu, dia pasti melihatku sebagai gadis bar-bar yang hanya menuruti emosi. Tapi aku tak menyesali apapun. Jika sekali lagi aku di tempatkan di sana aku akan melakukan hal yang sama.


"Kurasa kau tak begitu perduli dengan anggapan orang lain." Aku perduli dengan anggapannya tentu saja.


"Aku memang tak perduli, bangsat itu berani menjebak adikku menjadi kelinci percobaan. Jelas aku akan menghajarnya habis-habisan."


"Kau menjaga keluargamu, tidak ada yang salah dengan itu. Tak usah memikirkan pendapat orang lain, kau melakukan hal yang benar." Dia sekarang menyemangatiku.


"Besok kau akan kembali ke Washington DC?" Aku jadi ingat mungkin kami tak akan berjumpa lagi nanti.

__ADS_1


"Iya. Besok aku akan kembali. Kau masih perlu bantuan?"


"Tidak, apa kau dipukul oleh pengawal-pengawal itu. Kau tidak terluka bukan." Aku tidak memperhatikan tapi tadi dia melawan dua orang.


"Tidak. Mereka tak dapat memukulku, tenang saja. Buku jarimu itu akan bengkak nampaknya besok, kau harus mengompresnya nanti dan membalutkan perban setelah kau mengoleskan obatnya."


"Iya."


Sekarang pikiranku bermain. Besok dia tidak akan ada di sini lagi. Mungkin entah kapan kami bisa bertemu lagi. Bolehkah... aku mendapatkan sesuatu...


"Kau besok tak ada di sini lagi..."


"Kau masih perlu bantuan?"


Bantuan? Aku mengambil keputusan sekarang.


"Boleh minta bantu memasangkan perbannya. Aku gak yakin bisa melakukannya dengan benar, kedua tanganku sakit." Apa aku terlalu berani? Mungkin dia tidak akan mengingatku lagi setelah ini, mungkin kami tak akan pernah bertemu lagi.


Tapi seperti kataku. Tidak dibutuhkan apapun jika kedua orang saling menyukai. Apa die menyukaiku?


"Memasang perban..."

__ADS_1


"Naiklah sebentar?" Aku memandangnya lurus di matanya.


------bersambung besok


__ADS_2