
Semalam Monica baik-baik saja. Aku pagi ini sudah berkirim pesan padanya, mengecek keadaannya. Semuanya baik-baik saja. Dia bilang meraka akan ke marina sekitar jam 3, sebelum jam 5 dia sudah kembali ke hotel, aku selesai sekitar jam 7 kurasa. Paling malam jam 8 jika aku harus terlibat ke makan malam.
Menjelang sore, aku mengirimkan pesan padanya. Jam 3 harusnya dia sudah turun di marina.
"Harrold, apa kau sudah menjemput Nona." Aku menelepon sopir perusahaan dan sekaligus pengawal yang bertugas bersama kami.
"Sudah Nona, aku sudah dalam perjalanan ke hotel. Nona Monica sudah bersamaku."
"Ohh baiklah." Semua beres, ternyata. Aku tak perlu khawatir lagi, dia dalam perjalanan pulang ke rumah.
Aku hanya melakukan beberapa pertemuan lanjutan dengan beberapa orang yang diminta oleh Paman Davis. Kami sudah tanda tangan kesepakatan. Tugasku sudah selesai.
Menjelang malam, kami sudah masuk ke jamuan akhir. Semua delegasi akan kembali besok .
"Kau nampaknya sibuk hari ini?" Jenderal Gillian yang tampan ini menyapaku.
"Ohh, Tuan Gillian, aku memang harus bicara ke beberapa orang hari terakhir ini." Senang melihatnya lagi. Entah kapan kami akan bertemu lagi.
"Kau bisa panggil saja Gilbert, tak perlu terlalu formal denganku."
__ADS_1
"Ohh baiklah. Aku tak ingin tak ingin bersikap tak sopan padamu."
"Seingatku kau tak terlalu sopan saat kita pertama bertemu." Aku tertawa dengan sindirannya.
"Nampaknya itu memberi kesan yang buruk." Aku sadar walaupun aku menyukai Jenderal ini, kurasa hubungan kami tak mungkin, kami berada di negara yang berbeda. Mungkin yang bisa kulakukan hanya mengaguminya seperti ini.
"Tidak, hanya aku yang masih teringat."
"Aku minta maaf, tindakanku memang tak pantas, sampai kapanpun itu akan jadi kejadian yang membuatku tak punya muka didepanmu."
"Kita tak usah bicarakan itu lagi."
"Aku tak tahu. Tapi karena sekarang aku setengahnya sudah mengurusi hubungan perdagangan dengan Kanada, aku pasti akan ke sana. Aku akan meneleponmu." Aku senang mendapat janjinya.
Ponselku berbunyi kemudian. Albert meneleponku. Ada apa dia meneleponku.
"Albert, ada apa?" Aku mengangkatnya
"Monica dimana, Mom bilang dia tidak bisa meneleponnya."
__ADS_1
"Kurasa dia sudah di hotel, Harrold sudah menjemputnya tadi sore. Aku sudah mengeceknya. Atau mungkin dia hanya tertidur, dia pergi berlayar semalam dengan temannya."
"Ponselnya Monica sama sekali mati, Harrold juga ponselnya mati. Aku menghubungi ke hotelmu mereka bilang tak ada jawaban dari telepon kamar artinya mereka tidak ada di sana."
"Bagaimana mungkin ponsel Harrold bisa mati..." Ada yang tak beres jika ponsel Harrold mati. "Kau sudah mengecek GPS mobil?"
"Baru saja aku melakukannya. Bahkan aku tak bisa melacak GPS mobil kalian. Aku sudah menelepon Charles, dia sedang melacak posisi terakhir yang bisa dia dapatkan."
"Si*al." Apa yang sebenarnya terjadi. "Aku akan menghubungi seseorang. Akan kuurus." Aku langsung memutuskan hubungan telepon dengan dada berdebar khawatir.
"Ada apa?! Kau kelihatan sangat khawatir."
"Adikku hilang bersama pengawalnya."
"Hilang? Bagaimana bisa hilang?!" Gilbert bertanya sambil mengikutiku, di kepalaku sudah berbagai skenario melintas.
"Aku tak tahu kakakku menelepon barusan, dia tak berhasil melacak ponsel bahkan GPS mobil, aku terakhir mengeceknya 3 jam yang lalu dia berada dalam perjalanan kembali hotel." Aku langsung berjalan keluar ruangan jamuan.
Aku mencoba menghubungi ponsel Eliza dan Harrold, benar tak ada jawaban sama sekali. Jantungku berdebar dengan khawatir. Ada apa ini.
__ADS_1
\=\=\=\=