
Lady Maslenitsa di sebuah pusat perbelanjaan itu ramai oleh orang di sekitarnya. Boneka yang terbuat dari jerami dan baju bekas itu adalah simbol untuk membakar dan meninggalkan semua ketidakberuntungan di tahun sebelumnya. Dan di akhir Maslenitsa ini akan dibakar.
Ada penjual blini, pertunjukan tari, orang yang menari dan musik di sampingnya. Meriah dan ramai dengan semua orang berkumpul.
Semuanya ramai di sini, tapi aku berjalan sendiri dalam tumpukan salju, Moskow masih dibawah beku di minggu terakhir February ini, dengan salju masih menunpuk. Udara masih berada dibawah minus 3°-10°C saat ini, tapi keramaian tetap berkumpul disini.
"Seharusnya kau ikut kesini." Sayang Monica tidak kesini, aku mengirimkan foto dan video untuknya. Dia menanggapi dengan telepon penasaran saat aku memperlihatkan padanya.
"Nanti aku akan ikut, tahun ini nampaknya semua masih kacau bukan."
"Iya kalaupun kau ikut akan sulit kali ini."
"Kau sendiri?" Dia bertanya dengan prihatin.
"Iya."
"Jika di pikir kau di rumah itu tak punya orang yang kau bisa kau anggap sepenuhnya keluarga selain Ayahmu."
"Iya kau benar. Penyihir tua itu menganggapku musuhnya tentu saja. Aku kesini hanya untuk bertemu Ayah dan Bibi setiap tahun. Jika tak ada keperluan aku menjauh dari rumah."
"Itu agak menyedihkan." Aku tertawa miris.
__ADS_1
"Kurasa saat ini aku sudah lama berdamai dengan keadaan itu."
"Apa kau senang hidup di Kanada?"
"Menyenangkan, ada lingkaran sahabat di sini. Kadang Bibi mengunjungiku jika dia ke US, suaminya punya bisnis di US, jadi yah aku sudah menganggap tempatku di sini. Dan sekarang ada kau di sana. Tapi tetap saja Moskow adalah kota kelahiran, kau tak mungkin melupakan akarmu sendiri."
Tak lama berjalan dalam kesendirian, rasanya aku sudah ingin cepat-cepat kembali ke Montreal. Tapi untuk saat ini telepon dengan Svetluny cukup membuatku merasa lebih baik.
Sebuah telepon masuk kemudian, dari Sergie. Apa yang diinginkannya.
"Boleh aku bicara denganmu?"
"Tentu." Dia mengajak bertemu di sebuah restoran yang tidak jauh dari tempatku berada dan aku mengiyakannya. Kita lihat apa yang diinginkan oleh anak kesayangan ini.
"Ada apa kau ingin bicara padaku?" Aku duduk di depannya dan mulai tanpa basa-basi.
"Ya bisa dikatakan begitu, kenapa memangnya?"
"Jadi kau punya kapitalisasi besar untuk ini. Pemerintah menanggung biaya semua proyeknya?"
"Tidak, hanya 50%, tentu saja kapitalisasinya cukup besar, tapi yang penting itu harus berproduksi segera. Masih banyak yang membutuhkan obatnya dan kami menjual dengan harga bersaing."
"Jadi rupanya apapun yang kulakukan kau tetap menang?"
"Tidak juga, seperti kata Ayah itu masih tiga tahun lagi, aku juga harus memulihkan banyak hal di US yang menjadi kegagalanku. Tak ada yang menang sekarang."
__ADS_1
"Kau hanya menghiburku dan memasang umpan makanan di mataku, menyuruhku berlari di belakang ekormu dan menertawakanku di belakang. Kau cukup tercela..."
"Terserah padamu untuk percaya atau tidak bukan urusanku. Jadi kenapa kau ingin bicara di sini, jangan membuang waktuku."
"Bagaimana jika kita membuat kesepakatan."
"Kesepakatan macam apa yang kau inginkan?" Sekarang aku tertarik mendengar penawarannya.
"Aku akan membiarkanmu menang di kantor pusat, tapi kau tidak bisa menganggu urusanku di Eropa dan tidak menganggu syarat kredit lunak ke keluarga Ibu." Aku langsung tertawa.
"Pusat berhak mengurus perusahaan manapun yang menjadi cabangnya. Darimana kau memperoleh ide itu. Perjanjian tetap perjanjian, kudengar jumlah yang keluarga Jovovich pinjam mengharuskan mereka melakukan pengembalian bertahap 15 tahun. Kau berpikir aku akan merelakan keterlambatan pembayaran dan merelakannya? Kau bermimpi." Aku meringis, adikku ini mengecewakan, belum apa-apa dia sudah melambaikan bendera putih.
"Jika perjanjian ini disepakati, kami tak akan menggangumu lagi. Semua orang bisa hidup tenang mengurusi urusannya masing-masing. Jika ini berlanjut kami akan menjadi duri dalam daging seumur hidupmu." Ternyata dia bisa mengancam juga. Nampaknya Ibu dan anak sama saja.
"Aku telah mengalah seumur hidupku Sergie, kali ini aku akan menang dengan adil. Jika kau mempersulit hidupku maka sebaliknya aku juga akan mempersulit hidup kalian."
"Tak ada gunanya keras kepala. Apa posisi utama di Moskow kurang memuaskanmu?"
"Aku sudah memenangkannya dengan tanganku sendiri, sekarang kau melanggar aturan di depanku, kau berpikir itu adalah hal yang bisa di terima? Kenapa kau meminta hal yang tidak logis padaku. Kau pikir ini dirumah tempat dimana kau bisa mendapatkan semuanya?"
"Aku hanya mencoba bernegosiasi."
"Dan aku menganggapmu tak masuk akal. Itu saja, kau punya sesuatu untuk dikatakan lagi?"
"Tidak."
__ADS_1
"Kalau begitu kita selesai di sini." Aku meninggalkannya sekarang. Kita lihat apa yang akan dilakukannya lagi.