BATTLEFIELD OF LOVE

BATTLEFIELD OF LOVE
Part 20. Intimidation 2


__ADS_3

"Kau cuma calon, aku pastikan Sergie akan menang. Dan jika kau berani menghalangi jalannya, kau akan tahu sampai titik mana aku bisa bertindak. Jangan berpikir aku akan diam saja." Dia mengancam sambil menunjuk wajahku.


Beginilah kelakuan ular ini. Di depan Ayah dan orang lain dia berlagak dia adalah Ibu yang baik yang menyayangi semua anaknya termasuk anak tirinya, tapi didepanku dia akan membuka wajah aslinya. Menunjukku tepat dimukaku dan mengancam terang-terangan.


"Kau tak bisa membiarkan anakmu kalah dengan terhormat? Kami bersaing secara sehat, bersadarkan perkembangan perusahaan tak bisa kau biarkan saja tanpa intervensi? Jika aku maju ke pimpinan apa kau mau membunuhku?"


Dia langsung memicingkan matanya.


"Kau jangan terlalu sombong. Kuberikan kau waktu untuk berpikir dengan baik sekarang. Kau mundur dan mengalah, kau dapat hidup tenang di US atau kau berani menentangku dan keluargaku. Aku jamin hidupmu tak akan tenang. Aku tak akan pernah rela kau melangkahiku. Tak usah berdarah panas dan menjawabku sekarang, pikirkan baik-baik apa yang akan kau jawab."


"Jawabanku tetap sama. Aku akan berusaha sebaik mungkin mengalahkan Sergie secara jujur. Kurasa sudah cukup 20 tahun kau mengusirku pergi dari tanah kelahiranku, kali ini aku tak akan mengalah lagi."


"Kau memang sangat berani."


"Nyonya Margarita, kau melindungi anakmu seperti porselen Cina, kau bahkan takut anakmu kalah dariku yang cuma punya 17% valuasi, dari umur 13 tahun kau memperlakukanku sebagai orang buangan, apa kau belum cukup bertindak?"


"Kau berani maku, kalau begitu kau bersiap-siaplah untuk menghadapi banyak masalah yang akan datang padamu." Aku tertawa dengan kata-katanya.


"Kalau begitu aku menunggu bagaimana masalaj yang akan kau bawa."


"Tunggu saja, akan kubuat kau menyesal." Dengan itu dia berbalik pergi.

__ADS_1


Dia meninggalkanku setelah mengatakan itu. Tak ada yang bisa kukatakan. Aku sendiri harus bersiap-siap dengan ancamannya. Seperti katanya dia tak akan rela jika aku mengalahkan anaknya.


\=\=\=\=


"Ular itu mengancammu?" Bibi Irina bicara padaku sebelum kami pulang ke negara masing-masing. Ular adalah julukan yang diberikan Bibi padanya, aku lebih senang memanggilnya nenek sihir.


"Bagaimana menurutmu?" Aku meringis geli tak menyelesaikan kalimatku malah mengantinya dengan pertanyaan.


"Apa yang dia katakan padamu?"


"Dia bilang aku tak akan hidup tenang jika berani melawannya. Tapi aku tak mengatakan apapun soal ancamannya itu." Kuceritakan pertemuan kami di lorong hotel dan bagaimana dia mengancamku.


"Ayah mengatakan seperti itu? Dia sudah mengantisipasi hal ini?" Bibi tersenyum .


"Tentu saja, dulu dia buta, sekarang dia sudah terbuka matanya siapa istrinya itu." Jadi begitu, nampaknya perubahan sikap Ayah lebih perduli padaku selama lima atau enam tahun terakhir karena akhirnya dia melihat siapa istrinya di balik sikap baiknya yang selalu sempurna itu. Mungkin Bibi juga yang akhirnya bisa menyadarkannya.


"Baiklah jika begitu aku bisa bekerja dengan tenang kurasa." Akhirnya ada titik di mana aku merasa Ayah membelaku dari istrinya.


"Benar, kau hanya perlu hati-hati. Aku pikir Ayahmu ingin memberi kesempatan kepada Sergie juga untuk berbuat yang terbaik. Ayahmu adil kepada anaknya. Tapi wanita itu memang selalu jadi ular yang mengacaukan segalanya demi kepentingannya sendiri."


Aku pamit dengan mendengar pesan untuk berhati-hati dari Bibi. Tiba-tiba aku ingat ada satu lagi penggangu yang disiapkan untukku. Shasha. Dia akan muncul di penerbangan sore ini.

__ADS_1


"Anna, ada gadis bernama Shasha yang dikirim untuk mendekatiku. Dia keponakan Margarita. Kau boleh pamer dirimu padanya." Anna langsung ku briefing sebelum kami menuju bandara.


"Ohh begitu. Apa dia cantik." Dia langsung memetakan lawannya.


"Model, setipis kertas, yah manis, tapi kau tetap menang telak." Anna meringis lebar aku menganggapnya masih menang.


"Kau manis kadang-kadang Boss. Apa gajiku naik banyak tahun ini." Aku tak tahu apa hubungan pembicaraan kami dengan naik gaji.


"Sejak kapan pembicaraan ini jadi negosiasi gaji." Dia tertawa.


"Dasar pelit. Sudah lama aku tak menghadapi wanita penganggu. Tenang saja akan kuperlihatkan kelasku." Gantian aku meringis.


"Memangnya apa kelasmu?"


"Level malaikat bulan." Aku langsung tertawa mendengar jawabannya.


"Tidak ada seseorang pun yang bisa mengantikan malaikat bulan yang itu. Maaf kalau yang itu kau kalah. Tapi jika kau mau mendengar pujian kau tetap lebih sexy dari malaikat bulan."


"Boss, nampaknya aku tercela di matamu. Apa ada tanduk di kepalaku?"


"Dengan cara yang bagus. Kau malaikat pembelaku tapi berwarna hitam." Aku meringis sendiri dengan perumpamaan itu. Tapi Anna malah tertawa puas.

__ADS_1


__ADS_2